LIVE
BTC· ETH· BNB· SOL· XRP· ADA· DOGE· USD/IDR· EUR/USD· USD/JPY· USD/SGD·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

Yen Tembus 158, Tekanan Makin Dalam

Yen Jepang jadi mata uang terlemah di G-10 bulan Agustus. USD/JPY menembus 158 di tengah defisit current account dan sinyal rate hike BoJ.


Yen Jepang kembali tertekan. USD/JPY menembus level 158 dan sempat menyentuh area 158.400 dalam sesi perdagangan terkini — pergerakan yang mencerminkan betapa dalamnya tekanan terhadap mata uang ini. Di antara seluruh mata uang G-10, yen menjadi yang paling lemah sepanjang Agustus.

Yang memperburuk sentimen adalah data current account bulan Juni yang berbalik arah secara drastis. Konsensus memperkirakan surplus ¥1,512 triliun, tapi yang keluar justru defisit ¥923 miliar — ini defisit pertama sejak Januari 2025. Selisih antara ekspektasi dan realisasi sebesar hampir ¥2,5 triliun bukan angka kecil. Ini sinyal bahwa fundamental eksternal Jepang sedang di bawah tekanan, bukan sekadar noise pasar.

Di sisi lain, efek intervensi bersama AS-Jepang yang sempat menahan laju pelemahan yen kini mulai fade out. Tanpa ada tindakan lanjutan yang konkret, pasar cenderung kembali ke arah fundamentalnya — dan fundamentalnya saat ini tidak mendukung penguatan yen dalam jangka pendek.

Menariknya, Bank of Japan justru mengirimkan sinyal yang sedikit berbeda. Dalam ringkasan opini Juli, salah satu anggota dewan menyebut bahwa rate hike bisa datang lebih cepat dari jadwal, seiring meningkatnya inflation risks. Ini bukan pernyataan kosong — BoJ selama bertahun-tahun dikenal ultra-dovish, dan setiap pergeseran nada dari institusi ini biasanya direspons pasar dengan serius.

Paradoksnya, sinyal hawkish dari BoJ belum cukup untuk menahan depresiasi yen saat ini. Pasar tampaknya masih menganggap rate hike BoJ sebagai sesuatu yang belum pasti, sementara tekanan dari sisi current account dan meredanya intervensi bekerja lebih cepat. Hasilnya: yen tetap tertekan meski ada narasi pengetatan moneter yang mulai menguat.

Bagi investor yang memiliki eksposur ke aset berdenominasi yen — atau yang memantau saham-saham Jepang dari sisi mata uang — dinamika ini layak diperhatikan. Pelemahan yen secara historis menguntungkan eksportir besar Jepang, tapi jika disertai defisit current account yang melebar, manfaat itu bisa terkikis oleh naiknya biaya impor energi dan bahan baku. Skenario stagflasi ringan bukan sesuatu yang bisa diabaikan begitu saja.

Untuk USD/JPY sendiri, area 158.400–158.500 menjadi resistance terdekat yang perlu diperhatikan. Jika level ini ditembus dengan volume yang solid, potensi kenaikan lanjutan terbuka. Sebaliknya, jika BoJ benar-benar mengeksekusi rate hike lebih awal, koreksi tajam bisa terjadi dengan cepat — pasar short yen saat ini cukup padat.