LIVE
USD/IDR…· UST10Y…· KURVA 10Y-2Y…· EMAS…· EMAS/gr…· PERAK…· TEMBAGA…· EUR/USD…· USD/JPY…· USD/CNY…· BTC…· ETH…·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

AI Scarcity vs Abundance: Peta Investasi Q4 2026

Tema besar yang mendominasi outlook Q4 2026 bukan soal apakah AI akan mengubah ekonomi global — itu sudah terjawab. Pertanyaannya sekarang jauh lebih spesifik: siapa yang menang dari kelangkaan (scarcity) yang muncul akibat buildout AI yang semakin cepat, dan siapa yang justru terhantam oleh tingginya suku bunga yang menyertainya?

Dua kekuatan ini — AI-driven abundance di satu sisi, rate pressure di sisi lain — sedang beradu, dan hasilnya tidak seragam untuk semua aset.

Di sisi makro, aktivitas ekonomi AS yang menguat justru menjaga tekanan inflasi tetap hidup. Wage growth masih elevated, core services inflation belum jinak, dan yang penting: breakeven rate penciptaan lapangan kerja kini lebih rendah dari sebelum pandemi karena pergeseran demografis. Artinya, pertumbuhan payroll yang terlihat "biasa saja" secara angka sebenarnya masih kencang relatif terhadap supply tenaga kerja yang ada. Ini bukan sinyal dovish bagi The Fed.

Gangguan di Selat Hormuz sempat memunculkan kekhawatiran shock harga minyak mentah — dan memang ada shortfall. Tapi yang menarik, berbagai buffer (pelepasan strategic reserves, penyesuaian demand, inventory drawdown) berhasil meredam dampak ke crude price. Masalahnya, tekanan itu kemudian migrasi ke refined products — jet fuel, diesel, gasoline — yang harganya melonjak signifikan. Analoginya seperti memencet balon: satu sisi kempes, sisi lain menggelembung. Selama refined products tetap mahal, inflation risk tidak benar-benar pergi.

Di pasar obligasi, yield jangka panjang AS sudah melonjak tajam sepanjang musim panas 2026. Sekitar 84% dari universe obligasi global kini sudah menawarkan yield di atas 4% — sebuah normalisasi yang tidak kita lihat selama lebih dari satu dekade. Tapi ada catch: term premium — kompensasi ekstra yang investor minta untuk memegang obligasi jangka panjang — masih relatif rendah dibanding sejarah. Jika kepercayaan fiskal terhadap AS mulai goyah, term premium bisa melonjak dan menyeret yield lebih tinggi lagi. Ini adalah tail risk yang perlu dimonitor.

Posisi yang direkomendasikan: short- dan medium-term bonds lebih disukai daripada long bonds. Long-duration bonds bukan hanya lebih sensitif terhadap rate, tapi juga kehilangan fungsinya sebagai portfolio diversifier di rezim inflasi tinggi seperti sekarang.

Di sisi ekuitas, yang menarik adalah ketahanan earnings. S&P 500 forward earnings terus naik, dan perusahaan-perusahaan yang masuk kategori AI suppliers mencatat earnings growth jauh di atas rata-rata sejak 2023. Ini yang membuat equities bisa menyerap kenaikan yield dengan jauh lebih baik dibanding episode 2022 — saat itu earnings tidak punya "pelindung" yang sama. Posisi: overweight U.S. equities dipertahankan.

Yang lebih menarik adalah upgrade pada emerging market equities ke overweight dari sebelumnya neutral. Relative forward earnings EM terhadap developed markets masih supportif, dan leverage di beberapa pasar yang sebelumnya crowded — seperti Korea Selatan via single-stock leveraged ETF Samsung dan SK Hynix — sudah turun tajam setelah guncangan musim panas. Valuasi lebih murah, earnings relatif kuat. Untuk EM, fokus diarahkan ke ekspresi AI scarcity theme di Asia dan Amerika Latin.

Untuk China, posisi tetap neutral. Ada peluang di physical AI, tapi cheap open-source AI yang mendorong adoption tidak otomatis menguntungkan AI providers secara profitabilitas. Ini perbedaan penting yang sering dilewatkan.

Soal AI sendiri, tidak ada warning sign yang muncul sejauh ini. Hyperscalers (Alphabet, Amazon, Microsoft, Meta, Oracle) terus menaikkan capex guidance — total 2026 diestimasi sekitar USD 720 miliar. Anthropic sudah mencatat annual recurring revenue USD 74 miliar per akhir Juli, melampaui OpenAI di USD 41 miliar. DRAM naik 75% year-to-date. Semua ini menunjukkan bahwa bottleneck nyata — chip, power, memory, data center — sedang menjadi binding constraint, dan di situlah peluang investasi paling konkret berada.

Tapi ada risiko yang perlu dicermati: refinancing pressure. Banyak data center dan leveraged loan yang diterbitkan saat suku bunga masih rendah akan jatuh tempo antara 2027–2031. Ketika mereka harus refinance di environment yield yang jauh lebih tinggi, kebutuhan monetisasi revenue AI menjadi lebih mendesak. Ini bukan krisis yang sudah di depan mata, tapi cukup untuk menjadi faktor seleksi — emiten dengan cash flow yang jelas dan covenant yang kuat akan jauh lebih aman.

Di private markets, dispersion antar fund semakin lebar. Vintage buyout dari era low-rate (2019–2021) yang heavily exposed ke software dan high-multiple deals akan mengalami tekanan paling besar. Manager selection di private equity bukan lagi nice-to-have — ini krusial.

Satu framing yang berguna: bagi perusahaan dan sektor yang punya high AI upside tapi low rate sensitivity — hyperscalers, semiconductor, data centers, energy & power infrastructure — ini adalah sweet spot. Sebaliknya, real estate, REITs, dan traditional capital-intensive industries berada di kuadran terburuk: rate pressure tinggi, AI upside terbatas.