Ada satu paradoks yang sudah digeluti para investor selama berabad-abad: bagaimana pasar bisa terlihat sangat efisien di sebagian besar waktu, tapi sesekali berperilaku seperti kerumunan yang kehilangan akal sehat? Jawabannya tidak sesederhana "pasar selalu benar" atau "investor selalu irasional." Kenyataannya jauh lebih nuanced dari itu.
James Surowiecki pernah menunjukkan bahwa crowds bisa sangat akurat — bahkan lebih akurat dari individu terbaik sekalipun — tapi hanya ketika tiga kondisi terpenuhi: diversity, aggregation, dan incentives. Ketika salah satunya runtuh, itulah saat crowds berubah dari wisdom menjadi madness. Dan di pasar saham, runtuhnya kondisi ini bukan pengecualian — ia adalah siklus yang berulang.
Yang paling sering gagal adalah diversity. Dalam konteks ini bukan soal gender atau etnisitas, melainkan cognitive diversity — seberapa berbeda informasi, heuristics, dan mental models yang dimiliki setiap pelaku pasar. Ketika investor mulai berpikir dengan cara yang sama, menggunakan sumber informasi yang sama, dan merespons sinyal harga secara kolektif, korelasi antar perilaku meningkat tajam. Inilah akar dari boom dan bust. Harga tidak lagi mencerminkan agregasi pandangan independen; ia mencerminkan echo chamber.
Scott Page, lewat apa yang ia sebut "diversity prediction theorem," memformulasikan ini dengan elegan: collective error = average individual error – prediction diversity. Artinya, sebuah crowd yang beragam secara kognitif hampir selalu lebih akurat dari rata-rata individu di dalamnya — bahkan jika masing-masing individunya tidak terlalu pintar. Implikasinya untuk investing sangat besar: alpha bukan hanya soal siapa yang punya informasi lebih baik, tapi siapa yang melihat masalah dari sudut pandang yang berbeda.
Studi di prediction markets seperti Kalshi dan Polymarket memberikan data yang menarik. Dari lebih dari 72 juta trades di Kalshi, contract prices terbukti sangat mendekati actual win rates — hampir persis di garis 45 derajat yang menandakan pasar efisien. Tapi ada satu anomali yang konsisten: favorite-longshot bias. Pasar cenderung underestimate probabilitas kemenangan favorit dan overestimate peluang underdog. Bias ini bukan kebetulan — ia mencerminkan kecenderungan manusia untuk melebih-lebihkan kemungkinan outcome yang dramatis.
Yang lebih relevan untuk investor adalah distribusi keuntungan di pasar-pasar ini. Di Polymarket, dari 2,4 juta pengguna, 69 persen rugi. Dari yang untung, top 1 persen mengambil 77 persen dari total gains. Di Kalshi, liquidity makers rata-rata untung +112 basis points per trade, sementara takers rugi -112 bps. Ini bukan anomali — ini adalah struktur yang hampir identik dengan pasar saham: zero-sum untuk excess returns, dengan sebagian kecil pelaku yang secara konsisten berada di sisi yang benar.
Grossman dan Stiglitz sudah membuktikan bahwa pasar tidak bisa benar-benar fully efficient, karena jika demikian tidak ada insentif untuk mengumpulkan informasi. Pasar harus "efficiently inefficient" — cukup efisien sehingga alpha sulit diraih, tapi cukup inefficient sehingga informed traders masih bisa menghasilkan excess returns yang memadai untuk menutup cost of research dan transaction costs mereka.
Pelajaran praktisnya: keunggulan di pasar — baik saham, prediction markets, maupun sports betting — hampir selalu datang dari kombinasi informasi yang lebih baik dan sudut pandang yang berbeda dari konsensus. Bukan salah satunya saja. Trader yang hanya memiliki informasi sama dengan pasar tapi menginterpretasikannya berbeda mungkin benar sesekali, tapi tidak secara sistematis. Sebaliknya, informasi superior yang diproses dengan mental model yang sama dengan orang banyak sering kali tetap berakhir pada posisi yang sudah fully priced in.
Yang membedakan pasar saham dari prediction markets atau sports betting adalah satu hal krusial: tidak ada resolusi final. Nilai sebuah perusahaan adalah present value of future cash flows yang tidak pernah benar-benar "settled" kecuali perusahaan diakuisisi atau bangkrut. Ini membuat diversity breakdowns di pasar saham jauh lebih berbahaya dan jauh lebih sulit untuk dikoreksi — karena tidak ada tanggal pengumuman hasil yang memaksa harga kembali ke realita.