Hubungan antara USD/JPY dan selisih yield obligasi pemerintah AS-Jepang mengalami perubahan struktural sejak April 2025. Sebelumnya, arah pasangan mata uang ini relatif konsisten mengikuti spread yield tenor 10 tahun. Ketika yield Treasury jauh lebih tinggi daripada Japanese Government Bond (JGB), investor memiliki insentif untuk meminjam yen berbiaya rendah dan menempatkan dana pada aset dolar yang menawarkan return lebih tinggi.
Mekanisme tersebut menjadi fondasi yen carry trade selama bertahun-tahun. Permintaan terhadap aset AS mendorong pembelian dolar sekaligus penjualan yen, sehingga USD/JPY cenderung naik saat interest rate differential melebar. Namun, korelasi itu mulai pecah setelah pengumuman kebijakan tarif AS pada periode “Liberation Day” meningkatkan ketidakpastian perang dagang dan memicu lonjakan volatilitas. Sebagian posisi leveraged carry trade kemudian di-unwind untuk mengurangi risiko.
Perubahan paling jelas terlihat pada pergerakan spread yield. Selisih antara US Treasury 10 tahun dan JGB 10 tahun turun sekitar 1 percentage point sejak April 2025 menjadi kurang lebih 2 percentage points, mendekati level terendah sejak 2021. Dalam pola historis, penyempitan sebesar ini semestinya mendukung penguatan yen dan menekan USD/JPY.
Yang terjadi justru sebaliknya. USD/JPY melanjutkan kenaikan, yang berarti dolar semakin kuat terhadap yen meskipun yield advantage AS berkurang. Divergence tersebut menunjukkan bahwa rate differential tidak lagi menjadi satu-satunya pricing anchor. Pasar mulai memasukkan sovereign risk premium Jepang, terutama akibat beban utang pemerintah yang sangat besar dan meningkatnya biaya debt servicing ketika yield domestik bergerak naik.
Kondisi ini menciptakan dilema bagi Bank of Japan. Normalisasi suku bunga dapat membantu yen dan mengendalikan tekanan inflasi, tetapi kenaikan yield juga memperbesar biaya pembiayaan fiskal. Sebaliknya, kebijakan yang terlalu longgar berisiko mempertahankan depresiasi yen serta meningkatkan biaya impor energi dan bahan baku.
Bagi pasar global, melemahnya pengaruh carry trade tidak berarti strategi tersebut langsung hilang. Return dari posisi long dollar versus yen tetap tersedia selama funding cost Jepang lebih rendah. Namun, performanya semakin dipengaruhi oleh trade policy, volatilitas, arus safe haven, dan persepsi terhadap keberlanjutan fiskal Jepang. USD/JPY kini mencerminkan risk premium yang lebih kompleks daripada sekadar perbedaan suku bunga dua negara.