BoJ memangkas pembelian JGB ke ¥2,9T/bulan dan mulai jual ETF — balance sheet susut 12,6%. Simak implikasinya untuk yield global, carry trade, dan Indonesia.
Bank of Japan sedang melakukan hal yang belum pernah terjadi dalam tiga puluh tahun terakhir: menjual obligasi dan memperkecil neraca dengan kecepatan paling agresif dalam sejarah modern.
Dalam satu dekade terakhir, BoJ adalah pembeli terbesar di pasar obligasi terbesar kedua di dunia. Sekarang perannya berbalik — dan dampaknya mulai terasa dari Tokyo hingga New York.
Balance Sheet Susut 12,6%, JGB Holdings Turun 10%
Berdasarkan data resmi Bank of Japan per Maret 2026, total aset BoJ tercatat ¥662,1 triliun — turun ¥67,6 triliun (9,3%) dari tahun sebelumnya. Dari puncaknya di tahun 2024, BoJ telah memangkas ¥94,3 triliun atau 12,6% dari total asetnya. Dalam dolar, itu setara dengan ~$590 miliar yang "menghilang" dari neraca bank sentral paling agresif di Asia.
Penurunan terutama berasal dari holding Japanese Government Bonds (JGB) yang turun lebih dari 10% atau ¥61,4 triliun dari level tertinggi di 2023. BoJ secara bertahap mengurangi pembelian bulanan JGB dari ~¥6 triliun (sebelum 2024) menjadi hanya ¥2,5–2,9 triliun per bulan di pertengahan 2026. Bahkan di kuartal Juli-September 2026 ini, alokasi pembelian hanya sekitar ¥2,5 triliun per bulan — level terendah sejak program QQE diluncurkan April 2013.
Yield 10 Tahun Tembus 3%: Psikologis dan Nyata
Konsekuensinya langsung terlihat di pasar obligasi. Imbal hasil (yield) JGB tenor 10 tahun menembus level 3% pada 1 September 2026 — pertama kalinya sejak 1996. Angka psikologis ini lebih dari sekadar simbol: sejak Agustus 2025, yield 10 tahun JGB telah naik lebih dari 140 bps. Imbal hasil tenor 5 tahun menyentuh rekor tertinggi, dan tenor 2 tahun mencapai level tertinggi dalam 31 tahun.
Kenaikan ini terjadi di tengah lonjakan yield global yang sinkron: US Treasury 10 tahun di 4,78%, Bund Jerman di 3,34%, dan yield obligasi Australia mencatat kenaikan harian terbesar dalam lima bulan. Pasar global sedang merepricing risiko secara serempak.
BoJ Tak Cuma Jual Obligasi — Mulai Jual ETF dan J-REIT
Langkah yang lebih jarang dibahas: BoJ mulai menjual kepemilikan ETF dan J-REIT (real estate) yang terakumulasi selama era Abenomics. Di kuartal pertama 2026, BoJ mengurangi holding ETF dan J-REIT senilai ¥66 miliar menjadi ¥37,78 triliun. Angka ini kecil, tapi sinyalnya besar: untuk pertama kalinya dalam sejarah, bank sentral Jepang menjadi net seller aset berisiko.
Dengan Nikkei 225 yang telah naik ~500% sejak BoJ mulai membeli ETF di 2012, dan BoJ mencatat ETF di buku dengan harga akuisisi (bukan harga pasar), potensi realized gain dari penjualan ini sangat signifikan. Namun kecepatan penjualan ETF masih sangat lambat — ~¥330 miliar per tahun — jadi dampak langsung ke pasar saham masih minimal. Yang penting di sini adalah arah kebijakan, bukan volumenya.
Di Mana Posisi Indonesia?
Untuk investor Indonesia, ada tiga implikasi yang layak dicermati.
Pertama, repatriasi modal Jepang. Jepang adalah pemegang asing terbesar US Treasury dengan lebih dari $1 triliun. Jika yield JGB terus naik, investor institusi Jepang — dana pensiun, perusahaan asuransi jiwa — mulai tergoda membawa pulang modalnya. Itu berarti tekanan jual di pasar Treasury AS, dan dampak lanjutannya ke yield global termasuk Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia.
Kedua, carry trade yen semakin tidak menarik. Selama bertahun-tahun, yen menjadi "funding currency" favorit karena suku bunga Jepang mendekati nol. Sekarang suku bunga acuan BoJ di 1% dan probabilitas kenaikan September 2026 di atas 90% (menurut Overnight Index Swap), selisih suku bunga dengan negara lain menyempit. Ini mengurangi aliran dana murah ke emerging market termasuk Indonesia.
Ketiga, ketidakpastian fiskal Jepang. Utang pemerintah Jepang terhadap PDB tetap tertinggi di antara negara maju. Anggaran FY2026 Jepang mengasumsikan yield jangka panjang di 3% untuk perhitungan pembayaran bunga utang. Jika yield bertahan di atas 3%, ruang fiskal Perdana Menteri Takaichi untuk belanja ekspansif (semikonduktor, AI) akan menyempit. Dan pasar global tidak suka ketidakpastian fiskal — terutama dari negara yang menduduki peringkat pertama utang/PDB.
Catatan Penting: Ini Normalisasi, Bukan Krisis
Penting untuk tidak membaca narasi ini secara sensasional. Yang dilakukan BoJ adalah normalisasi kebijakan moneter — melepas posisi darurat yang terakumulasi selama satu dekade lebih. Tidak seperti Federal Reserve yang menaikkan suku bunga agresif di 2022–2023, BoJ memilih jalur quantitatif tightening bertahap dengan komunikasi yang terukur.
BoJ sendiri menegaskan akan mempertahankan pembelian JGB ~¥2 triliun per bulan mulai April 2027 — sekitar 20% dari penerbitan JGB bulanan, setara porsi sebelum krisis keuangan 2008. Proyeksi holding JGB per Maret 2030 turun 36–39% dari level Juni 2024. Jadi ini bukan likuidasi besar-besaran, melainkan pengurangan bertahap yang sudah direncanakan.
Tapi seperti kata seorang analis: "the direction matters more than the speed." Ketika bank sentral paling dovish di dunia berubah menjadi net seller obligasi, pasar global harus merekalibrasi ekspektasi mereka — dan Indonesia tidak terkecuali.
— Rikopedia