LIVE
USD/IDR…· UST10Y…· KURVA 10Y-2Y…· EMAS…· EMAS/gr…· PERAK…· TEMBAGA…· EUR/USD…· USD/JPY…· USD/CNY…· BTC…· ETH…·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

Strategi Defensif di Tengah Tekanan IHSG

Foreign outflow US$4,2 miliar YTD, EPS dipangkas 13% dalam 6 bulan. Begini strategi alokasi yang relevan untuk pasar saham Indonesia saat ini.


Pasar saham Indonesia sedang dalam tekanan yang tidak ringan. Foreign outflow mencapai US$4,2 miliar year-to-date, MSCI Indonesia tertinggal lebih dari 50% dibanding MSCI Emerging Markets dalam denominasi USD, dan konsensus EPS 2026 sudah dipangkas 13% dalam enam bulan terakhir. Ini bukan noise jangka pendek — ada pergeseran struktural dalam cara investor global memandang Indonesia saat ini.

Yang menarik, alokasi dana EM global ke saham Indonesia sudah turun ke rata-rata 0,8% — mendekati level terendah historis — dengan median posisi underweight sebesar 0,4 percentage point terhadap bobot MSCI EM. Artinya, mayoritas fund manager global sudah sangat underexposed. Di sisi domestik, pengelola dana lokal justru memilih bertahan dengan alokasi kas di atas 10% dari portofolio. Dua sinyal ini, kalau dibaca bersamaan, mencerminkan pasar yang sedang dalam fase konsolidasi penuh kehati-hatian.

Dari sisi makro, RAPBN 2027 menargetkan defisit fiskal di 2,4% dari PDB — turun dari realisasi 2026 yang berada di 2,85%. Belanja negara diproyeksikan IDR 4.079 triliun (+3,9% y/y), sementara pendapatan ditargetkan IDR 3.426 triliun (+6,8% y/y). Angka-angka ini mencerminkan konsolidasi fiskal yang prudent, tapi konsekuensinya adalah ruang stimulus dari sisi belanja pemerintah menjadi terbatas — dan ini langsung berdampak ke prospek earnings korporasi di 2H26.

Target pertumbuhan GDP pemerintah di angka 6% dinilai terlalu optimistis. Proyeksi ekonom independen lebih moderat di 5% untuk 2026 dan 4,9% untuk 2027. Gap antara target dan proyeksi ini penting karena memengaruhi asumsi revenue korporasi, khususnya di sektor yang sensitif terhadap konsumsi domestik dan belanja infrastruktur.

Dari musim laporan keuangan 2Q26, gambaran earnings cukup beragam. Dari 25 emiten yang sudah melaporkan, hasilnya 8 beat, 11 in-line, dan 6 miss. Sektor consumer dan telco relatif solid — MAPI, GOTO, UNVR, INDF masuk kategori beat di consumer, sementara TLKM dan ISAT juga beat di telco. Sebaliknya, sektor energy dan healthcare mengecewakan: UNTR, ITMG, AKRA miss, begitu juga MIKA. Pertumbuhan laba agregat 1H26 tercatat +6% y/y, tapi momentum ini diperkirakan melemah di semester kedua seiring dampak rate hike, terbatasnya stimulus fiskal, dan potensi kenaikan credit cost perbankan.

Dalam konteks ini, pergeseran alokasi ke sektor yang lebih defensif terasa logis. Telecom di-upgrade ke Overweight — sektor ini punya revenue yang recurring, tidak terlalu sensitif terhadap siklus ekonomi, dan mulai menunjukkan earnings momentum yang solid. Sebaliknya, Industrials diturunkan ke Neutral dari sebelumnya Overweight, mencerminkan ekspektasi belanja infrastruktur yang lebih terbatas di 2027.

Saham-saham yang masuk dalam daftar most preferred meliputi BBCA, ANTM, ICBP, ISAT, ASII, dan MAPA — kombinasi antara quality defensive (BBCA, ICBP), cyclical dengan katalis spesifik (ANTM), dan exposure ke recovery konsumsi (ASII, MAPA). Pilihan ini mencerminkan pendekatan yang tidak all-in ke satu tema, tapi menyebar ke beberapa sektor dengan risk-reward yang dianggap lebih favorable di tengah ketidakpastian makro.

Posisi foreign yang sudah sangat underweight secara historis bisa menjadi argumen contrarian — downside dari sisi outflow mungkin sudah terbatas. Tapi catalyst untuk reversal belum jelas: earnings masih dalam tren revisi turun, makro domestik moderat, dan global risk appetite masih selektif terhadap EM. Sampai ada konfirmasi stabilisasi earnings atau infleksi positif dari sisi flows, pendekatan defensif dan selektif tampaknya lebih relevan daripada aggressive accumulation.