LIVE
BTC· ETH· BNB· SOL· XRP· ADA· DOGE· USD/IDR· EUR/USD· USD/JPY· USD/SGD·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

Sinyal Rotasi Global: Waktunya Akumulasi BBCA dan TINS?

Rotasi global dari sektor kecerdasan buatan (AI) menuju value stocks mulai menunjukkan taringnya. Koreksi pada saham-saham teknologi AS akibat kekhawatiran intensitas capex dan konversi free cash flow mendorong modal beralih ke sektor ekonomi riil. Dengan melemahnya US Dollar Index (DXY) ke level 100, pasar berkembang dengan paparan AI yang minim seperti Indonesia berpotensi menjadi penerima manfaat utama.

Di dalam negeri, rilis laporan keuangan 1H26 menunjukkan resiliensi yang solid. Dari emiten yang sudah melaporkan kinerja, agregat pendapatan dan laba bersih (NPAT) berhasil mencapai 50% dari konsensus tahunan, masing-masing tumbuh +10% dan +6% YoY. Jika kita mengeluarkan sektor komoditas, teknologi, dan konglomerasi, pertumbuhan NPAT inti bahkan melonjak hingga +13% YoY. Ini menandakan bahwa kualitas fundamental emiten domestik jauh lebih kuat daripada yang terlihat di permukaan.

Menariknya, peta kinerja emiten kali ini sangat dipengaruhi oleh arah kebijakan pemerintah. Sektor perunggasan seperti CPIN dan produk susu seperti ULTJ mencatatkan kinerja kuat berkat katalis program Makan Bergizi Gratis (MBG). Di sisi lain, penertiban aktivitas ilegal turut mendorong turnaround laba bersih pada emiten timah seperti TINS. Sebaliknya, emiten properti seperti BSDE masih tertekan akibat penundaan serah terima proyek dan kenaikan beban utang.

Meski pasar sempat dikejutkan oleh mundurnya Gubernur Bank Indonesia di pertengahan pekan, IHSG tetap mampu ditutup menguat tipis +0.6% WoW. Likuiditas domestik yang ditopang oleh mulai melandainya lelang SRBI diharapkan dapat mengalir kembali ke aset berisiko dalam beberapa bulan ke depan.

Secara taktis, penurunan DXY yang belum sepenuhnya terefleksi pada harga komoditas logam membuka peluang catch-up trade yang menarik. Beberapa saham yang patut dicermati meliputi:

  • TINS: Pilihan termurah di sektor logam dengan valuasi 5.3x FY26 P/E, didukung oleh ketatnya suplai global.
  • ADMR & AMMN: Menawarkan eksposur langsung pada komoditas aluminium dan tembaga yang mengalami defisit struktural.
  • BBCA: Pilihan utama di sektor perbankan dengan valuasi yang cukup terdepresiasi (~ -2σ P/E), menjadikannya target utama saat aliran dana asing kembali masuk secara masif.