Tiga gelombang besar infrastruktur — power grid UHV, AI data center, dan 6G — akan mendorong permintaan tembaga hingga ratusan ribu ton per tahun.
Di tengah hiruk-pikuk narasi AI dan transisi energi, ada satu komoditas yang nyaris tidak pernah masuk headline tapi justru menjadi tulang punggung seluruh infrastruktur itu: tembaga. Dan angka-angka di balik permintaannya jauh lebih besar dari yang banyak investor perkirakan.
Ada tiga pendorong struktural yang sedang membentuk ulang demand outlook tembaga secara fundamental.
Power Grid Generasi Baru
Ekspansi jalur Ultra-High Voltage (UHV) sepanjang 30.000 km saja sudah menghasilkan tambahan permintaan tembaga sebesar 300.000 ton per tahun. Belum lagi rollout 40+ juta unit EV charging yang secara kumulatif membutuhkan 500.000 ton tembaga. Angka ini bukan proyeksi jangka panjang yang kabur — ini adalah kebutuhan yang muncul dari proyek infrastruktur konkret yang sudah berjalan. Setiap charging station, setiap kabel distribusi, setiap titik koneksi ke grid membutuhkan tembaga dalam jumlah yang tidak bisa disubstitusi.
AI dan Data Center
Ini mungkin angle yang paling underappreciated. Ketika pasar bicara soal AI, yang terbayang adalah chip dan GPU. Tapi di balik setiap high-performance computing hub, ada sistem pendingin masif, power distribution yang kompleks, dan wiring yang semuanya copper-intensive. Estimasi permintaan tembaga dari data center AI secara global berada di kisaran 400.000–572.000 ton per tahun — sebuah range yang bahkan di titik terendahnya sudah setara dengan tambang tembaga kelas dunia yang beroperasi penuh. Ekspansi supercomputing bukan sekadar cerita tentang silicon; ini juga cerita tentang copper.
Next-Gen Communications
Gelombang ketiga datang dari infrastruktur telekomunikasi: layout jaringan 6G skala nasional, ultra-high-speed fiber broadband, hingga satellite internet ground stations. Kontribusinya terhadap permintaan tembaga mungkin tidak sedramatik dua kategori sebelumnya, tapi sifatnya adalah sustained baseline demand — permintaan yang stabil dan konsisten dari high-end electronics, specialized wiring, dan foil yang digunakan di perangkat komunikasi kelas atas.
Yang membuat tesis ini menarik bukan hanya besarnya angka, tapi sifat permintaan yang datang dari tiga sektor sekaligus secara bersamaan. Power grid, AI infrastructure, dan telekomunikasi bukan siklus yang berjalan bergantian — ketiganya sedang dalam fase ekspansi pada waktu yang sama. Supply tembaga, di sisi lain, tidak bisa di-scale up dengan cepat. Lead time pembukaan tambang baru bisa mencapai 10–15 tahun.
Bagi investor yang sedang membangun exposure ke tema AI atau transisi energi, ada argumen kuat untuk mempertimbangkan tembaga sebagai salah satu cara paling direct untuk bermain di kedua tema tersebut sekaligus — tanpa harus memilih satu perusahaan teknologi yang tepat atau satu produsen EV yang akan menang.