Hasil 1H26 BBRI secara keseluruhan solid — net profit Rp31.2 triliun, naik 17.5% yoy, dan sudah memenuhi sekitar 52% dari full-year forecast. PPOP tumbuh 18.1% yoy di kuartal kedua, didorong NII yang naik 8.6% dan efisiensi opex yang turun 8.7%. Credit cost juga membaik ke 3.08% dari 3.35% di 1H25. Di atas kertas, angka-angkanya terlihat cukup meyakinkan.
Tapi kalau dicermati lebih dalam, ada pergeseran struktural yang perlu diperhatikan. Consolidated NIM bertahan di 7.7%, namun bank-only NIM hanya 6.4% — gap 130 basis poin itu hampir sepenuhnya ditopang oleh kontribusi Pegadaian dan PNM. Artinya, kekuatan NIM konsolidasi BBRI saat ini bukan berasal dari core banking-nya, melainkan dari subsidiaries yang yield-nya lebih tinggi.
Pegadaian sendiri tumbuh luar biasa — financing-nya melonjak 52.8% yoy ke Rp155.1 triliun, bahkan sudah menyamai skala Kupedes. Pawn dan gold-instalment financing tumbuh 62.3%, sementara net gold-sales revenue melejit 145%. Credit cost Pegadaian juga rendah di 1.5%, jauh di bawah micro loans yang 3.2%, karena model pinjaman berbasis agunan. Dalam banyak hal, Pegadaian kini menjadi engine pertumbuhan yang paling reliable di grup BBRI.
Di sisi lain, bank-only micro lending justru sedang dalam tekanan nyata. Kupedes turun 20.4% yoy, dan bank-only micro NPL masih elevated di 4.11%. Legacy cleanup dari cohort 2023–2024 masih berlanjut, dengan estimasi write-off sekitar Rp5.5 triliun di 2H26. Sementara itu, pertumbuhan loan justru didominasi corporate dan commercial yang menyumbang sekitar 69% dari incremental loan growth — segmen dengan yield lebih rendah yang secara struktural menekan lending yield bank-only.
Loan growth memang kuat di 16.2% yoy, tapi deposit growth hanya 6.7%. LDR sudah naik ke 91.3% dan BBRI harus mengandalkan other interest-bearing liabilities yang tumbuh 63.7% yoy untuk menutup gap. Ini adalah watchpoint yang serius — funding mismatch bisa jadi bottleneck kalau loan growth terus agresif tanpa diimbangi pertumbuhan deposit yang setara.
Ada satu risiko spesifik yang patut disorot: eksposur ke Agrinas (Kopdes) senilai Rp55 triliun dengan coverage hanya 1.3%. Pembayaran pokok dan bunga dijadwalkan September 2026 — kalau gagal bayar, dampaknya bisa mencapai Rp10 triliun atau sekitar 70 basis poin tambahan ke bank-only credit cost, plus CAR bisa turun sekitar 100 basis poin. Ini bukan risiko kecil.
Dari sisi dividend, manajemen menurunkan DPR ke kisaran 70% untuk 2026, kemudian akan dinormalisasi ke 50–60%. Dividend yield forward-nya turun ke 8.5% untuk 2026 dan 7.2% untuk 2027 — masih menarik secara absolut, tapi bagi investor yang masuk karena story dividend yield, ini adalah trade-off yang perlu diperhitungkan.
Valuasi saat ini di P/B 1.4x FY26 dan P/E 8.2x sudah cukup modest untuk bank dengan ROE ~18%. Target price Rp3,690 memberikan upside sekitar 13.9% dari harga sekarang — bukan tidak menarik, tapi dengan risiko Agrinas yang masih menggantung dan pertanyaan soal sustainability Pegadaian di lingkungan harga emas yang lebih rendah, conviction untuk upgrade ke Buy belum cukup kuat. HOLD masih menjadi posisi yang rasional.