Kepemilikan China atas US Treasuries anjlok ke $618 miliar, terendah sejak 2008. Apa implikasinya bagi pasar global dan investasi saham?
Salah satu tren struktural paling signifikan di pasar keuangan global yang sering luput dari perhatian investor ritel adalah proses de-dolarisasi yang dilakukan China secara konsisten dan terukur. Data terbaru menunjukkan kepemilikan China atas US Treasury kembali turun sebesar $15 miliar pada bulan Juli, menyentuh level $618 miliar — angka terendah sejak Agustus 2008, tepat di tengah-tengah krisis keuangan global (Great Financial Crisis).
Sejak awal tahun, total divestasi China dari instrumen utang pemerintah Amerika Serikat ini sudah mencapai $77 miliar. Angka yang tidak kecil, dan ini bukan sekadar fluktuasi biasa — ini adalah sinyal strategis dari Beijing tentang arah kebijakan cadangan devisa mereka ke depan.
Puncaknya Sudah Jauh Tertinggal
Untuk memahami skala pergeseran ini, kita perlu melihat ke belakang. Pada November 2013, China mencatat kepemilikan US Treasuries di level tertingginya. Sejak saat itu hingga sekarang, total divestasi yang telah dilakukan mencapai $698 miliar, atau setara dengan penurunan 53% dari posisi puncak. Lebih dari separuh kepemilikan mereka sudah keluar dari instrumen ini dalam kurun waktu sekitar satu dekade.
Ini bukan proses yang terjadi dalam semalam. China melakukannya secara bertahap, terencana, dan dengan mempertimbangkan dampak terhadap pasar global. Jika dilakukan terlalu agresif dalam waktu singkat, justru akan merugikan nilai portofolio mereka sendiri karena harga obligasi akan tertekan.
Katalis: Pembekuan Aset Rusia Tahun 2022
Akselerasi divestasi ini mulai terlihat jelas setelah satu peristiwa geopolitik besar: pembekuan cadangan devisa Rusia oleh Amerika Serikat dan sekutunya pada 2022, menyusul invasi Rusia ke Ukraina. Sekitar $300 miliar aset Rusia yang tersimpan di sistem keuangan Barat dibekukan hampir dalam semalam.
Bagi Beijing, ini adalah wake-up call. Jika aset sovereign bisa dibekukan atas dasar keputusan politik, maka menyimpan cadangan devisa dalam bentuk US Treasuries mengandung risiko geopolitik yang nyata — bukan hanya risiko pasar. Terlebih dengan meningkatnya tensi antara AS dan China atas isu Taiwan, teknologi semikonduktor, dan persaingan ekonomi global.
Kekhawatiran ini bukan paranoia. Ini adalah kalkulasi rasional dari perspektif manajemen risiko cadangan devisa negara.
Faktor Belgium dan Luxembourg: Proxy Holdings
Satu hal menarik yang perlu dicermati dalam membaca data ini adalah peran Belgium dan Luxembourg. Kedua negara ini secara konsisten dianggap sebagai proxy custody holdings untuk China — artinya, sebagian kepemilikan obligasi AS yang secara teknis tercatat atas nama lembaga keuangan di kedua negara tersebut sebenarnya dikelola untuk kepentingan China.
Data terbaru menunjukkan bahwa kepemilikan Belgium dan Luxembourg relatif tidak berubah selama periode yang sama. Ini mengindikasikan bahwa penurunan yang tercatat dalam data resmi China memang mencerminkan pengurangan nyata, bukan sekadar perpindahan custody ke entitas lain.
Ke Mana Uang Ini Pergi?
Pertanyaan yang lebih relevan bagi investor global adalah: jika bukan US Treasuries, China menaruh cadangan devisanya di mana? Beberapa arah yang secara umum diketahui pasar antara lain:
- Emas (Gold) — People's Bank of China secara konsisten menambah cadangan emas mereka dalam beberapa tahun terakhir, meski laju pembelian sempat melambat di pertengahan 2024 seiring harga emas yang sudah sangat tinggi.
- Obligasi negara non-AS — termasuk obligasi dari negara-negara berkembang dan mitra dagang strategis dalam kerangka Belt and Road Initiative.
- Aset riil dan komoditas — melalui berbagai sovereign investment vehicle yang dimiliki Beijing.
- Yuan internasionalisasi — mendorong lebih banyak transaksi perdagangan global diselesaikan dalam mata uang Yuan, mengurangi ketergantungan pada USD.
Implikasi bagi Pasar Global dan Investor
Dari sudut pandang pasar obligasi AS, divestasi China yang berkelanjutan secara teoritis menambah tekanan pada yield US Treasury — karena berkurangnya permintaan dari salah satu buyer terbesar historis. Namun dalam praktiknya, dampak ini selama ini berhasil diimbangi oleh permintaan dari investor institusional AS sendiri, Jepang, dan negara-negara lain.
Yang lebih penting untuk diperhatikan adalah implikasi jangka panjang terhadap dominasi dolar AS. Jika tren de-dolarisasi ini berlanjut — tidak hanya dari China, tetapi juga dari blok negara-negara yang berorientasi ke BRICS — maka struktur sistem keuangan global bisa bergeser lebih cepat dari yang banyak orang perkirakan.
Bagi investor di pasar saham Indonesia, dinamika ini relevan karena mempengaruhi arah capital flow global. Pelemahan dominasi dolar AS dalam jangka panjang bisa membuka ruang bagi penguatan mata uang emerging market, termasuk Rupiah, yang pada gilirannya bisa menjadi tailwind bagi foreign flow masuk ke IHSG. Namun dalam jangka pendek, setiap gejolak geopolitik AS-China tetap menjadi sumber volatilitas yang perlu diperhitungkan dalam strategi portofolio.
Tren ini bukan sesuatu yang akan selesai dalam satu atau dua kuartal. De-dolarisasi adalah proses multi-dekade, dan China tampaknya sudah berkomitmen penuh untuk menjalankannya — satu divestasi kecil setiap bulan, hingga komposisi cadangan devisa mereka benar-benar berubah secara fundamental.