Dolar AS sudah melemah dua bulan berturut-turut — dan menariknya, kedua penurunan itu dipicu oleh kebijakan Washington sendiri, bukan oleh data ekonomi yang memburuk. Juli lalu, joint intervention yen antara AS dan Jepang jadi katalis. Agustus, giliran pengumuman US Treasury bond buyback yang memukul DXY. Pasar langsung membaca ini sebagai sinyal bahwa Washington mulai cemas soal kenaikan yield obligasi jangka panjang.
Tapi narasi dollar debasement ini tidak bertahan lama. Pidato Fed Chair Warsh di Jackson Hole langsung membalikkan sentimen — komentarnya yang hawkish soal inflasi mendorong probabilitas rate hike September melonjak dari sekitar 35% ke lebih dari 60%. Kalimat kunci dari Warsh: Fed punya "work to do" jika inflasi tidak turun ke target 2% dengan kecepatan yang cukup. Ini bukan forward guidance eksplisit, tapi cukup untuk membuat pasar merepricing agresif.
Pertanyaannya sekarang: apakah hike September benar-benar terjadi? Dua data yang paling menentukan adalah nonfarm payrolls (4 September) dan CPI (11 September). Kalau keduanya kembali lemah, odds hike bisa turun balik di bawah 50%. Tapi kalau data tetap solid, September FOMC bisa jadi live meeting yang sesungguhnya.
Yang membuat situasi ini lebih kompleks adalah September juga menjadi bulan di mana semua G10 central bank rapat serentak. RBNZ dan Bank of Canada paling awal (2 September), ECB menyusul (10 September), kemudian Fed (16 September), BoE (17 September), BoJ (18 September), dan Norges Bank, Riksbank, SNB serta RBA menyusul di akhir bulan. Hampir semuanya dalam kondisi hawkish repricing — ECB hampir pasti hike 25bps, BoJ juga hampir fully priced untuk hike, Norges Bank sekitar 60% priced. Artinya, rate differential antara USD dan G10 lainnya tidak akan bergerak dramatis ke arah yang menguntungkan dolar, bahkan jika Fed jadi hike.
Di sisi risiko geopolitik, konflik AS-Iran belum menunjukkan tanda-tanda resolusi. Yang paling mengkhawatirkan bukan harga minyak — Brent hanya naik tipis di Agustus — tapi harga gas alam yang melonjak signifikan. TTF natural gas di Eropa naik 20% di Agustus saja, dan dari level terendah akhir Juni sudah naik 73%. Storage gas Eropa per 24 Agustus hanya 63% kapasitas, jauh di bawah rata-rata 5 tahun sebesar 81%, dan operator grid Jerman menyatakan target pengisian musim dingin "hampir tidak bisa dicapai". Ini bukan sekadar risiko energi — ini adalah upside risk inflasi yang nyata untuk ECB dan BoE, dan keduanya sudah mengakuinya.
Untuk CNY, gambarannya lebih nuanced. Ekonomi China kehilangan momentum di Q2 — hampir semua indikator aktivitas Juli di bawah ekspektasi. Tapi CNY justru menguat tipis di Agustus, didorong oleh pelemahan dolar dan surplus perdagangan yang masih besar. Yang menarik: meski ada net outflow ekuitas asing di Juni-Juli (sekitar USD 18 miliar), data IIF menunjukkan total net inflow ke ekuitas China selama 7 bulan pertama tahun ini mencapai USD 37 miliar — sementara EM Asia lainnya secara agregat justru mengalami net outflow. Tema AI China tampaknya menjadi faktor penarik tersendiri.
Summit Trump-Xi pada 24 September di Washington juga menjadi wildcard. Ekspektasi pasar tidak tinggi — major breakthrough dianggap unlikely — tapi bahkan sekadar perbaikan komunikasi dan kemajuan terbatas di beberapa isu bisa cukup untuk memberikan modest support ke CNY dan Asian FX secara lebih luas.
Untuk IDR, konteks globalnya tidak terlalu menguntungkan dalam jangka pendek. Proyeksi USD/IDR di akhir Q3 2026 berada di level 18.100, naik dari posisi spot 17.689. Tekanan datang dari kombinasi: potensi Fed hike, harga energi yang masih elevated, dan momentum pertumbuhan China yang melambat — ketiganya adalah headwind klasik untuk mata uang EM. Yang perlu dimonitor ketat adalah data NFP dan CPI AS minggu pertama dan kedua September, karena keduanya akan menentukan arah kebijakan Fed dan secara langsung mempengaruhi risk appetite terhadap aset EM.