LIVE
USD/IDR…· UST10Y…· KURVA 10Y-2Y…· EMAS…· EMAS/gr…· PERAK…· TEMBAGA…· EUR/USD…· USD/JPY…· USD/CNY…· BTC…· ETH…·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

BI Tahan Suku Bunga 5.75%: Jeda atau Akhir Hiking?

Bank Indonesia memilih berhenti sejenak. Setelah menaikkan suku bunga acuan sebesar total 100 basis poin sejak Mei 2026 — cukup agresif untuk standar BI — Rapat Dewan Gubernur Juli memutuskan untuk menahan BI rate di 5.75%. Keputusan ini mengejutkan sebagian besar pelaku pasar yang masih mengantisipasi kenaikan 25bp tambahan. BI bergerak lebih dovish dari konsensus, meski belum sepenuhnya dovish.

Yang menarik, Monetary Policy Stance Index menunjukkan pergeseran dari nada hawkish di pertemuan Juni ke posisi yang lebih neutral di Juli. Artinya, BI mulai menyeimbangkan antara menjaga stabilitas rupiah dan mendorong pertumbuhan ekonomi — dua tujuan yang sering kali saling tarik-menarik. Bayangkan seperti mengendarai mobil di jalan licin: kaki kanan ada di gas (growth), tapi kaki kiri tetap siap menginjak rem (stability).

BI juga merevisi beberapa proyeksi penting. Ekspektasi Fed rate hike dipercepat ke 4Q26 dari sebelumnya 2027. Inflasi global 2026 direvisi naik ke 4.5% dari 4.3%. Di sisi domestik, inflasi headline 2026 diperkirakan mencapai 3.3% y-o-y — naik signifikan dari realisasi 2025 sebesar 1.9% — dengan risiko upside dari El Niño yang bisa mendorong volatile food prices lebih tinggi. GDP growth forecast domestik tetap di kisaran 4.9–5.7% untuk 2026.

Di sisi likuiditas perbankan, gambarannya mulai mengencang. Loan-to-deposit ratio naik ke 90% dari 89%, sementara liquid assets-to-deposit ratio turun ke 23.1% dari 24.7%. Loan growth akselerasi ke 12.7% y-o-y di Juni, dipimpin investment loans. SRBI outstanding pun terus membengkak ke IDR1,065 triliun per 21 Juli. Ini seperti spons yang sudah hampir penuh — kapasitas untuk menyerap lebih banyak likuiditas mulai terbatas.

Untuk merespons tekanan likuiditas ini, BI meluncurkan beberapa insentif baru mulai September 2026. RRR discount maksimum dinaikkan ke 6.0% dari 5.5% dari third-party funds. Yang baru dan cukup signifikan: ada relief tambahan hingga 2.0% dari deposits, tapi hanya untuk bank yang menjaga net SRBI dan government bond holdings (setelah transaksi repo) di bawah 19% dari deposits. Desainnya jelas — BI ingin mendorong bank aktif memutar sekuritas lewat pasar repo, bukan duduk pasif menahan SRBI. Ini langkah yang cukup cerdas untuk mendalam pasar uang sekaligus mengurangi crowding out kredit.

Soal rupiah, BI memperluas toolkit-nya. FX swap hedging incentive dinaikkan ke 12.5% dari 10%, dan DNDF hedging incentive baru diperkenalkan di level 15%. Dari total cadangan devisa USD145.6 miliar per Juni, sekitar USD28 miliar berasal dari FX swaps dan USD5.4 miliar dari DNDF. After-tax weighted SRBI rate saat ini diestimasi sekitar 4.0%, sedikit di bawah yield 2y UST sebesar 4.2% — spread yang tipis dan rentan jika Fed jadi menaikkan suku bunga.

Inilah risiko utama yang perlu diperhatikan. Jika Fed benar-benar menaikkan FFR di 4Q26 dan harga minyak ikut naik, tekanan terhadap rupiah bisa kembali memaksa BI untuk tightening lebih lanjut. Gubernur Perry Warjiyo sendiri mengindikasikan bahwa kenaikan rate tambahan tetap menjadi opsi jika interest rate differential terbukti tidak cukup menarik capital inflows. Proyeksi base case menempatkan BI rate di 6.00% pada akhir 2026, dengan satu kali kenaikan 25bp lagi di 4Q26 — seiring dengan Fed hike.

Untuk 2027, ada skenario pemangkasan bertahap ke 5.50% seiring inflasi yang diperkirakan melandai ke 3.0% dan tekanan eksternal yang mereda. USD/IDR diperkirakan rata-rata di 17,604 sepanjang 2026 dan bergerak ke 18,104 di 2027 — rupiah yang terus terdepresiasi secara gradual, bukan kolaps, tapi juga bukan pulih.