LIVE
BTC· ETH· BNB· SOL· XRP· ADA· DOGE· USD/IDR· EUR/USD· USD/JPY· USD/SGD·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

Yen Carry Trade: Korelasi yang Terputus

Hampir dua dekade, satu hubungan menjadi pegangan trader di pasar forex: ketika selisih yield obligasi 10 tahun AS terhadap Jepang melebar, USD/JPY ikut naik. Logikanya sederhana — semakin besar perbedaan imbal hasil, semakin menarik strategi yen carry trade: pinjam yen murah, parkir di aset AS yang lebih tinggi yield-nya, dan nikmati selisihnya.

Tapi sesuatu berubah sejak April 2025.

Setelah peristiwa yang kini disebut Liberation Day — titik di mana perang dagang secara resmi dimulai — korelasi itu runtuh. Yield spread 10 tahun US minus Japan menyempit dari sekitar 3,0% ke 1,8%, sebuah kompresi yang dalam kondisi normal seharusnya menekan USD/JPY. Yang terjadi justru sebaliknya: pasangan mata uang ini malah naik dari sekitar 140 ke 164. Dua variabel yang selama bertahun-tahun bergerak searah kini melaju ke arah berlawanan.

Penyebabnya bukan misteri. Volatilitas ekstrem yang muncul dari eskalasi tarif mengganggu mekanisme carry trade secara struktural. Ketika volatilitas melonjak, risk-adjusted return dari strategi ini langsung terkompres — carry trader mulai menutup posisi, tapi pergerakan USD/JPY justru tidak mengikuti pola unwind yang biasa. Ini mengindikasikan ada faktor lain yang mendominasi: kemungkinan besar adalah flight dari aset dolar AS itu sendiri, bukan sekadar penyesuaian posisi carry.

Yang menarik adalah implikasinya terhadap cara pasar membaca sinyal makro. Selama hampir 20 tahun, yield spread menjadi leading indicator yang cukup reliabel untuk arah USD/JPY. Jika breakdown ini bersifat permanen — bukan sekadar noise jangka pendek — maka framework lama itu perlu direvisi. Trader yang masih menggunakan model berbasis interest rate differential untuk memprediksi yen akan berhadapan dengan basis yang sudah tidak relevan.

Ada juga dimensi yang lebih luas. Carry trade yen bukan hanya soal forex — ia menjadi salah satu sumber likuiditas global selama bertahun-tahun. Ketika carry trade terganggu secara masif, efeknya bisa merambat ke aset berisiko lain: ekuitas emerging market, high-yield bonds, hingga komoditas. Kita sudah melihat glimpse dari ini ketika volatilitas Agustus 2024 memicu partial unwind yang cukup tajam di berbagai kelas aset.

Pertanyaannya sekarang: apakah divergensi ini akan berlanjut, atau pasar akan menemukan ekuilibrium baru di mana korelasi kembali terbentuk — hanya dengan parameter yang berbeda? Selama ketidakpastian kebijakan perdagangan AS belum mereda, jawaban itu belum bisa diberikan dengan confidence tinggi.