Selama ini investor saham CPO hampir selalu fokus pada harga crude palm oil sebagai satu-satunya penentu valuasi emiten perkebunan. Tapi ada satu variabel yang tampaknya belum sepenuhnya diperhitungkan pasar: crude palm kernel oil, atau CPKO.
CPKO diekstrak dari kernel — biji di dalam buah sawit — yang hanya menyumbang sekitar 2% dari total tandan buah segar (FFB). Bandingkan dengan CPO yang diambil dari mesokarp (bagian daging buah) dan berkontribusi sekitar 20% dari FFB. Keduanya berasal dari buah yang sama, tapi secara kimiawi sangat berbeda. CPKO masuk kategori lauric oil, mirip dengan minyak kelapa, sehingga lebih cocok untuk produk oleokimia — terutama personal care — yang demand-nya cenderung stabil dan tidak terlalu siklikal.
Analoginya sederhana: bayangkan satu jeruk yang menghasilkan dua produk — sari buahnya (CPO) dan minyak dari bijinya (CPKO). Selama ini pasar hanya menghargai sari buahnya, padahal minyak bijinya punya pasar sendiri yang sedang tumbuh.
Yang menarik, harga CPKO bergerak mengikuti harga minyak kelapa karena keduanya adalah perfect substitutes. Ini membuka potensi upside ganda: pertama, dari permintaan China yang menguat untuk minyak kelapa; kedua, dari rencana Filipina mengimplementasikan B5 berbasis biodiesel kelapa yang bisa menyerap suplai minyak kelapa dan mendorong substitusi ke CPKO.
Ada satu lagi faktor yang menarik secara taktis: lonjakan harga kakao akibat gangguan suplai El Niño. CPKO bisa berfungsi sebagai substitusi cocoa butter yang lebih terjangkau dalam industri konfeksioneri. Ini bukan teori — tahun lalu, kenaikan harga CPKO justru mendahului kenaikan CPO karena demand substitusi dari kakao yang harganya melejit. Jika skenario serupa berulang, emiten CPO bisa mendapat windfall dari sisi CPKO lebih dulu sebelum CPO ikut naik.
Secara historis, CPKO berkontribusi sekitar 10% dari total penjualan emiten CPO. Tapi dengan tren permintaan oleokimia yang bergeser dari petrokimia — didorong efisiensi biaya dan aspek keberlanjutan — kontribusi ini berpotensi meningkat ke depannya.
Dari sisi sektor secara keseluruhan, outlook tetap konstruktif. Level inventory CPO yang rendah, kombinasi ekspansi biodiesel dan tekanan produksi akibat El Niño, mendukung harga CPO dan CPKO hingga tahun depan. Dan yang penting, faktor CPKO ini belum dimasukkan ke dalam model proyeksi, artinya ada ruang revisi ke atas.
Untuk pilihan saham, urutan preferensi saat ini:
- TAPG — P/E FY26F 10,7x, cash cost terendah di antara peers regional, ROE 37%, dividend yield 9–11% untuk FY26–28F. Likuiditas juga solid di USD2,3 juta per hari YTD. Target price IDR3.200, upside ~42%.
- DSNG — P/E FY26F 7,9x, potensi deleveraging dan peningkatan dividend payout. Target price IDR2.500, upside ~51%.
- AALI — P/E FY26F 8,6x, arah kebijakan dividen yang semakin jelas. Target price IDR11.100, upside ~28%.
- LSIP — P/E FY26F 5,7x, valuasi paling murah di antara keempat emiten. Target price IDR2.700, upside ~56%.
Dibanding peers Malaysia yang rata-rata diperdagangkan di P/E 14–15x, emiten Indonesia masih jauh lebih murah di kisaran 8x. Selisih valuasi ini cukup signifikan dan sulit diabaikan, apalagi jika CPKO mulai memberikan kontribusi yang lebih besar dari ekspektasi pasar saat ini. Downside risk yang utama tetap perubahan regulasi yang tidak menguntungkan — sesuatu yang selalu menjadi bayangan di sektor komoditas berbasis kebijakan seperti ini.