LIVE
USD/IDR…· UST10Y…· KURVA 10Y-2Y…· EMAS…· EMAS/gr…· PERAK…· TEMBAGA…· EUR/USD…· USD/JPY…· USD/CNY…· BTC…· ETH…·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

China Cetak Earnings Terbaik Sejak 2021

Profit emiten China melonjak +25.7% YoY di Q2 2026, tertinggi sejak 2021. Saham AI di STAR Market melesat +370%, tapi indeks justru turun. Ada apa?


Musim laporan keuangan Q2 2026 di China baru saja menghasilkan angka yang cukup mengejutkan — dan seharusnya menjadi sinyal penting bagi investor global yang sedang memantau dinamika pasar Asia.

Profit perusahaan-perusahaan yang tercatat di bursa saham daratan China (mainland-listed companies) melonjak +25.7% year-over-year pada Q2 2026. Ini adalah earnings growth tertinggi sejak Q2 2021 — periode ketika ekonomi China sedang dalam fase pemulihan agresif pasca lockdown awal pandemi. Artinya, butuh hampir lima tahun bagi China untuk kembali mencetak momentum pertumbuhan laba sekuat ini.

Yang membuat angka ini lebih bermakna adalah konteksnya. Q4 2025 lalu, earnings emiten China masih mencatatkan kontraksi double-digit. Kini, dua kuartal berturut-turut sudah kembali ke zona positif — sebuah pola earnings recovery yang secara historis sering menjadi fondasi untuk re-rating valuasi pasar secara lebih luas.

AI sebagai Mesin Pertumbuhan Utama

Jika dilihat lebih dalam, pertumbuhan earnings ini bukan merata di semua sektor. Lonjakan paling dramatis terjadi di segmen perusahaan berbasis teknologi dan kecerdasan buatan. Di ChiNext — pasar berorientasi growth milik Bursa Shenzhen — earnings tumbuh +42%. Sementara di STAR Market milik Shanghai, yang secara khusus dirancang untuk menampung perusahaan teknologi dan inovasi, angkanya bahkan mencapai +370%.

Angka +370% bukan sekadar statistik yang mencolok — ini mencerminkan betapa cepatnya monetisasi AI di level korporasi China mulai terwujud. Perusahaan-perusahaan di STAR Market, yang banyak bergerak di semikonduktor, infrastruktur AI, dan software enterprise, sedang menikmati lonjakan demand yang dipicu oleh investasi besar-besaran pemerintah dalam rantai pasok teknologi domestik — sebagian besar sebagai respons terhadap tekanan geopolitik dari pembatasan ekspor chip Amerika Serikat.

Ini bukan fenomena yang berdiri sendiri. Secara global, siklus investasi AI sedang mendorong earnings upgrade di berbagai pasar — dari Nasdaq hingga kini merambah ke ekosistem teknologi China yang selama ini dianggap tertinggal. Bedanya, di China, pertumbuhan ini datang dari basis yang lebih rendah dan dengan valuasi yang jauh lebih murah dibanding rekan-rekan mereka di AS.

Paradoks Pasar: Earnings Naik, Indeks Turun

Di sinilah letak anomali yang menarik untuk dianalisis. Meski earnings momentum sedang kuat, respons pasar justru berlawanan arah.

CSI 300 Index — yang merepresentasikan 300 saham terbesar di bursa Shanghai dan Shenzhen — sudah turun -9% dalam kuartal berjalan. Lebih parah lagi, STAR 50 Index yang justru menjadi rumah bagi banyak perusahaan AI dengan pertumbuhan earnings tertinggi, sudah terkoreksi -29% dalam periode yang sama.

Divergensi antara fundamental earnings yang kuat dan pergerakan harga saham yang negatif ini bisa dijelaskan oleh beberapa faktor. Pertama, profit-taking setelah reli besar yang terjadi sebelumnya — banyak saham teknologi China sudah naik signifikan di awal 2025 ketika narasi AI mulai menguat. Kedua, sentimen makro masih diwarnai ketidakpastian seputar kebijakan tarif AS, tekanan pada yuan, serta kekhawatiran deflasi struktural di sektor properti yang belum sepenuhnya pulih. Ketiga, foreign flow dari investor institusional global masih cenderung selektif terhadap China, mengingat risiko geopolitik yang belum mereda.

Pola seperti ini — di mana earnings beat tapi harga saham justru turun — sering terjadi ketika pasar sudah price in ekspektasi terlalu tinggi sebelumnya, atau ketika ada faktor eksternal yang lebih dominan dari sekadar angka laporan keuangan. Dalam konteks investasi saham, ini adalah situasi yang menuntut kehati-hatian ekstra dalam membaca timing entry.

Implikasi bagi Investor Global

Dari perspektif valuation, kombinasi antara earnings growth yang solid dan koreksi harga yang cukup dalam secara teoritis membuka peluang re-entry yang menarik — terutama bagi investor dengan horizon jangka menengah hingga panjang. Price-to-earnings di banyak emiten teknologi China kini jauh lebih kompetitif dibanding setahun lalu, bahkan dibanding perusahaan teknologi AS dengan profil pertumbuhan serupa.

Namun perlu diingat bahwa cheap valuation saja bukan katalis yang cukup. Pasar China membutuhkan katalis tambahan — baik berupa kebijakan stimulus fiskal yang lebih agresif, deeskalasi tensi dagang, atau sinyal pemulihan konsumsi domestik yang lebih konkret — agar earnings momentum ini bisa ditranslasikan menjadi price momentum yang berkelanjutan.

Yang jelas, data Q2 2026 ini mempertegas satu narasi besar: China sedang mengalami boom earnings berbasis AI yang nyata, bukan sekadar retorika. Pertanyaannya bukan lagi apakah fundamentalnya kuat — tapi kapan pasar akan memberikan penghargaan yang sepadan atas pertumbuhan tersebut.