Trump klaim AS kuasai 100% Selat Hormuz. Standoff AS-Iran makin dalam, harga minyak melonjak 5%. Dampak ke pasar energi dan investasi global.
Selat Hormuz kembali menjadi episentrum ketegangan geopolitik global. Presiden Donald Trump menyatakan bahwa Angkatan Laut AS telah membersihkan selat tersebut dari ranjau laut dan kini memegang kontrol "100%" atas jalur pelayaran strategis itu — sebuah klaim yang langsung memantik respons keras dari Tehran dan mendorong harga minyak mentah naik signifikan.
Dalam pernyataannya di Oval Office, Trump menyebut postur militer AS di kawasan itu sebagai "steel wall" — dinding baja yang tidak akan goyah meski Iran sesekali masih meletakkan ranjau baru. "Mereka sesekali akan menjatuhkan ranjau, dan kami menemukan ranjau itu," ujar Trump, seraya menegaskan bahwa selat kini sudah terbuka. AS sendiri telah mempertahankan naval blockade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran sejak pertengahan April.
Reparasi sebagai Senjata Diplomasi Baru
Yang menarik — dan ini menjadi dimensi baru dalam standoff ini — adalah Trump membalik tuntutan reparasi perang yang diajukan Iran. Melalui postingan di Truth Social, Trump menyebut tuntutan Tehran itu sebagai sebuah "interesting idea", lalu balik menuntut Iran membayar kompensasi kepada AS atas korban jiwa akibat serangan bom pinggir jalan yang dikaitkan dengan Tehran, serta para demonstran Iran yang ia klaim telah dibunuh oleh rezim selama 50 tahun terakhir.
Langkah ini bukan sekadar retorika. Dalam negosiasi geopolitik, memperkenalkan tuntutan balasan — terutama yang bersifat moral dan historis — adalah taktik untuk mendelegitimasi posisi lawan sekaligus mempersulit tercapainya kesepakatan jangka pendek. Ini secara efektif menambah satu lagi sticking point di atas daftar kondisi yang sudah panjang dari kedua belah pihak.
Posisi Iran: Blokade Harus Dicabut Dulu
Dari sisi Tehran, Mohammad Bagher Zolghadr, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, menegaskan pada akhir pekan lalu bahwa Selat Hormuz tidak akan dibuka kembali sebelum AS memenuhi empat syarat utama: mencabut naval blockade, menarik pasukan Amerika dari kawasan, membayar reparasi perang, dan membebaskan aset-aset Iran yang dibekukan. Dewan tersebut juga menuntut AS menghentikan serangan terhadap sekutu regional Iran.
Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, merespons klaim Menteri Keuangan AS Scott Bessent bahwa sanksi AS sedang "mencekik" Iran. Baqaei menyebut pola sanksi AS — yang diperketat setiap kali diplomasi gagal — bukan lagi sebuah kebijakan, melainkan sebuah "compulsive addiction". Framing ini mencerminkan upaya Tehran untuk memenangkan narasi di panggung internasional, meski tekanan ekonomi nyata-nyata terasa.
Implikasi ke Pasar Energi dan Investasi
Dari perspektif pasar, ini adalah skenario yang sudah lama diantisipasi tetapi tetap saja disruptif ketika terjadi. Sebelum konflik ini meletus, Selat Hormuz mengalirkan sekitar seperlima dari total pasokan minyak dunia — sebuah angka yang menempatkannya sebagai chokepoint energi paling krusial di planet ini. Gangguan yang berkepanjangan di jalur ini secara struktural bersifat bullish untuk harga minyak mentah.
Pasar bereaksi cepat. West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak September naik sekitar 5% ke level sekitar $82,13 per barel, sementara Brent crude juga menguat dengan margin serupa ke kisaran $87,72 per barel. Kenaikan ini membalikkan koreksi singkat yang terjadi pekan lalu, dan harga masih sedikit menguat dalam sesi Asia pada hari Selasa.
Yang perlu dipahami investor adalah bahwa traffic tanker melalui selat ini masih jauh di bawah level normal. Selama kondisi ini bertahan, ada risk premium yang tertanam dalam harga minyak — dan premium tersebut belum sepenuhnya mencerminkan skenario eskalasi lebih lanjut.
Base Case: Bukan Perang, Tapi Bukan Damai
Untuk saat ini, skenario perang regional skala penuh bukan merupakan base case konsensus. Trump sendiri telah memberi sinyal bahwa ia lebih memilih membiarkan tekanan ekonomi menggerus Iran secara perlahan ketimbang melancarkan serangan militer lanjutan — sebuah strategi economic attrition yang membutuhkan kesabaran dan konsistensi.
Namun impasse yang ada saat ini menciptakan ekuilibrium yang tidak stabil: Washington memperlakukan kehadiran navalnya sebagai permanent fixture yang menjamin akses, sementara Tehran melihat kehadiran yang sama sebagai hambatan utama normalisasi lalu lintas pelayaran. Kedua narasi ini saling bertentangan secara fundamental, dan tidak ada sinyal bahwa salah satu pihak siap mundur dalam waktu dekat.
Bagi investor yang memiliki eksposur ke sektor energi, komoditas, atau aset-aset yang sensitif terhadap risk sentiment global — ini adalah periode di mana geopolitical risk premium perlu masuk ke dalam kalkulasi valuasi. Volatilitas harga minyak yang tinggi juga akan berdampak pada inflasi global, yang pada gilirannya memengaruhi trajectory kebijakan bank sentral dan keputusan alokasi aset secara lebih luas.