LIVE
USD/IDR· UST10Y· KURVA 10Y-2Y· EMAS· EMAS/gr· PERAK· TEMBAGA· EUR/USD· USD/JPY· USD/CNY· BTC· ETH·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

Utang AS $40 Triliun: Bom Waktu Fiskal?

Angka $40 triliun bukan sekadar rekor statistik. Utang federal AS resmi menembus level itu untuk pertama kalinya dalam sejarah, dan yang lebih mengkhawatirkan: angka ini lebih dari dua kali lipat dibanding satu dekade lalu ketika debt outstanding masih di kisaran $19,4 triliun. Artinya, dalam sembilan tahun terakhir, Washington menambah utang lebih cepat dari sebelumnya — tanpa tanda-tanda fiscal restraint yang berarti.

Defisit bulanan bulan Juli saja tercatat $432,3 miliar, terbesar dalam lebih dari lima tahun terakhir. Proyeksinya pun tidak membaik: debt load AS diperkirakan menyentuh $42 triliun sebelum tahun ini berakhir.

Kalau ditelusuri per era kepresidenan, setiap administrasi berkontribusi pada kenaikan ini — Obama menambah sekitar $9,32 triliun, Trump periode pertama $7,80 triliun, Biden $8,45 triliun, dan Trump di periode kedua sudah menambah $3,79 triliun sejauh ini. Tidak ada yang bisa klaim tangan bersih di sini.

Yang menjadi perhatian lebih serius bukan hanya besarnya utang, tapi interest burden-nya. AS kini menjadi negara dengan gross interest expense tertinggi kedua di antara ekonomi maju — hanya kalah dari Italia. Dalam angka absolut, pembayaran bunga tahunan sudah mencapai sekitar $1,4 triliun per tahun. Angka itu lebih besar dari total GDP lebih dari 175 negara di dunia.

Lebih kritis lagi: interest payments sudah menyerap 20% dari total penerimaan pajak AS. CBO memproyeksikan angka ini naik ke sekitar 30% pada 2036. Jadi masalah fundamentalnya bukan karena interest rate terlalu tinggi — tapi karena skala debt-nya yang sudah terlalu masif.

Di tengah kondisi ini, Treasury minggu lalu mengumumkan penggandaan buyback operations di segmen obligasi tenor 10–20 tahun dan 20–30 tahun, dari $2 miliar menjadi minimal $4 miliar. Langkah ini dibaca pasar sebagai bentuk fiscal dominance — upaya melonggarkan financial conditions di long end of the curve tanpa harus menunggu Fed bergerak. Hasilnya: gold rebound kuat, kembali ke atas 200-day moving average, dan narasi debasement trade hidup lagi bersama bitcoin.

Di sisi lain, ada pergeseran menarik di pasar FX. Swiss franc mulai menggantikan yen Jepang sebagai funding currency pilihan untuk carry trade. Logikanya sederhana: Swiss interest rate masih mendekati nol, SNB aktif memonitor apresiasi berlebihan franc, dan volatilitas franc relatif rendah. Kombinasi ini menarik bagi trader yang mencari funding murah dengan risiko sudden reversal yang lebih terkontrol.

Data positioning sudah mencerminkan pergeseran ini. Hedge funds meningkatkan net short exposure ke Swiss franc mendekati level tertinggi dua bulan, sementara short position di yen mulai berkurang. Secara performa, carry trade yang di-fund dengan franc dan diinvestasikan ke Mexican peso menghasilkan return sekitar 4% dalam sebulan terakhir — versus hanya 1,3% kalau di-fund dengan yen.

Ada ironi yang tidak bisa diabaikan di sini: franc, yang selama ini dikenal sebagai salah satu safe haven currency terkuat di dunia, kini semakin sering dipinjam untuk membiayai risk-taking di pasar lain. Dalam kondisi stress, franc tetap berperan sebagai pelindung. Tapi di kondisi pasar yang lebih stabil, ia sudah berubah fungsi menjadi bahan bakar carry trade.