Selama AI investment boom berlanjut, kawasan Asia dinilai cukup tangguh menghadapi kenaikan fed funds rate menuju 4,50%. Ini implikasinya bagi pasar.
Federal Reserve kembali menaikkan fed funds rate sebesar 25 bps ke level 4,00%, dan pasar sudah mempricing dua kenaikan lagi hingga akhir tahun — artinya kita bergerak menuju 4,50%. Di saat yang sama, US 10-year Treasury yield menyentuh 5% dan harga minyak bertahan di atas USD 100/bbl. Secara historis, kombinasi seperti ini cukup untuk memukul aset-aset emerging market Asia secara signifikan.
Tapi siklus kali ini punya variabel yang berbeda: AI investment boom.
Ekspor kawasan Asia — terutama yang terkait dengan komponen semikonduktor dan infrastruktur teknologi — tetap kuat justru karena belanja modal (capex) para hyperscaler global terus mengalir deras. Taiwan menjadi salah satu barometer paling jelas: export orders bulan Agustus diproyeksikan tumbuh 67,4% y/y, jauh di atas konsensus pasar di 63,6%. Angka ini bukan sekadar data ekspor biasa — ini mencerminkan betapa dalamnya permintaan terhadap hardware AI di seluruh rantai pasok global.
Dari sisi capex hyperscaler, trennya cukup striking. Total belanja modal global para pemain besar teknologi — yang mencakup infrastruktur cloud dan AI — diproyeksikan melonjak dari sekitar USD 0,50 triliun di 2025 menjadi hampir USD 1,0 triliun di 2026. Growth rate-nya bahkan diperkirakan mencapai puncak di kisaran 93% pada 2026 sebelum mulai melambat. Puncak belanja modal secara nominal baru diperkirakan terjadi sekitar 2029–2030, di level sekitar USD 1,6 triliun.
Artinya, runway-nya masih panjang. Asia — khususnya negara-negara yang berada di rantai pasok AI — masih punya beberapa tahun untuk menikmati terms-of-trade yang menguntungkan dari tren ini.
Yang menarik adalah posisi Bank Indonesia dalam konteks ini. BI diperkirakan menaikkan suku bunga acuan ke 6,00% — lebih agresif dari konsensus pasar di 5,75%. Langkah ini mencerminkan prioritas menjaga stabilitas Rupiah di tengah tekanan yield AS yang tinggi. Bagi investor yang memantau IDR, sinyal hawkish dari BI seharusnya cukup untuk meredam tekanan depresiasi jangka pendek, meski tentu saja ada trade-off terhadap pertumbuhan domestik.
Singapura juga masuk dalam radar: inflasi CPI Agustus diproyeksikan naik ke 2,4% y/y. Bukan angka yang mengkhawatirkan secara absolut, tapi dalam konteks kebijakan MAS yang sudah cukup ketat, ini tetap jadi variabel yang perlu diikuti.
Risiko utama dari narasi bullish ini cukup jelas: koreksi tajam di pasar teknologi AS — entah dipicu oleh kekhawatiran valuasi atau mulai munculnya keraguan terhadap return on investment infrastruktur AI — bisa dengan cepat membalik arus modal keluar dari Asia. Selama hyperscaler terus belanja dan pasar percaya pada prospek AI jangka panjang, Asia punya buffer. Begitu sentimen berubah, dinamikanya bisa berbalik lebih cepat dari yang diantisipasi.