Rasio equal-weighted vs cap-weighted S&P 500 turun ke 1.11, level terendah ketiga sejak 2003. Mayoritas saham AS melemah sementara indeks utama naik.
Ada ilusi optis yang sedang terjadi di pasar saham Amerika Serikat. Indeks S&P 500 terlihat sehat — bahkan naik tipis — tapi di balik angka itu, rata-rata saham AS sedang kesulitan. Rasio antara equal-weighted S&P 500 terhadap S&P 500 reguler kini berada di level 1.11, yang merupakan level terendah ketiga sejak April 2003. Ini bukan sekadar statistik teknikal biasa — ini sinyal bahwa pasar saham AS sedang berjalan dengan satu kaki.
Sebelum masuk lebih dalam, penting untuk memahami apa bedanya dua indeks ini. S&P 500 biasa adalah indeks yang cap-weighted — artinya, perusahaan yang lebih besar punya bobot lebih besar dalam menentukan arah indeks. Bayangkan seperti rapat RT yang suara ketua RT dihitung sepuluh kali lipat dibanding warga biasa. Sementara itu, equal-weighted S&P 500 memberi bobot yang sama untuk semua 500 perusahaan — seperti pemungutan suara satu orang satu suara. Ketika rasio keduanya turun, artinya perusahaan-perusahaan besar sedang mendominasi, sementara mayoritas perusahaan lainnya tertinggal.
Dalam lima minggu terakhir, rasio ini sudah turun -5.5% secara kumulatif — penurunan beruntun selama lima pekan. Selama periode yang sama, equal-weighted S&P 500 turun -4.4%sementara S&P 500 reguler justru naik +0.8%. Ini seperti nilai rata-rata kelas yang naik bukan karena semua murid pintar, tapi karena satu-dua murid jenius mendongkrak keseluruhan rata-rata — sementara sisanya justru nilainya memburuk.
Yang lebih mengkhawatirkan adalah konteks jangka panjangnya. Rasio ini kini sedang menuju penurunan tahunan keempat berturut-turut — streak terpanjang sejak tahun 1999. Bagi yang ingat sejarah pasar, 1999 adalah tahun puncak euforia dot-com sebelum bubble pecah pada 2000-2002. Perbandingan ini bukan berarti crash pasti akan terjadi, tapi polanya menunjukkan bahwa konsentrasi pasar pada segelintir saham sudah berlangsung sangat lama dan semakin ekstrem. Sebagai pembanding, rasio ini pernah mencapai puncaknya di level 1.60 pada April 2015 — artinya dari puncak ke posisi saat ini, terjadi penyempitan yang signifikan dalam representasi kekuatan pasar secara luas.
Siapa yang menopang indeks? Jawaban singkatnya: narasi kecerdasan buatan atau AI. Saham-saham yang berasosiasi kuat dengan tema AI — yang kebetulan juga memiliki kapitalisasi pasar raksasa — terus menarik institutional buying dan mengangkat indeks cap-weighted. Ini menciptakan divergensi yang mencolok: indeks headline terlihat oke, tapi market breadth — atau seberapa luas partisipasi kenaikan di antara semua saham — sedang melemah. Ibarat jalan tol yang terlihat lancar karena satu jalur VIP tidak macet, padahal jalur reguler penuh kemacetan.
Jika kondisi ini terus berlanjut dan earnings momentum dari saham-saham AI mulai melambat atau mengecewakan ekspektasi, maka tidak ada lagi yang menopang indeks dari bawah — penurunan bisa terjadi lebih tajam dari yang terlihat di permukaan karena mayoritas saham sudah lebih dulu melemah. Sebaliknya, jika market breadth mulai pulih dan saham-saham di luar tema AI ikut menguat, rasio equal-weighted bisa berbalik naik dan memberikan sinyal bahwa rally pasar menjadi lebih sehat dan berkelanjutan.
Yang perlu dipantau ke depan adalah apakah divergensi ini semakin melebar atau mulai menyempit. Jika dalam beberapa pekan ke depan equal-weighted index tidak mampu ikut naik meski indeks utama bertahan, itu adalah tanda bahwa fondasi pasar saham AS semakin rapuh — mengandalkan terlalu sedikit pemain untuk menanggung beban terlalu besar.