Kinerja trading DAAZ cetak rekor saat segmen freight tertekan. Efisiensi armada dan valuasi EV/EBITDA 5,1x membuka peluang upside signifikan. Ini bedahnya.
Pasar sempat merespons dingin kinerja PT Daaz Bara Lestari Tbk (DAAZ) akibat tekanan margin pada segmen freight. Namun, saat laba bersih yang diatribusikan ke entitas induk (NPATMI) tetap menembus rekor IDR 163,5 miliar (+6,1% YoY) pada semester pertama, ada diskoneksi valuasi yang mulai melebar di harga IDR 1.635.
- Trading margin cetak rekor: Laba kotor trading melonjak 52% YoY menjadi IDR 366,4 miliar, ditopang pertumbuhan distribusi BBM solar 68% YoY ke IDR 4,14 triliun dengan margin kotor kuartalan tertinggi sepanjang sejarah di 6,9%.
- Beban sewa kapal terpangkas: Realisasi belanja modal dari obligasi IDR 500 miliar memangkas porsi biaya charter kapal dari 7,5% menjadi 5,0% pendapatan di 2Q26.
- Katalis hilirisasi raksasa: Konsorsium DAAZ mengunci kerja sama strategis proyek baterai EV 20 GWh bersama ANTM dan IBC bernilai investasi USD 6 miliar.
Penyebab utama pelemahan laba operasi konsolidasian sebesar 7,1% YoY terletak pada margin kotor angkutan laut (freight) yang anjlok ke level 1,9% dari sebelumnya 17,6%. Penurunan ini memicu kompresi laba sebelum pajak (EBT) sebesar 17,2% YoY. Akan tetapi, porsi laba entitas non-pengendali yang jauh lebih kecil menjaga pertumbuhan laba bersih tetap positif di teritori rekor.
Perubahan struktural yang luput dari perhatian ada pada struktur biaya. Alokasi 70% dana obligasi 2025 untuk mendatangkan 2 unit SPOB, 3 set tug-and-barge, dan 1 oil barge mulai menunjukkan hasil. Kepemilikan kapal sendiri menekan ketergantungan pada sewa pihak ketiga, menahan trading spread lebih utuh sebagai margin kotor. Efisiensi ini memposisikan DAAZ menerima dorongan volume musiman di paruh kedua dengan bantalan profitabilitas yang lebih tebal.
Pipeline pendapatan jangka menengah juga kian solid. DAAZ baru saja mengamankan kontrak penambangan tiga tahun senilai IDR 1,18 triliun dari ANTM di UBPN Konut, disusul kontrak reklamasi pascatambang di Pulau Gag. Posisi ini menempatkan perseroan di ring satu rantai pasok nikel nasional, termasuk potensi serapan bijih nikel masif dari proyek ekosistem baterai konsorsium Antam-IBC.
Secara valuasi, DAAZ diperdagangkan pada forward P/E 6,8x dan EV/EBITDA 5,1x untuk tahun ini—diskon cukup tajam terhadap rata-rata peers domestik di 8,2x. Model DCF lima tahunan (WACC 11,0%, terminal growth 1,0%) mengindikasikan nilai wajar di IDR 3.900 per lembar saham.
Katalis penggerak berikutnya bertumpu pada laju pemulihan margin freight dan eksekusi volume trading nikel di kuartal mendatang.