Copper kini jadi komoditas paling disukai di sektor logam Indonesia. AMMN memimpin, sementara ANTM dan BRMS menghadapi tekanan dari berbagai sisi.
Rotasi preferensi komoditas di sektor logam Indonesia sedang berlangsung. Tembaga kini menggeser nikel sebagai komoditas paling disukai — pergeseran yang didorong oleh data operasional konkret, bukan sekadar sentimen.
AMMN menjadi saham utama yang disorot. Data live port tracker per 13 Agustus mengindikasikan volume tembaga bulan Agustus setara dengan run rate tahunan 200 ktCu — jauh melampaui estimasi 158 ktCu untuk 2026. Angka itu mewakili lonjakan sekitar 135% dari run rate H1 2026, atau sekitar 21% MoM. Operating leverage dari volume yang lebih tinggi ini, dikombinasikan dengan cash cost yang lebih rendah, mendorong revisi estimasi NPAT 2026E AMMN naik 20% menjadi US$1,0 miliar. Target price ikut direvisi ke Rp6.900 dari Rp6.100. Perbaikan fasilitas PT Smelting dan harga sulfur yang tetap tinggi menjadi katalis tambahan yang mendukung outlook ini.
Di sisi nikel, gambarannya lebih kompleks dan tidak seragam. Pengiriman NPI dari Morowali melemah di bulan Agustus, sebagian karena alokasi daya listrik yang bergeser ke produksi aluminium. Harga saprolit lokal juga turun seiring ekspektasi pasokan RKAB H2 2026 yang melimpah — kondisi ini menekan margin penambang seperti ANTM, namun justru menguntungkan smelter RKEF seperti MBMA, NCKL, dan NIC karena biaya bahan baku mereka ikut turun. INCO juga diuntungkan dari penurunan HPM limonit, baik dari sisi posisi penjual maupun penurunan biaya umpan untuk fasilitas HPAL Pomalaa.
Yang perlu diantisipasi di segmen HPAL adalah dinamika biaya sulfur. Rekor pasokan sulfur masuk ke fasilitas Huayue dan proyek HPAL mendatang (SLNC milik MBMA, Pomalaa milik INCO) terjadi di bulan Juli — artinya stok berbiaya rendah ini diperkirakan habis pada awal Oktober. Proyeksi biaya sulfur untuk Q3 2026 berada di kisaran US$0,8–0,9k/t, dan bisa menembus di atas US$1,0k/t pada Q4 2026. Ini membuka potensi gangguan operasional HPAL pada rentang Q4 2026 hingga Q1 2027.
Segmen emas menghadapi tekanan berbeda. Permintaan ritel domestik melemah lebih cepat dari ekspektasi — ukuran pembelian rata-rata turun dari di atas 10 gram menjadi di bawah 5 gram dalam 12 bulan terakhir. Wacana pengenaan bea keluar untuk ekspor perhiasan memperumit outlook lebih lanjut. BRMS, sebagai penambang hulu tanpa pembeli lokal yang kuat, paling rentan terhadap risiko ini. ANTM juga menghadapi tekanan margin karena sedang dalam proses melepas stok emas berbiaya tinggi. Sebaliknya, EMAS relatif terlindungi berkat keberadaan pembeli lokal dan momentum positif dari ramp-up tambang Pani Gold serta percepatan komisioning pabrik CIL — yang mendorong revisi naik estimasi laba 2028E dan target price ke Rp9.800 dari Rp8.600.
Untuk diversified miners, MDKA dan UNTR berpotensi mencatat rebound laba di H2 2026 seiring RKAB batubara dan nikel yang lebih tinggi serta ramp-up proyek baru. MDKA lebih disukai karena trajectory ROE yang didorong oleh kontribusi laba dari segmen logam, dengan target price direvisi ke Rp4.200.
Secara keseluruhan, tesis investasi di sektor logam Indonesia saat ini semakin terdifferensiasi. Tembaga via AMMN menawarkan visibility laba yang paling jelas dalam jangka dekat. Nikel menarik secara selektif — lebih condong ke smelter RKEF daripada penambang bijih. Emas butuh kehati-hatian ekstra dalam memilih nama, mengingat dinamika permintaan domestik yang sedang berubah.