The Fed membeli T-bills senilai ~$290B hanya dalam 7 bulan — hampir menyamai total pembelian era Covid. Ini bukan QE biasa. Ada sinyal Yield Curve Control di sini.
Dalam 7 bulan terakhir, The Fed telah membeli US Treasury bills senilai sekitar $290 miliar — angka yang hampir menyamai total pembelian selama seluruh periode pandemi Covid yang mencapai ~$320 miliar. Kecepatan akumulasi ini bukan sesuatu yang bisa diabaikan begitu saja.
Data SOMHBILL Index — yang melacak kepemilikan T-bills di System Open Market Account milik The Fed — mencatat all-time high di level 533.5 per Agustus 2026, jauh melampaui puncak era Covid. Sebagai perbandingan, rata-rata historis jangka panjang indeks ini hanya di kisaran 145, dan sempat menyentuh nol pada September 2012 ketika The Fed sama sekali tidak memegang T-bills dalam jumlah berarti.
Yang membuat ini menarik bukan sekadar besarannya, tapi kecepatannya. Lonjakan vertikal dari ~200 menuju 533 dalam rentang waktu yang sangat singkat secara historis tidak pernah terjadi — bahkan saat quantitative easing pasca-2008 pun kurva ini bergerak jauh lebih gradual.
Mekanismenya sederhana secara teknis: The Fed mencetak uang untuk membeli T-bills, yang secara langsung menekan imbal hasil di ujung pendek kurva (suppressing short-end yields). Ketika ini dilakukan dalam skala besar dan konsisten, efeknya mulai menyerupai apa yang dikenal sebagai Yield Curve Control (YCC) — kebijakan di mana bank sentral secara eksplisit menargetkan level yield tertentu, bukan hanya jumlah pembelian.
YCC bukan konsep baru. Bank of Japan menjalankannya selama bertahun-tahun, dan The Fed sendiri pernah menggunakannya di era Perang Dunia II. Bedanya, saat ini tidak ada pengumuman resmi kebijakan YCC — yang ada hanya aksi pembelian yang berbicara sendiri lewat data.
Implikasinya untuk pasar cukup luas. Jika The Fed secara de facto menekan yield T-bills, ini berarti risk-free rate jangka pendek sedang dikelola secara artifisial. Kondisi ini biasanya bullish untuk aset berisiko dalam jangka pendek — karena cost of capital turun dan likuiditas membanjiri sistem. Tapi dalam jangka menengah, pertanyaan yang lebih besar adalah: seberapa lama ini bisa dipertahankan tanpa tekanan inflasi kembali?
Untuk investor, dinamika ini layak masuk dalam kerangka analisis alokasi aset — terutama bagi yang memegang posisi di instrumen berbasis suku bunga, obligasi jangka panjang, atau saham-saham yang sensitif terhadap pergerakan yield.