US 10-year Treasury yield kini di kisaran 4.76% — tertinggi sejak akhir 2023. Jepang mencatat 10-year JGB menembus 3%, level yang belum pernah terlihat sejak era 1990s. UK Gilt pun mencetak post-GFC highs baru. Tapi angka-angka ini sendiri bukan yang paling penting. Yang lebih krusial: mengapa yield bergerak naik?
Di AS, kenaikan didorong oleh real yields yang meningkat, bukan semata-mata ekspektasi inflasi. Term premium juga ikut naik, mencerminkan kekhawatiran yang lebih dalam — fiscal sustainability, lonjakan supply obligasi pemerintah, dan geopolitical risk. Ini bukan sekadar inflation scare biasa. Bond vigilantes sedang mengirim sinyal, dan policymakers tidak punya banyak ruang untuk mengabaikannya. Treasury buybacks yang dilakukan untuk menekan long-end yield terbukti tidak cukup — pasar bond tidak semudah itu dikelola dari atas.
Yang menarik, dari sisi fixed income, high starting yields secara historis justru memperbaiki prospek return ke depan. Real yields sekarang cukup atraktif secara relatif. Jadi bond sell-off ini adalah risiko yang perlu dimonitor, bukan necessarily sesuatu yang harus ditakuti — terutama bagi long-term investor.
Sementara itu, di sisi credit, ada anomali yang layak dicermati: US investment grade spreads masih mendekati multi-decade tights, padahal sovereign yields sedang volatile. All-in corporate bond yields bahkan mendekati level tertinggi sejak GFC. Kombinasi ini terlihat janggal, tapi ada penjelasannya — corporate fundamentals memang solid. Balance sheet kuat, profits terjaga, dan banyak issuer besar sudah lock-in borrowing di rate yang menarik. Dalam konteks ini, IG credit bisa memainkan peran sebagai "diversifier of diversifiers" ketika government bonds tidak lagi bisa diandalkan sebagai anchor portofolio.
Di sisi equities, tech masih memimpin — sektor ini naik sekitar 30% dalam 12 bulan terakhir, ditopang AI capex boom. Tapi valuasinya sudah tidak murah: price-to-book US tech kini menjadi sektor kedua paling mahal secara global, mendekati level tahun 2000. Pertanyaan pasar sudah bergeser dari "apakah AI akan berhasil?" menjadi "bagaimana AI ini akan dibiayai?" Dengan AI spending yang semakin bergantung pada debt financing, free cash flow sudah mulai tertekan. Jika ada jeda dalam capex — entah karena rates, perubahan pajak, atau monetisasi yang melambat — semiconductor dan hardware bisa terkena dampak cepat.
Narasi yang mulai menguat adalah broadening out: profit growth yang tidak lagi terkonsentrasi di tech, tapi mulai menyebar ke sektor lain dan non-US markets. Earnings expectations di luar tech untuk 2026 mulai naik. Ini membuka peluang di segmen yang selama ini tertinggal.
Untuk emerging markets, ceritanya terhubung erat dengan arah US dollar. Dollar yang lebih lemah — yang bisa terjadi jika Fed akhirnya harus pivot lebih cepat dari ekspektasi, atau jika AI capex boom mulai goyah dan mengikis narasi US exceptionalism — secara historis menjadi katalis kuat bagi EM outperformance. Valuasi EM relatif menarik, dan jika global growth bertahan, ada ruang untuk another leg of rally. Asia ex-Japan secara khusus menawarkan exposure yang lebih luas, tidak hanya bergantung pada AI theme semata.
Macro backdrop saat ini bisa diringkas dalam tiga kekuatan yang saling bertarikan: inflationary shock dari tensi geopolitik Timur Tengah yang mendorong oil prices (Brent sudah di $95.5, naik lebih dari 22% dalam sebulan), disinflationary pressure dari China's green energy dan tech export surge, dan AI investment boom yang menopang demand. Di tengah ketiga kekuatan ini, episodic volatility adalah keniscayaan — bukan exception.