LIVE
BTC· ETH· BNB· SOL· XRP· ADA· DOGE· USD/IDR· EUR/USD· USD/JPY· USD/SGD·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

TLKM: Dividend Yield 9.3% dan Upside 35%

Di tengah tekanan harga saham yang sudah turun hampir 24% year-to-date, TLKM justru menyajikan angka operasional yang lebih baik dari ekspektasi. Revenue 1H26 tumbuh 3.9% yoy ke Rp75.9 triliun — melampaui guidance manajemen yang hanya menargetkan 1-3%. Yang menarik, manajemen tidak merevisi guidance ke atas. Alasannya cukup masuk akal: fokus tetap pada margin expansion, bukan mengejar top-line.

Hasilnya terlihat di 2Q26. EBITDA margin melompat ke 50.9% dari 47.4% di kuartal sebelumnya, sementara net profit naik 44.5% qoq. Sebagian memang didorong one-off — ada after-tax gain Rp410 miliar dari divestasi AdMedika. Tapi bahkan tanpa itu, trajectory-nya tetap positif. Operating expense turun 2.4% qoq, dan mobile ARPU naik 11.6% yoy ke Rp46.000. Ini yang penting: jumlah subscriber mobile memang turun tipis 3.1% yoy ke 153.5 juta, tapi ARPU-nya naik lebih kencang. Pricing discipline sedang bekerja.

Soal penurunan fixed broadband subscriber sebesar 8% qoq — jangan langsung panik. Itu bukan sinyal demand melemah, melainkan hasil clean-up akun IndiHome yang sudah tidak aktif. Satu kali kejadian, bukan tren struktural.

Yang paling menarik dari TLKM saat ini adalah dividend story-nya. Dengan asumsi payout ratio yang sama seperti 2025, proyeksi dividend yield mencapai 9.3% untuk 2027 dan hampir 10% di 2028. Free cash flow-nya cukup resilient karena beban depresiasi bersifat non-cash dan tidak langsung menggerus kas. Di atas itu, ada potensi value realisation dividend (VRD) yang bisa muncul dari asset monetisation — termasuk Telkom Infranexia Phase 2 yang ditargetkan selesai 2H26, plus evaluasi stake sale bisnis data centre yang masih berjalan.

Dari sisi valuation, TLKM saat ini diperdagangkan di 4.1x EV/EBITDA 2026 — sekitar 1.8 standar deviasi di bawah rata-rata historis lima tahun. Target price Rp3.600 menggunakan 5.4x EV/EBITDA, yang merepresentasikan upside sekitar 35.8% dari harga Rp2.650. Bukan angka yang kecil untuk saham dengan balance sheet yang relatif stabil dan dividend yield hampir double-digit.

Tapi ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pertama, program early retirement (ERP) masih akan menekan earnings jangka pendek lewat restructuring cost. Kedua, capex diperkirakan berada di batas atas guidance setelah akuisisi spektrum terbaru — artinya free cash flow bisa sedikit terkompresi. Ketiga, ada forex risk pada capex mengingat sebagian peralatan telekomunikasi masih dalam denominasi USD. Dan keempat, kecepatan monetisasi aset subsidiaries adalah variabel yang sulit diprediksi — kalau proses ini molor, VRD juga ikut tertunda.

Secara struktural, Telkomsel tetap menjadi engine utama grup — berkontribusi sekitar 72% dari revenue konsolidasi tapi hanya menyerap 30% dari total workforce TLKM. Efisiensi dari ERP seharusnya akan terasa lebih signifikan di segmen ini dalam beberapa kuartal ke depan.