LIVE
USD/IDR…· UST10Y…· KURVA 10Y-2Y…· EMAS…· EMAS/gr…· PERAK…· TEMBAGA…· EUR/USD…· USD/JPY…· USD/CNY…· BTC…· ETH…·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

Bank Sentral Diam-Diam Borong Emas Jauh Lebih Banyak

Data estimasi pembelian emas bank sentral bulan Juli tembus 44 ton, jauh di atas angka resmi 23 ton. Apa artinya buat harga emas dan saham tambang.


Selisihnya 21 ton dalam satu bulan. Itu angka yang bikin data resmi pembelian emas bank sentral dunia jadi terasa seperti laporan yang sengaja dipangkas.

Riset Rikopedia mencatat estimasi pembelian emas bank sentral global pada Juli tembus 44 ton, melonjak 158 persen dari rata-rata era sebelum 2022 yang cuma 17 ton per bulan. Tapi angka yang dilaporkan resmi ke publik cuma 23 ton. Ada gap 21 ton emas yang masuk ke brankas bank sentral tanpa tercatat di laporan resmi bulan itu juga.

Tiga Angka yang Mengubah Cara Baca Pasar Emas

  • Rata-rata 3 bulan pembelian sekarang di angka 91 ton, mendekati level tertinggi sejak pertengahan 2025.
  • Rata-rata 12 bulan bergerak di kisaran 50 sampai 60 ton, jauh di bawah rata-rata 3 bulan yang 91 ton itu. Ini sinyal akselerasi, bukan tren datar.
  • Pembelian resmi bulanan belum pernah tembus 60 ton sejak November 2024, padahal permintaan riil diperkirakan jauh lebih tinggi dari itu.
  • Gap antara data estimasi dan data resmi konsisten terjadi berbulan-bulan, bukan anomali satu periode.

Kenapa bisa ada selisih sebesar itu? Bank sentral melaporkan cadangan emas ke IMF dan lembaga statistik nasional secara sukarela dan dengan jeda waktu. Beberapa negara, terutama yang sedang diversifikasi cadangan devisa dari dolar AS, sengaja menunda atau tidak melaporkan pembelian secara penuh supaya tidak menggerakkan harga pasar lebih dulu sebelum akumulasi mereka selesai.

Bayangkan pasar emas fisik seperti pasar grosir beras. Kalau satu pembeli besar tiba-tiba borong ratusan karung sekaligus dan itu diumumkan ke seluruh pedagang, harga langsung naik sebelum dia sempat menambah stok. Maka pembeli besar itu memilih beli sedikit-sedikit lewat beberapa agen berbeda, baru melaporkan totalnya belakangan atau bahkan tidak penuh. Itu yang kemungkinan terjadi di level bank sentral: akumulasi senyap supaya harga beli rata-ratanya tetap murah.

Siapa yang Diuntungkan dari Pola Ini

Permintaan riil yang lebih tinggi dari angka resmi berarti ada demand floor di pasar emas yang tidak terlihat di data headline. Setiap kali harga emas koreksi, ada pembeli institusional besar yang menyerap di level bawah tanpa harus lapor real-time. Ini salah satu alasan kenapa emas belakangan cenderung cepat rebound setiap kali profit taking terjadi, karena ada buyer struktural yang tidak sensitif terhadap sentimen jangka pendek.

Bagi investor saham, ini relevan buat emiten pertambangan emas. ANTM sebagai pemain emas domestik dapat angin dari harga emas yang punya support struktural lebih kuat dibanding kalau cuma mengandalkan permintaan ritel dan perhiasan. Margin emiten tambang emas sensitif terhadap selisih harga jual dan biaya produksi, jadi kalau harga acuan emas tertahan di level tinggi karena demand bank sentral yang konsisten, operating leverage emiten tambang ikut terbantu.

Di sisi makro, tren ini juga cerminan dari proses de-dolarisasi cadangan devisa yang berjalan pelan tapi konsisten sejak 2022, mulai dari saat cadangan devisa Rusia dibekukan negara-negara Barat. Bank sentral yang khawatir aset dolarnya bisa dibekukan sewaktu-waktu karena risiko geopolitik memilih emas sebagai aset cadangan yang tidak bisa disita lewat sistem pembayaran internasional. Emas fisik ada di brankas sendiri, bukan di rekening bank asing.

Yang Perlu Dipantau ke Depan

Variabel paling menentukan di sini bukan angka bulanan, tapi konsistensi gap antara data estimasi dan data resmi. Kalau gap ini melebar terus dalam beberapa bulan ke depan, itu konfirmasi bahwa akumulasi cadangan emas oleh bank sentral bukan fenomena sesaat, melainkan pergeseran struktural dalam komposisi cadangan devisa global. Sebaliknya, kalau rata-rata 3 bulan mulai turun mendekati rata-rata 12 bulan, berarti fase akumulasi agresif mulai mereda dan harga emas kehilangan salah satu support pentingnya.

Untuk investor yang memantau saham emiten tambang emas atau produk investasi berbasis emas, angka pembelian bank sentral bulanan berikutnya jadi indikator yang lebih tajam dibanding sekadar melihat pergerakan harga spot harian.