Agustus 2024 mencatat salah satu episode deleveraging paling brutal dalam sejarah pasar modern. Yen Jepang menguat hampir 14% terhadap Dolar AS dalam waktu singkat — dan itu saja sudah cukup untuk memicu violent unwind dari posisi carry trade yang telah dibangun bertahun-tahun. Hasilnya: lebih dari $6 triliun nilai kapitalisasi pasar ekuitas global menguap.
Mekanismenya sederhana tapi dampaknya tidak. Leveraged funds meminjam Yen dengan bunga hampir nol, lalu menempatkan modal tersebut ke aset berimbal hasil lebih tinggi — paling banyak ke saham teknologi AS. Selama Yen melemah atau stabil, strategi ini mencetak return konsisten. Tapi begitu Yen bergerak terlalu cepat ke arah yang salah, seluruh struktur posisi itu harus dibongkar sekaligus.
Yang membuat episode ini ekstrem bukan sekadar pergerakan Yen-nya, tapi skala posisi yang harus di-unwind. Leveraged funds sebelumnya memegang net short Yen mendekati 120.000 kontrak — level terbesar sejak 2017. Posisi short sebesar itu artinya ketika Yen berbalik arah, tidak ada ruang untuk keluar secara gradual. Semua orang berlomba menutup posisi di waktu yang sama.
Panic selling yang terjadi mencapai intensitas yang belum terlihat sejak COVID crash 2020. Bukan karena ada fundamental yang berubah secara drastis di sisi korporasi, tapi murni karena struktur leverage yang terlalu besar bertemu dengan pergerakan FX yang tidak diantisipasi. Saham teknologi AS menjadi korban paling langsung karena memang di sanalah sebagian besar modal carry trade itu diparkir.
Ada pelajaran struktural di sini. Carry trade bekerja dengan sangat baik sampai tiba-tiba tidak bekerja sama sekali. Dan ketika unwind terjadi, korelasinya dengan aset lain melonjak — semua turun bersamaan, terlepas dari kualitas fundamentalnya. Ini yang membuat carry trade unwind berbeda dari sell-off biasa: ia tidak mendiskriminasi aset.
Bagi investor yang memahami dinamika ini, momen seperti Agustus 2024 sebenarnya menawarkan entry point yang menarik di aset-aset berkualitas yang ikut terkoreksi bukan karena fundamentalnya rusak, tapi karena terseret arus deleveraging. Tapi timing-nya sulit — karena selama posisi short Yen masih besar dan Bank of Japan masih berpotensi menaikkan suku bunga, episode serupa bisa terulang kapan saja.