Earnings season Q2 2026 punya anomali yang menarik. Bukan perusahaan-perusahaan yang kesulitan mencari pelanggan — justru sebaliknya. Management teams di berbagai sektor kini lebih banyak bicara soal bagaimana memenuhi demand yang ada, bukan bagaimana menciptakannya. Power, chips, memory, infrastructure — semuanya langka. Dan kelangkaan ini punya implikasi yang jauh lebih kompleks dari sekadar kabar baik.
Tone-nya terasa jelas dari komentar CEO PNC Bill Demchak: "It's too broad-based to lay it all on AI… it's coming from kind of all sectors." US Bancorp, Fifth Third, Honeywell — semuanya melaporkan broad-based order growth. Ini bukan lagi sekadar AI story. AI tetap jadi akseleran terkuat, tapi ia kini beroperasi di atas pemulihan industrial yang lebih luas.
Di jantung siklus investasi ini, angkanya cukup mengejutkan. CFO NVIDIA Colette Kress memperkirakan capex lima hyperscaler terbesar akan menyentuh hampir USD 800 miliar di 2026 dan USD 1,3 triliun di 2027. Jensen Huang menambahkan bahwa agentic AI bisa 15x hingga 100x lebih compute-intensive dibanding AI konvensional. Artinya, semakin canggih AI-nya, semakin besar kebutuhan infrastruktur fisiknya — bukan sebaliknya.
Dan infrastruktur fisik itu tidak berhenti di semikonduktor. Data center butuh listrik; listrik butuh grid; grid butuh equipment dan logam; fab semikonduktor butuh konstruksi, gas, dan mesin khusus. CEO Chevron Michael Wirth menyebutnya langsung: "Demand far exceeds supply. The grid cannot keep up." ABB pun mencatat hal serupa — order data center tumbuh triple-digit, tapi bahkan di luar segmen itu, order Electrification masih naik double-digit.
Supply-lah yang kini jadi binding constraint. NVIDIA sendiri mengakui bahwa supply akan tetap jadi bottleneck setidaknya hingga akhir fiscal year 2028. Qualcomm menyebut industri beroperasi mendekati full utilisation. Micron memperkirakan demand DRAM dan NAND akan signifikan melampaui supply melewati 2027. Harga 8Gb DRAM sudah menyentuh sekitar USD 35 — sekitar 10x median 10 tahunnya dan 3,5x peak siklus 2018. Tim Cook menyebutnya "a hundred-year flood."
Sejauh ini, scarcity ini masih konstruktif untuk earnings. Forward operating margin saat ini berada di level tertinggi 15 tahun di berbagai kawasan — S&P 500 di 20,1%, Stoxx 600 di 17,1%, MSCI AC Asia di 19,5% — dan momentum-nya masih accelerating. Selama tiga tahun terakhir, margin membaik di 10 dari 11 sektor di S&P 500 maupun MSCI Europe. Perusahaan berhasil menyerap kenaikan input cost melalui pricing power, produktivitas, dan operating leverage.
Tapi tekanan mulai terlihat di titik-titik yang memang diprediksi: perusahaan yang sedang ekspansi kapasitas, dan perusahaan yang membeli input langka. NVIDIA sendiri merasakan tekanan gross margin dari kenaikan harga memory sebelum pricing offset-nya efektif. Apple menghadapi inflasi memory yang sama dari sisi downstream. Pricing power satu perusahaan adalah input-cost inflation bagi perusahaan lain di bawahnya.
Tiga sinyal yang perlu dimonitor ke depan: pertama, pergeseran tone management — lebih banyak keluhan soal cost pressure dan customer resistance sebelum margin revision muncul di laporan. Kedua, apakah downstream pricing masih bisa mengimbangi kenaikan harga memory, power, dan equipment. Ketiga, jika scarcity mulai menular ke producer dan consumer prices secara luas, risikonya bergeser dari margin perusahaan ke arah rates dan equity valuations secara keseluruhan.
Untuk saat ini, earnings masih menang. Forward earnings naik lebih cepat dari equity prices — artinya rally yang terjadi masih lebih banyak didorong profit ketimbang multiple expansion. Tapi posisi terkuat ada di tangan pemilik bottleneck, bukan yang ada di downstream-nya.