LIVE
USD/IDR· UST10Y· KURVA 10Y-2Y· EMAS· EMAS/gr· PERAK· TEMBAGA· EUR/USD· USD/JPY· USD/CNY· BTC· ETH·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

AI Boom: $602 Miliar Capex Hyperscaler 2026

Lima hyperscaler terbesar dunia diperkirakan belanjakan $602 miliar capex di 2026. Ini bukan sekadar tren teknologi — ini capital-market story besar.


AI bukan lagi sekadar hype di konferensi teknologi. Ia sudah berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih konkret: capital allocation story terbesar dalam sejarah pasar modal modern.

Bayangkan ini seperti era pembangunan jalan tol. Sebelum mobil bisa melaju kencang, infrastrukturnya harus dibangun dulu — dan yang membangunnya adalah perusahaan dengan modal terbesar. Di era AI, "jalan tol" itu adalah data center, chip, dan cloud infrastructure. Dan yang membangunnya adalah lima hyperscaler terbesar dunia.

Proyeksi capex gabungan lima perusahaan ini untuk tahun 2026 mencapai sekitar US$602 miliar. Angka ini bukan kecil — ini setara dengan lebih dari dua kali PDB tahunan negara seperti Selandia Baru, atau hampir separuh dari total APBN Indonesia dalam satu tahun.

Rinciannya: Microsoft memimpin dengan US$160 miliar, diikuti Amazon US$155 miliar, Alphabet US$125 miliar, Meta US$120 miliar, dan Oracle US$42 miliar. Menariknya, Oracle — yang secara ukuran jauh lebih kecil dari empat nama di atasnya — tetap masuk daftar dengan angka capex yang tidak main-main.

Dari sudut pandang investasi, ini punya implikasi berlapis. Pertama, spending sebesar ini mengalir ke ekosistem yang sangat spesifik: produsen chip (terutama GPU), pemasok peralatan data center, penyedia energi untuk fasilitas komputasi, hingga perusahaan konstruksi dan real estate industrial. Artinya, earnings momentum bukan hanya milik perusahaan AI-nya sendiri, tapi juga seluruh rantai pasok di belakangnya.

Kedua, ini adalah sinyal bahwa para pemimpin industri melihat AI bukan sebagai eksperimen — tapi sebagai infrastruktur bisnis inti jangka panjang. Ketika Microsoft dan Amazon sama-sama mengalokasikan lebih dari US$150 miliar dalam satu tahun, itu bukan keputusan yang diambil tanpa conviction yang sangat kuat soal return on investment ke depan.

Ketiga, bagi investor di pasar saham — termasuk IHSG — pergeseran ini relevan karena institutional money global semakin terkonsentrasi di sektor teknologi dan infrastruktur AI. Foreign flow ke pasar berkembang pun bisa terpengaruh jika alokasi global bergeser lebih berat ke ekosistem AI yang sebagian besar berpusat di AS.

Yang perlu dipahami: AI boom tidak berarti semua saham teknologi naik serentak. Yang menang adalah mereka yang benar-benar duduk di jalur belanja infrastruktur ini — bukan yang hanya menempel label "AI" di produk mereka. Dalam investasi, seperti dalam konstruksi jalan tol, yang paling diuntungkan adalah yang menjual semen dan baja — bukan yang sekadar memasang spanduk di pinggir jalan.