Disparitas yield global kian tajam di tengah lonjakan capex AI. Mengapa 74% pertumbuhan laba EM kini bergantung penuh pada siklus semikonduktor?
Pasar obligasi global terbelah ke dalam tiga rezim yang berseberangan. Yield US Treasury 10-tahun merangkak naik melewati 5,17%—tingkat tertinggi yang mencerminkan era sebelum krisis finansial global—terdorong oleh defisit fiskal AS dan estimasi capex hyperscaler senilai USD 1 triliun. Di ujung lain, yield obligasi pemerintah China tertekan hingga 1,67% akibat simpanan rumah tangga melimpah yang tak terserap ke sektor properti. Sementara India bertahan stabil di level 7,0% berkat basis investor domestik yang solid.
- Yield US 10Y tembus 5,17%: Harga uang melonjak seiring kelangkaan modal dan ekspansi infrastruktur komputasi.
- Konsentrasi laba EM ekstrem: Sektor teknologi menyumbang 74% dari total proyeksi pertumbuhan laba pasar berkembang 2026.
- Risiko capex AI: Rasio capex terhadap penjualan emiten teknologi saat ini mencapai dua kali lipat puncak gelembung dot-com tahun 2000.
Kondisi ini menempatkan pasar saham global dalam posisi yang terpolarisasi. Lonjakan proyeksi laba bersih di Emerging Markets (EM) tahun ini hampir seluruhnya ditopang oleh Korea Selatan (proyeksi YoY >300%) dan Taiwan (~50%). Pasar menjadikan saham teknologi EM sebagai proxy murni dari AI supercycle. Masalahnya, ketika belanja modal infrastruktur AI berjalan jauh lebih cepat daripada monetisasi perangkat lunak korporasi, ancaman ROI fatigue mulai membayangi. Jika raksasa teknologi menahan laju belanja modal, emiten produsen chip dan pemasok peralatan fabrikasi akan memikul koreksi valuasi paling keras.
Di luar sektor teknologi, tren menarik terlihat pada ketahanan mata uang EM. Berbeda dari siklus historis di mana penguatan indeks DXY memicu arus modal keluar, mata uang EM relatif stabil berkat real yield cushion yang tebal pasca kenaikan suku bunga lebih awal. Sementara itu, ekuitas Jepang melaju pesat dengan Nikkei 225 mencatat kenaikan 31,7% YTD, didorong oleh efektivitas reformasi tata kelola korporasi (Value-Up) serta munculnya pricing power emiten dalam meneruskan kenaikan biaya ke konsumen.
Variabel penentu yang paling krusial untuk dipantau saat ini bukanlah arah pivot suku bunga acuan semata, melainkan bukti monetisasi nyata dari adopsi AI di tingkat enterprise serta risiko inflasi sekunder jika harga minyak mentah WTI terus bertahan di atas USD 92 per barel.