LIVE
BTC· ETH· BNB· SOL· XRP· ADA· DOGE· USD/IDR· EUR/USD· USD/JPY· USD/SGD·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

TLKM: Ekspansi Kabel Laut & Valuasi Murah

Telin ekspansi ke Afrika dan Amerika Latin di tengah lonjakan demand bandwidth AI. TLKM diperdagangkan di PER 12x, diskon tajam vs rata-rata sektor.


Di tengah hiruk-pikuk perebutan infrastruktur digital global, Telkom Indonesia diam-diam membangun posisi yang jauh lebih serius dari yang banyak investor sadari. Lewat anak usahanya Telin, TLKM kini mengincar koridor-koridor yang selama ini relatif underserved: Eropa–Timur Tengah–Afrika, transatlantic, hingga AS–Amerika Latin.

Ini bukan sekadar ekspansi geografis biasa. Telin sudah mengoperasikan 34 sistem kabel laut internasional dengan total jaringan fiber optic mencapai 545.011 km — 429.167 km di antaranya berskala internasional. Ditambah 36 data center dan 211 point of presence di 38 negara, footprint-nya sudah cukup solid untuk bicara sebagai pemain infrastruktur konektivitas global, bukan sekadar operator telko domestik.

Yang menarik adalah timing strateginya. Kebutuhan bandwidth akibat pertumbuhan AI diproyeksikan melonjak hingga 10x lipat dari baseline sebelumnya, dan laju demand ini sudah melampaui kecepatan pembangunan infrastruktur baru. Artinya, siapa yang sudah punya kabel di air lebih dulu, menang. Telin merespons ini dengan strategi tiga tahap yang menargetkan setidaknya 4–5 alternatif konektivitas di setiap koridor prioritas — sebuah pendekatan redundansi yang masuk akal untuk menjaga service reliability di level enterprise dan carrier.

Dari sisi keuangan, semester pertama 2026 menunjukkan traksi yang cukup bersih. Pendapatan konsolidasian tercatat Rp73,6 triliun, tumbuh ditopang segmen data, digital connectivity, dan ICT services. Laba bersih Rp13,8 triliun — angka yang mencerminkan efisiensi operasional yang mulai terasa, setelah beberapa tahun terakhir TLKM berjuang melawan margin compression di segmen legacy.

Capex FY25 terealisasi di Rp27,5 triliun atau sekitar 18,74% dari pendapatan Rp146,7 triliun, dengan alokasi ke cellular network Telkomsel, fiber domestik-internasional, tower, dan data center. Untuk FY26, target naik ke kisaran 19–20% dari pendapatan — sinyal bahwa fase investasi belum selesai, tapi sudah ada jalur yang jelas ke mana uangnya pergi.

Valuasi TLKM saat ini terbilang anomali jika dibandingkan peer-nya. PER 12,12x versus rata-rata subsektor telekomunikasi di 21,65x — diskon hampir 44%. PBV pun di 2,18x, di bawah rata-rata sektor 2,66x. Untuk perusahaan dengan skala infrastruktur sebesar ini, angka tersebut mencerminkan pasar yang belum sepenuhnya memprice-in potensi monetisasi dari ekspansi global Telin maupun akselerasi segmen digital.

Tentu ada risiko yang perlu diperhitungkan: capex besar selalu menekan free cash flow jangka pendek, dan ekspansi ke koridor baru seperti Afrika atau Amerika Latin membawa eksposur terhadap dinamika geopolitik dan regulasi yang lebih kompleks. Tapi jika strategi ini berjalan sesuai rencana, TLKM sedang membangun moat infrastruktur yang tidak mudah direplikasi dalam waktu singkat — dan pasar tampaknya belum membayar premium untuk itu.