Satu tema mendominasi outlook pasar global saat ini: yield. Arah dan level US bond yields menentukan hampir semua keputusan alokasi aset — dari equities hingga gold, dari USD hingga EM bonds. Dan saat ini, konsensus mulai bergeser: yields kemungkinan sudah atau mendekati puncaknya, setidaknya di sisi pendek kurva.
US 30-year bond yield sempat menyentuh 5.34%, tertinggi sejak 2007, didorong oleh kombinasi fiscal deficit USD 1.8 triliun, national debt di atas USD 40 triliun, heavy AI-related bond issuance, dan Fed yang enggan memberikan forward guidance. Tapi tekanan ini mulai mereda. Core CPI sudah dua bulan berturut-turut turun ke 2.5%, unit labour costs terkonfirmasi terkendali di 1.4%, dan non-farm payrolls Juli bahkan kontraksi 23,000. Sinyal disinflasi ini memberikan ruang bagi Fed untuk tetap on hold — bukan memangkas, tapi juga tidak menaikkan.
Yang menarik, US Treasury mulai melakukan buyback agresif pada long-dated bonds, menggandakan operasinya dari USD 2 miliar menjadi USD 4 miliar per operasi. Ini sinyal intervensi yang — meski tidak cukup untuk menurunkan yields secara struktural — cukup untuk memberi tekanan ke bawah pada USD. Implikasinya: USD melemah, dan gold menjadi salah satu penerima manfaat terbesar.
Gold sudah rebound lebih cepat dari ekspektasi. Target 3-bulan dinaikkan ke USD 4,750/oz dan 12-bulan ke USD 5,000/oz. Dua driver utama: melemahnya USD dan demand struktural dari EM central banks — dipimpin China dan Polandia. ETF demand juga sudah mulai pulih. Kombinasi ini cukup kuat untuk menjustifikasi posisi overweight pada gold setelah sebelumnya diturunkan.
Di sisi equities, tesis masih solid. Q2 US earnings season sangat kuat — 2026 EPS estimates naik 6% dari awal musim laporan, dengan proyeksi earnings growth 30% untuk 2026 dan 13% untuk 2027. Setiap kenaikan 25bps yield memang menekan valuasi sekitar 3–4%, tapi earnings cushion yang ada jauh lebih besar dari headwind tersebut. Selama yields tidak spike secara agresif di luar skenario dasar, equities masih punya ruang naik.
Dari sisi regional, dua pasar yang tetap overweight adalah US dan Asia ex-Japan (AxJ). AxJ menarik karena kombinasi earnings growth tertinggi di antara major markets dan valuasi P/E yang masih paling murah. Taiwan dan China menjadi pilihan utama dalam AxJ — Taiwan untuk visibility AI chip demand, China untuk valuation re-rating potential. India diturunkan ke core holding karena valuasi yang sudah stretched dan oil prices yang rangebound menciptakan ketidakpastian tambahan.
Sektor finansial layak mendapat perhatian khusus. Di US, Euro area, dan Jepang, sektor ini diuntungkan oleh steeper yield curve via expanding net interest margins. ECB diperkirakan masih akan menaikkan satu kali lagi ke 2.5% tahun ini sebagai langkah insurance, sementara BoJ direvisi menjadi dua kali kenaikan hingga akhir tahun — naik dari proyeksi sebelumnya satu kali — karena tekanan inflasi domestik yang menguat dan yen yang terus melemah di kisaran USD/JPY 159.
Untuk fixed income, postur yang direkomendasikan tetap selektif. Durasi 3–5 tahun masih menjadi sweet spot terbaik dari sisi risk/reward. Long-end (10+ tahun) masih rentan terhadap term premium yang meningkat dan kekhawatiran fiskal yang belum terselesaikan. EM USD government bonds tetap overweight — yield rata-rata 6.1% dengan fundamental fiskal yang masih solid dan issuance yang sudah front-loaded. Di sisi opportunistic, beberapa posisi menarik yang masih terbuka: US TIPS sebagai hedge inflasi, EU bank AT1 (FX-hedged), AAA-rated CLOs, AUD corporate bonds, dan US HY bonds untuk carry.
Satu risiko yang perlu diperhatikan: China. Ekonomi domestiknya masih bifurkasi — ekspor booming (naik 24% YoY di Juli, dengan integrated circuits melonjak 117%), tapi domestic demand melemah. Manufacturing PMI turun ke 49.2 dan services PMI ke 49.0. Beijing kemungkinan akan mengakselerasi fiskal di H2 melalui CNY 2 triliun stimulus yang sudah diotorisasi plus potensi RRR cut 25bps, tapi magnitude-nya masih terbatas. Ini bukan pivot besar — lebih ke fine-tuning.
Secara keseluruhan, probabilitas soft landing direvisi naik tipis ke 50%, dengan downside scenario (termasuk 15% peluang resesi dan 10% stagflasi jika konflik Timur Tengah memburuk) tetap sebagai tail risk yang tidak bisa diabaikan. Oil di kisaran USD 90/bbl menjadi variabel kunci — selama tidak ada eskalasi baru yang signifikan, inflasi punya ruang untuk terus melandai.