Peak-nya sudah lewat — tapi jangan terlalu cepat lega. Effective tariff rate AS sempat menyentuh 30% di April 2025, dan sekarang sudah turun signifikan ke kisaran 10% setelah putusan Mahkamah Agung memaksa pemerintah mengeluarkan tariff refunds ke perusahaan. Angka ini jauh di bawah statutory rate yang diumumkan, artinya selama ini ada gap besar antara tarif di atas kertas dan yang benar-benar dikumpulkan sebagai revenue.
Yang menarik: tariff revenue collection sudah plateau. Dari data Treasury, penerimaan bea masuk bulanan mulai stagnan bahkan cenderung turun — dari $33 miliar di Oktober 2025 menjadi hanya $22 miliar di Mei 2026. Sementara nilai impor justru naik ke $312 miliar. Ini sinyal bahwa effective rate sedang terkompresi, sebagian karena refund, sebagian karena trade diversion yang mengubah komposisi impor.
Soal pass-through ke konsumen — ini yang perlu dicermati lebih hati-hati. Sejauh ini, biaya tarif lebih banyak diserap oleh produsen dan bisnis domestik. Core CPI belum melonjak dramatis. Tapi survei terhadap manufaktur menunjukkan sekitar 30% lebih perusahaan masih berencana melakukan pass-through dalam 6 bulan ke depan. Artinya, tekanan inflasi dari sisi tarif belum sepenuhnya terefleksi di harga konsumen — ada lagged effect yang bisa muncul di semester kedua 2026.
Dari sisi global trade, yang paling menarik justru pergeseran strukturalnya. Sejak 2017, share impor AS dari China turun hampir 12,6 poin persentase — angka yang masif. Beneficiary terbesarnya adalah negara-negara yang masuk kategori nearshoring dan friendshoring: Vietnam, India, Meksiko, dan beberapa negara Asia Tenggara lainnya. Ini bukan sekadar trade diversion jangka pendek — ini reshaping rantai pasok global yang sudah berjalan hampir satu dekade dan kemungkinan besar irreversible.
Di tengah semua ketidakpastian tarif, ada satu counterforce yang cukup kuat: AI-driven demand. Ekspor teknologi tinggi dari Korea Selatan, Taiwan, dan China — terutama yang berkaitan dengan semikonduktor dan komputer — tumbuh signifikan year-over-year. Taiwan bahkan mencatat lonjakan ekspor advanced tech yang konsisten sepanjang 2025-2026. Ini menunjukkan bahwa meski trade policy makin fragmentatif, ada sektor yang justru decoupling dari noise tarif karena didorong demand struktural yang kuat.
Bagi investor yang memantau pasar global, ada beberapa implikasi yang layak dipertimbangkan:
- Inflasi AS belum aman — lag dari tariff pass-through bisa menjaga Fed tetap hawkish lebih lama dari ekspektasi pasar.
- Supply chain repositioning membuka peluang spesifik di negara-negara beneficiary nearshoring, terutama di sektor manufaktur dan logistik.
- AI & semikonduktor tetap menjadi bright spot di tengah fragmentasi perdagangan — demand-nya tidak terlalu sensitif terhadap tariff regime.
- Tariff refund dari pemerintah AS bisa menjadi short-term relief bagi sektor manufaktur yang sebelumnya menanggung beban cost tinggi.
Bottom line: normalisasi tarif memang sedang terjadi, tapi prosesnya tidak linear dan risikonya tidak simetris. Yang perlu diawasi bukan hanya angka effective rate-nya, tapi seberapa besar delayed pass-through masih akan menekan margin korporasi dan daya beli konsumen di kuartal-kuartal berikutnya.