SPR AS tinggal 42% kapasitas. Pengisian kembali cadangan minyak strategis berpotensi jadi tekanan inflasi besar di 2027 — dan pasar obligasi sudah mulai pricing ini.
Cadangan minyak strategis AS (Strategic Petroleum Reserve) kini berada di level terendah sejak Januari 1983 — hanya 298,7 juta barel, atau 42% dari kapasitas resmi 714 juta barel. Sejak konflik dengan Iran dimulai akhir Februari, pemerintah AS telah menarik 117 juta barel dari SPR dengan laju sekitar 1 juta barel per hari selama empat bulan penuh.
Angka ini perlu dibaca dengan hati-hati. Sebagian besar penarikan bukan penjualan langsung ke pasar, melainkan exchange deals — kilang-kilang (refiners) meminjam minyak dari DOE dan wajib mengembalikannya secara fisik di masa mendatang, plus premi natura hingga 28%. Artinya, pinjam 1 barel hari ini berarti mengembalikan sekitar 1,25 barel nanti. Kewajiban fisik ini belum hilang dari sistem; ia hanya tertunda.
Harga Brent sudah turun dari kisaran di atas $110 pada Mei ke $88 sekarang — sebagian berkat injeksi SPR yang meredam supply shock dari potensi gangguan di Selat Hormuz. Jalur ini mengalirkan minyak dari Teluk Persia melewati Iran, Arab Saudi, UAE, dan Oman, dan gangguan di sana bisa langsung memukul pasokan global. SPR berperan sebagai shock absorber.
Tapi shock absorber itu sekarang hampir habis. Batas minimum wajib menurut undang-undang adalah 252 juta barel — hanya sekitar 47 juta barel lagi dari level saat ini. Ruang manuver makin sempit.
Yang menarik justru reaksi pasar obligasi. Yield US Treasury tenor 10 tahun menyentuh 4,65%, tertinggi sejak Mei, sementara tenor pendek (front end of the curve) hampir tidak bergerak. Divergensi ini bukan sekadar noise — ini adalah pasar yang mulai pricing in skenario inflasi jangka menengah dari proses pengisian ulang SPR yang harus terjadi di 2027.
Logikanya sederhana: ketika konflik mereda dan pemerintah mulai membeli kembali minyak untuk mengisi SPR, permintaan fisik tambahan itu akan masuk ke pasar pada saat yang sama dengan kewajiban pengembalian dari exchange deals. Tekanan beli berlapis ini, di tengah pasokan yang mungkin belum sepenuhnya pulih, berpotensi mendorong harga minyak naik lagi — dan minyak yang lebih mahal adalah salah satu jalur inflasi yang paling langsung.
Perbandingan historis relevan: pelepasan 2022 terkait konflik Ukraina mencapai 180 juta barel — lebih besar dari episode saat ini — dan proses refill setelahnya berlangsung lambat dan mahal. Kali ini, dengan cadangan yang sudah lebih rendah dan kewajiban exchange yang menumpuk, tekanan refill kemungkinan lebih terasa.
Bagi investor yang memegang posisi di sektor energi atau fixed income, narasi 2027 ini layak masuk radar sekarang. Long-end yield yang terus merayap naik bisa menjadi sinyal awal dari repricing risiko inflasi yang lebih persisten dari yang saat ini dikonsensuskan pasar.