Lonjakan US Treasury yield pada 2026 memperbesar risiko fiskal Amerika Serikat secara material. Pada 23 Juli 2026, yield Treasury nominal tenor 10 tahun mencapai 4,71%, sedangkan yield Treasury Inflation-Protected Securities (TIPS) berada di 2,43%. Keduanya masing-masing 51 dan 56 basis points di atas asumsi suku bunga tahunan dalam baseline anggaran April 2026.
Selisih yang tampak kecil tersebut memiliki dampak besar karena diterapkan pada outstanding federal debt yang sangat tinggi. Jika yield shock 2026 bertahan dan menggeser seluruh lintasan biaya pinjaman pemerintah ke level lebih tinggi, tambahan utang federal diproyeksikan menembus US$1 triliun pada 2033 dan mendekati US$2 triliun pada 2037. Estimasi ini mengasumsikan variabel ekonomi lainnya tidak berubah.
Tekanan sudah terlihat dari perbandingan tahunan. Sepanjang 2025, yield nominal 10 tahun dan TIPS rata-rata berada di 4,29% dan 1,96%. Hingga 23 Juli 2026, rata-ratanya naik menjadi 4,34% dan 2,01%, sebelum mencapai 4,71% dan 2,43%. Level yield di berbagai tenor juga berada di sekitar titik tertinggi dalam dua dekade atau lebih.
Baseline sebelumnya hanya memperkirakan kenaikan gradual yield Treasury 10 tahun dari rata-rata 4,13% pada 2026 menjadi 4,39% pada 2036. Jika shock sebesar 51 bps menjadi permanen, proyeksi 2036 bergeser menjadi sekitar 4,90%. Sementara itu, Fed funds rate semula diasumsikan relatif stabil sedikit di bawah 3,4% selama satu dekade. Gap antara policy rate dan market-determined rates ini menunjukkan bahwa term premium, ekspektasi inflasi, serta suplai obligasi dapat mempertahankan long-end yield tetap tinggi meski kebijakan moneter tidak mengetat dengan skala serupa.
Efeknya bersifat kumulatif. Tambahan utang diperkirakan sebesar US$29 miliar pada 2026, US$100 miliar pada 2027, US$482 miliar pada 2030, US$1,08 triliun pada 2033, dan US$1,91 triliun pada 2036. Pada tahun tersebut, kenaikannya setara sekitar 0,65% dari GDP AS.
Bagi pasar, higher-for-longer Treasury yield menciptakan dua tekanan sekaligus: refinancing cost pemerintah meningkat dan discount rate untuk valuasi aset berisiko tetap tinggi. Saham growth dan perusahaan berleverage tinggi cenderung paling sensitif terhadap kondisi ini. Di sisi lain, yield yang lebih menarik dapat mempertahankan demand terhadap obligasi pemerintah, tetapi penerbitan baru yang besar berpotensi menambah term premium dan memicu feedback loop antara defisit, suplai Treasury, serta biaya bunga.