LIVE
BTC· ETH· BNB· SOL· XRP· ADA· DOGE· USD/IDR· EUR/USD· USD/JPY· USD/SGD·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

BOJ Buang Obligasi Rekor, Siapa Mau Beli?

BOJ memangkas kepemilikan JGB sebesar ¥47,8 triliun YoY — penurunan terbesar sepanjang sejarah. Pasar obligasi Jepang kini menghadapi tekanan serius.


Bank of Japan sedang melakukan sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya: melepas Japanese Government Bonds (JGB) dalam skala rekor. Per Juli, perubahan tahunan kepemilikan BOJ mencapai -¥47,8 triliun — penurunan year-on-year terbesar sepanjang sejarah institusi ini berdiri.

Total kepemilikan BOJ kini berada di sekitar ¥518 triliun, kembali ke level tahun 2020. Angka ini mungkin terdengar masih besar, tapi konteksnya penting: pada puncaknya di 2023, BOJ menggenggam hampir 54% dari seluruh JGB yang beredar di pasar. Itu bukan angka bank sentral biasa — itu dominasi penuh atas pasar obligasi negara sendiri, hasil dari lebih dari satu dekade quantitative easing agresif yang dipercepat lagi saat pandemi.

Masalahnya bukan sekadar BOJ menjual. Masalah yang lebih besar adalah tidak ada yang mau membeli dalam skala yang cukup untuk menggantikan posisi mereka. Bank komersial dan perusahaan asuransi jiwa — dua kelompok investor swasta yang secara logis paling natural menyerap JGB — masih enggan masuk secara agresif. Demand tetap lemah, sementara supply efektif meningkat karena BOJ terus mundur.

Situasi ini menciptakan tekanan struktural yang tidak ringan. Ketika buyer terbesar di pasar membalik arah menjadi net seller dalam tempo yang sangat cepat, yield JGB terdorong naik. Bagi Jepang yang memiliki debt-to-GDP di antara tertinggi di dunia, kenaikan yield bukan sekadar angka di layar — itu langsung berdampak pada biaya bunga fiskal yang sudah besar.

Yang menarik, proses ini belum selesai. Bahkan setelah BOJ berencana menghentikan program pengurangan pembelian pada April tahun depan, kepemilikan mereka diproyeksikan tetap menyusut — karena obligasi yang jatuh tempo tidak akan digantikan sepenuhnya dengan pembelian baru. Artinya, quantitative tightening de facto akan berlanjut meski secara kebijakan sudah diperlambat.

Dari sisi pasar modal global, ini relevan lebih dari sekadar urusan Jepang. JGB adalah salah satu aset acuan terbesar di dunia. Jika yield JGB terus naik dan pasar obligasi Jepang tetap fragile, investor institusional global yang memegang JGB sebagai bagian dari portfolio defensif mereka akan menghadapi tekanan rebalancing. Ada risiko spillover ke pasar obligasi negara lain, termasuk emerging markets, jika terjadi unwinding posisi dalam skala besar.

Untuk saat ini, pertanyaan terbesar bukan seberapa cepat BOJ mengurangi balance sheet-nya — tapi siapa yang akan mengisi kekosongan itu, dan pada yield berapa mereka bersedia melakukannya.