LIVE
BTC· ETH· BNB· SOL· XRP· ADA· DOGE· USD/IDR· EUR/USD· USD/JPY· USD/SGD·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

Cadangan Devisa RI Naik ke $146,5 Miliar

Cadangan devisa Indonesia naik ke $146,5 miliar di akhir Agustus, cukup untuk 5,4 bulan impor. Apa artinya bagi stabilitas rupiah dan pasar keuangan?


Cadangan devisa Indonesia tercatat naik ke $146,5 miliar di akhir Agustus, dari $145,3 miliar di akhir Juli. Kenaikan $1,2 miliar dalam satu bulan ini mungkin terlihat inkremental, tapi konteksnya penting — BI sedang aktif menggunakan devisa untuk menstabilkan rupiah di tengah volatilitas pasar global, sehingga angka cadangan yang tetap naik justru menunjukkan inflow yang cukup solid.

Dua pendorong utama kenaikan ini adalah penerimaan pajak dan jasa, serta penarikan pinjaman luar negeri oleh pemerintah. Di sisi lain, sebagian devisa terserap untuk pembayaran utang luar negeri dan intervensi nilai tukar. Bahwa saldo akhirnya tetap naik meski ada dua tekanan tersebut secara bersamaan adalah sinyal yang konstruktif.

Dari sisi coverage, cadangan ini mampu membiayai 5,4 bulan impor, atau 5,3 bulan jika memasukkan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Standar kecukupan internasional umumnya ada di kisaran 3 bulan impor, jadi Indonesia masih berada di zona aman dengan buffer yang cukup lebar. BI sendiri menyebut posisi ini adequate untuk menjaga ketahanan sektor eksternal dan stabilitas sistem keuangan.

Yang menarik adalah framing BI soal rising uncertainty in global financial markets. Ini bukan bahasa yang dipakai sembarangan — artinya BI memang sedang dalam mode defensif, aktif menjaga rupiah agar tidak terlalu volatile. Dalam kondisi seperti ini, cadangan devisa yang terus bertumbuh memberi ruang gerak yang lebih besar untuk intervensi tanpa harus menguras buffer eksternal secara signifikan.

Bagi investor di pasar saham dan obligasi Indonesia, angka ini relevan karena cadangan devisa yang kuat mengurangi risiko sudden stop — skenario di mana capital outflow terjadi masif dan BI kehabisan amunisi untuk menstabilkan nilai tukar. Dengan posisi $146,5 miliar, risiko tersebut saat ini relatif terkendali. Rupiah yang stabil juga berarti tekanan inflasi dari sisi impor lebih teredam, yang pada akhirnya memberikan BI lebih banyak fleksibilitas dalam kebijakan suku bunga ke depan.