LIVE
BTC· ETH· BNB· SOL· XRP· ADA· DOGE· USD/IDR· EUR/USD· USD/JPY· USD/SGD·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

AS 2026: Tumbuh, Tapi Fondasinya Retak

Angka headline-nya masih terlihat oke — GDP AS 2026 diproyeksikan tumbuh 2.1%, unemployment rate di kisaran 4.4%, dan ISM Manufacturing baru saja mencatat 55.6, tertinggi sejak Mei 2022. Tapi kalau dibaca lebih dalam, ada banyak hal yang mulai retak di bawah permukaan.

Dua engine utama yang menopang pertumbuhan saat ini adalah consumer spending dan AI-related investment. Masalahnya, consumer spending sedang melambat. Retail sales Juli turun 0.6% — penurunan bulanan terbesar sejak Mei 2025. Personal saving rate sudah jatuh ke level historis terendah. Delinquency kartu kredit sekarang lebih tinggi dari periode Global Financial Crisis. Household masih belanja, tapi mereka sudah mulai menarik dari tabungan dan kredit, bukan dari income growth yang solid.

Di sisi inflasi, headline CPI Juli turun tipis ke 3.4% y/y dan core eased ke 2.5% — secara teknis ini adalah kemajuan. Tapi path ke target 2% Fed masih panjang dan tidak mulus. Upside risk masih nyata: tensi geopolitik di Timur Tengah, tariff pass-through yang belum sepenuhnya tercermin di harga, dan yang menarik — AI investment sendiri mulai mendorong harga software dan computing equipment ke atas. Disinflasi sedang berjalan, tapi bisa dengan mudah terganggu.

Fed sendiri sedang dalam posisi yang tidak nyaman. Rate ditahan di 3.50–3.75%, tapi FOMC terpecah. Mayoritas memilih wait-and-see, sementara beberapa anggota — termasuk tiga dissenting voters — ingin hike 25bp sekarang. Yang lebih mengkhawatirkan adalah komunikasi Chair Warsh yang dinilai pasar tidak konsisten, membuat odds September rate hike bergerak liar dari hampir 100% ke sekitar 33% hanya dalam beberapa minggu. Ini bukan sinyal kredibilitas yang kuat.

Bond market sudah bereaksi. US 10-year Treasury yield bertahan di sekitar 4.7%, sementara 30-year yield menembus 5.2% — level tertinggi sejak 2007. Tekanan ini bukan cyclical, melainkan struktural: fiscal deficit yang besar, capital demand dari AI investment boom, dan risk premium yang naik karena ketidakpastian inflasi. Treasury bahkan mengumumkan buyback operasi diperbesar untuk segmen 10–30 tahun, tapi ini hanya memberikan relief sementara tanpa mengubah underlying force-nya.

Labor market juga mengirimkan sinyal yang sama — melambat tapi belum runtuh. Nonfarm payroll Juli turun 23,000, dan revisi dua bulan sebelumnya mencapai minus 103,000. Three-month average job growth sekarang hanya sekitar 20,000 per bulan. Bisnis masih hiring, tapi sangat selektif — hanya untuk critical roles dan specific skills. Labor force participation rate juga turun ke level terendah dalam 50 tahun, sebagian karena aging demographics dan restriksi migrasi, yang secara artifisial menekan angka unemployment.

Satu bright spot yang genuine: produktivitas. Labor productivity tumbuh 2.2% y/y per Q2 2026, di atas pace pre-pandemic. Ini yang membuat banyak bisnis bisa menyerap cost pressure tanpa harus sepenuhnya pass-through ke konsumen. Dan ini belum sepenuhnya driven by AI — lebih banyak dari workforce optimization, automation, dan capital discipline yang sudah dibangun bertahun-tahun. Ke depan, AI adoption yang lebih luas berpotensi mendorong productivity lebih jauh, tapi timeline-nya gradual, bukan instant.

Untuk downside scenario, trigger yang paling relevan adalah eskalasi konflik Timur Tengah. Jika Strait of Hormuz efektif tertutup, model skenario severe menunjukkan oil price bisa ke $150/barel, global GDP growth turun ke 1.6%, dan global CPI melonjak ke 6.9% — sebuah stagflationary shock yang akan sangat sulit dikelola Fed dengan toolkit yang ada sekarang. Base case masih menganggap situasi geopolitik mereda secara bertahap, tapi probabilitas adverse scenario tidak bisa diabaikan.

Bottom line: ekonomi AS masih tumbuh, tapi growth foundation-nya semakin sempit. Consumer mulai kelelahan, yield jangka panjang naik secara struktural, Fed kehilangan clarity komunikasi, dan risiko geopolitik tetap elevated. Ini bukan resesi, tapi ini juga bukan environment yang nyaman untuk mengambil risk tanpa memahami betul apa yang sedang terjadi di bawah permukaan.