Cadangan devisa Jepang turun $94,6 miliar di Agustus, rekor terbesar sepanjang sejarah. Apa artinya bagi pasar global dan investor?
Jepang baru saja mencatatkan sejarah yang tidak ingin dirayakan: penurunan cadangan devisa bulanan terbesar sejak pencatatan dimulai tahun 2000. Kementerian Keuangan Jepang mencatat total official reserve assets turun $79,6 miliar atau 6,18% sepanjang Agustus, dari $1,287 triliun menjadi $1,2075 triliun — penurunan tercepat dalam sejarah data kementerian tersebut.
Di dalamnya, komponen foreign currency reserves — yang menjadi sumber likuiditas paling siap pakai untuk operasi pasar — ambles lebih dalam lagi: turun $94,6 miliar atau 8,7%, dari sekitar $1,09 triliun menjadi $994,98 miliar. Ini bagian cadangan yang paling relevan untuk membaca kemampuan Jepang melakukan intervensi lanjutan. Pemicunya intervensi agresif Kementerian Keuangan untuk menopang yen yang terus tertekan terhadap dolar AS.
Yang lebih mengejutkan bukan hanya angka bulannya, tapi akumulasinya. Hanya untuk mempertahankan nilai tukar yen, Jepang telah membelanjakan dana yang jauh melampaui operasi mana pun sebelumnya. Ini bukan intervensi sekali tembak — ini adalah kampanye multi-ronde yang mencerminkan betapa seriusnya tekanan terhadap JPY.
Skala tahunannya bahkan lebih mencolok. Total intervensi Jepang sepanjang 2026 telah mencapai ¥27,1 triliun — melampaui rekor sebelumnya ¥20,4 triliun pada 2003, dan tahun ini belum berakhir. Operasi terbesar berlangsung antara 30 Juli dan 26 Agustus: ¥15,4 triliun dalam satu bulan, operasi intervensi bulanan terbesar yang pernah tercatat. Sebelumnya, April–Mei sudah menghabiskan ¥11,73 triliun.
Hasilnya terlihat di pasar. Yen yang sempat menyentuh titik terlemah 40 tahun di 163,98 per dolar pada 23 Juli berhasil ditarik ke 155,20 pada 3 Agustus. Setelah itu sempat melemah lagi ke sekitar 160, sebelum bertahan di kisaran 155–156 pada awal September. Artinya intervensi berhasil mengubah arah, tapi belum memenangkan pertarungan.
Dari Mana Uang Itu Berasal?
Sebagian besar penurunan cadangan devisa berasal dari likuidasi securities holdings, yang mayoritas berupa US Treasuries. Dalam Agustus saja, kepemilikan surat berharga Jepang turun $87,8 miliar menjadi $840 miliar. Sementara itu, foreign currency deposits turun lebih kecil, yakni $6,9 miliar, ke level $155 miliar.
Ini artinya Jepang secara aktif menjual US Treasuries untuk mendapatkan dolar, lalu menggunakan dolar tersebut untuk membeli Yen di pasar spot — sebuah mekanisme intervensi klasik yang kini dilakukan dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Implikasi langsungnya adalah tekanan tambahan di pasar obligasi AS, di mana Jepang selama ini merupakan salah satu pemegang terbesar.
Konteks Historis: Cermin Terbalik dari 2000–2004
Menarik untuk melihat ini dari sudut pandang siklus. Antara tahun 2000 hingga 2004, Jepang melakukan hal yang sebaliknya: membeli dolar dan menjual Yen secara masif untuk mencegah Yen menguat terlalu cepat dan merusak daya saing ekspornya. Saat itu, USDJPY berada di kisaran 105–120.
Kini situasinya terbalik. Jepang menjual dolar dan membeli Yen — dan melakukannya di level USDJPY yang jauh lebih tinggi, yang berarti cost basis intervensi saat ini jauh lebih menguntungkan secara nilai tukar. Dari perspektif akuntansi, Jepang sesungguhnya menjual dolar di harga yang paling menguntungkan dalam satu generasi. Kerugian cadangan dalam nominal dolar tidak serta-merta mencerminkan kerugian riil jika dilihat dari basis akuisisi aset-aset tersebut.
Mengapa AS Mulai Ikut Campur?
Skala intervensi ini tidak bisa diabaikan oleh Washington. Ketika salah satu pemegang terbesar US Treasuries mulai melakukan likuidasi dalam jumlah puluhan miliar dolar per bulan, ini berpotensi memengaruhi yield obligasi AS dan dinamika pasar kredit global. Tidak mengherankan jika koordinasi kebijakan antara Tokyo dan Washington kini semakin intensif — intervensi valuta asing pada skala ini bukan lagi sekadar urusan bilateral Jepang.
Bentuk konkretnya sudah terlihat. Operasi akhir Juli dilakukan bersama Amerika Serikat — otoritas AS ikut menjual euro untuk mendukung yen. Ini adalah intervensi terkoordinasi pertama kedua negara untuk menopang yen dalam hitungan dekade, mengejutkan pasar yang sebelumnya menilai intervensi bersama nyaris tak mungkin terjadi. Selain itu, Washington memberi lampu hijau bagi Jepang untuk memanfaatkan fasilitas repo dolar Federal Reserve, sehingga Tokyo bisa menaikkan likuiditas tanpa harus terus melego US Treasuries dari cadangannya.
Ini situasi yang jarang terjadi: negara penerbit mata uang cadangan dunia pada praktiknya meminjamkan dana dengan jaminan obligasinya sendiri, agar pemegang obligasi terbesarnya tidak mempercepat penjualan.
Dari sisi makroekonomi global, ini adalah salah satu konsekuensi nyata dari divergensi kebijakan moneter: Fed yang agresif menaikkan suku bunga sementara Bank of Japan mempertahankan ultra-loose monetary policy selama bertahun-tahun. Carry trade JPY yang selama ini mengalir deras ke aset-aset imbal hasil tinggi di seluruh dunia kini menghadapi tekanan reversal yang signifikan.
Implikasi bagi Investor Global
Bagi investor yang mengikuti pasar modal dan investasi global, ada beberapa hal yang layak dicermati dari episode ini:
- Tekanan di pasar US Treasuries bisa berlanjut jika Jepang terpaksa melanjutkan intervensi. Supply tambahan dari likuidasi Jepang bisa menekan harga obligasi dan mendorong yield lebih tinggi.
- Volatilitas JPY kemungkinan belum selesai. Dengan total cadangan sudah tergerus 6,18% hanya dalam satu bulan — dan posisi likuiditas siap pakai turun lebih dalam lagi — ruang fiskal untuk intervensi lebih lanjut semakin terbatas — kecuali Bank of Japan akhirnya mengubah arah kebijakan suku bunganya.
- Unwinding carry trade dalam skala besar bisa menciptakan volatilitas mendadak di berbagai kelas aset, termasuk emerging market currencies dan komoditas.
- Dari sisi analisa saham sektor eksportir Jepang, penguatan Yen yang dipaksakan melalui intervensi bisa menekan earnings momentum perusahaan-perusahaan seperti Toyota, Sony, dan produsen elektronik lainnya yang sangat bergantung pada kurs JPY yang lemah.
Yang terjadi di pasar valuta asing Jepang saat ini adalah pengingat bahwa kebijakan moneter yang divergen dalam jangka panjang selalu memiliki titik patah. Pertanyaannya bukan apakah penyesuaian akan terjadi, tapi seberapa besar turbulensi yang akan menyertainya — dan seberapa siap portfolio Anda menghadapi spillover-nya ke pasar global.