Pernah ada masa di mana pergerakan USDJPY semudah membaca selisih suku bunga Amerika dan Jepang. Carry trade adalah rajanya, dan yen adalah funding currency paling nyaman di dunia. Tapi sejak April 2025, semuanya berubah. Liberation Day — saat perang dagang mulai benar-benar terasa — menjadi titik balik. Sejak itu, USDJPY berhenti mengikuti interest rate differential. Yang mulai mendominasi adalah fiscal worries.
Ini bukan sekadar pergeseran teknikal. Ini perubahan rezim di pasar valas global. Jepang punya utang publik terbesar di dunia, dan pasar mulai mempertanyakan kemampuan BoJ untuk terus menopang yield. BoJ saat ini memiliki sekitar 50% dari total JGB yang beredar. Angka yang gila kalau dipikir ulang. Bayangkan setengah dari obligasi pemerintah sebuah negara dipegang oleh bank sentralnya sendiri. Itu bukan lagi intervensi, itu sudah jadi struktur pasar.
Implikasinya besar. Pertama, yield JGB 10 tahun sudah mulai merangkak naik, tapi masih rendah dibandingkan yield global. Second, inflasi Jepang tidak lagi datang dan pergi. Services inflation tetap kuat, wage growth tren naik, dan inflation expectations mulai sticky di level yang lebih tinggi. Ini bukan lagi gejala deflasi yang hilang dan muncul lagi. Ini regime change yang nyata.
Dan yang menarik, di tengah semua ini, ada tekanan aktivisme investor yang meningkat tajam terhadap perusahaan-perusahaan besar Jepang. Jumlah shareholder proposals naik signifikan sejak 2021, terutama untuk perusahaan dengan market cap di atas $1 miliar. Tekanan untuk perbaikan tata kelola dan return ke pemegang saham mulai terasa. Ini yang mendorong Nikkei 225 ke level yang belum pernah terlihat sejak 1989. Namun, kenaikan indeks ini sangat terkonsentrasi. Large cap stocks outperform, dan pasar Jepang jadi lebih rentan terhadap konsentrasi risiko.
Ada satu lagi yang menarik: kepemilikan asing di saham Jepang sudah mencapai 33%, naik dari cuma 5% di tahun 1990. Artinya, pasar Jepang sekarang sangat tergantung dengan appetite investor global. Kalau fiscal worries Jepang makin jadi, dan yen terus melemah tanpa henti, investor asing bisa mulai berpikir ulang. Tapi di sisi lain, weak yen justru mendorong pariwisata masuk. Turis asing kembali berdatangan, dan itu jadi salah satu penopang ekonomi domestik yang paling terlihat.
Ada juga isu struktural yang tidak bisa diabaikan: populasi yang menyusut. Japan's population growth negatif, dan itu berdampak langsung ke sektor properti. Share of vacant homes di Jepang terus naik dan diperkirakan tembus 16% pada 2030. Ini masalah besar bagi industri konstruksi dan perbankan regional. Tapi di sisi lain, ini juga menciptakan peluang di sektor-sektor seperti otomasi dan produktivitas.
Jadi, apakah yen sudah bottom? Jangan tanya itu. Yang lebih penting adalah memahami bahwa USDJPY sekarang digerakkan oleh fiscal sustainability dan bukan lagi oleh carry trade. Untuk investor, ini berarti hedged returns di aset Jepang menjadi lebih kompleks. Hedging cost yang tinggi membuat yield Treasury yang di-hedge ke yen jadi negatif. Ini bukan pasar yang mudah dibaca.
Jepang ada di persimpangan. Reformasi tata kelola dan inflasi yang sehat adalah angin segar, tapi fiscal burden dan demographic decline adalah juga berat. Bagi investor yang ingin eksposur ke Jepang, fokus ke perusahaan yang punya pricing power dan return on equity yang tinggi, bukan sekadar beli indeks.