LIVE
BTC· ETH· BNB· SOL· XRP· ADA· DOGE· USD/IDR· EUR/USD· USD/JPY· USD/SGD·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

USD Melemah tapi Yield Naik: Ada yang Salah?

Ada sesuatu yang tidak beres di pasar global saat ini. Secara teori, ketika US Treasury yields naik — terutama di tenor panjang — USD seharusnya ikut menguat karena selisih imbal hasil yang lebih menarik. Tapi yang terjadi justru sebaliknya: 10Y UST yield sudah di 4.73%, 30Y menembus 5.27%, dan DXY malah turun ke bawah 100. Ini bukan anomali teknikal biasa. Ini sinyal bahwa pasar mulai mempertanyakan kredibilitas kebijakan moneter Fed secara serius.

Pangkal masalahnya ada di Kevin Warsh, Fed Chairman yang baru. Warsh secara konsisten mengurangi forward guidance — dua FOMC statement terakhirnya nyaris identik, minim informasi baru. Ia bahkan dilaporkan berencana memangkas jumlah press conference pasca-FOMC. Bagi sebagian kalangan, ini dibaca sebagai langkah reformasi yang sah. Tapi bagi market, ketiadaan guidance dalam kondisi inflasi yang masih elevated dan geopolitik yang memanas justru menciptakan kekosongan yang diisi oleh spekulasi dan distrust.

Sinyal paling jelas datang dari yield curve. Spread 2s10s melebar 15bps dalam sebulan ke 44bps — curve steepening yang agresif, bukan karena ekspektasi pertumbuhan membaik, melainkan karena pasar meminta risk premium lebih tinggi di tenor panjang. Tiga regional Fed presidents bahkan memilih dissent di FOMC Juli, mendorong rate hike. Swap market kini mempricing lebih dari satu kali hike hingga akhir 2026. Warsh bilang ia "tidak ingin mengganggu pasar" — tapi justru ketidakjelasan itulah yang mengganggu.

Di sisi geopolitik, ada hal menarik yang perlu dicatat: collapse-nya gencatan senjata AS-Iran dan lonjakan Brent hampir $30/bbl dalam sebulan tidak menghasilkan safe-haven demand yang berarti ke USD. Ini kontras tajam dengan Maret lalu ketika eskalasi konflik yang sama mendorong USD menguat secara durabel. Artinya, monetary policy differentials kembali jadi driver utama arah USD di second half 2026 — bukan geopolitical risk premium. Implikasinya: selama Fed terlihat behind the curve, USD akan terus tertekan meski kondisi geopolitik memburuk.

Untuk Asia FX, gambarannya lebih nuanced. Dampak oil shock Juli lebih terkonsentrasi di net energy importers — INR, THB, PHP — ketimbang memicu broad-based USD demand seperti di Maret. Beberapa mata uang justru outperform:

  • SGD menjadi yang paling resilient. MAS secara mengejutkan menaikkan slope S$NEER sebesar 25bps ke estimasi 1.25% p.a., didukung GDP Singapore 1H26 yang tumbuh 6.0% dan forecast 2026 yang direvisi naik ke 4.8%. Kombinasi hawkish MAS plus strong growth adalah cerita yang berbeda dari mayoritas peers regional. Target USD/SGD di 1.25 pada 2Q27 terlihat credible.
  • KRW menguat dramatis 7.7% di Juli, tapi sebagian besar didorong oleh one-off dollar repatriation dari ADR listing chip maker senilai USD 26.5bn. Momentum ini tidak sustainable — Kospi turun 22% di Juli, steepest decline sejak GFC 2008. Expect partial retracement di 3Q26.
  • IDR tetap menjadi regional laggard. Resign-nya BI Governor Perry Warjiyo pada 27 Juli menambah layer ketidakpastian di atas fundamental yang memang sudah berat: deficit target melebar ke 2.85% GDP, review dari S&P Dow Jones Indices, dan tekanan fiskal dari subsidi yang melonjak 44.4% y/y di 1H26. Forecast USD/IDR di 18,200 untuk 3Q26.
  • MYR relatif stabil, didukung ekspor yang surge 45.4% y/y di Juni dan GDP 2Q26 yang beat di 5.8%. BNM kemungkinan tetap on hold, tapi 3-month Klibor sudah di 3.45% — 70bps di atas OPR — sinyal bahwa money market mulai pricing kemungkinan hike.

Untuk US rates, outlook jangka menengah tetap menantang. Forecast 10Y UST direvisi naik ke 4.80–4.85% untuk 3Q–4Q26, dengan risiko menuju level psikologis 5.0% apabila fiskal supply meningkat, data ekonomi tetap solid (retail sales control group tumbuh 6.36% y/y, initial claims kembali ke level rendah), dan Fed gagal meyakinkan pasar soal komitmen anti-inflasi. Treasury sendiri memproyeksikan net borrowing USD 739bn untuk Jul–Sep, lebih tinggi USD 68bn dari estimasi sebelumnya. Jackson Hole akhir Agustus akan jadi ujian berikutnya bagi Warsh — apakah ia mampu restore credibility atau justru memperburuk policy uncertainty.

Gold stuck di sekitar USD 4,000/oz — capped oleh ketidakjelasan kebijakan moneter AS, tapi didukung oleh consistent buying dari EM central banks terutama China. Konsolidasi ini kemungkinan berlanjut selama uncertainty belum terselesaikan. Bagi investor yang berharap gold breakout, katalisnya harus datang dari clarity — baik berupa Fed yang akhirnya hike tegas, atau sebaliknya, sinyal easing yang credible.