LIVE
USD/IDR…· UST10Y…· KURVA 10Y-2Y…· EMAS…· EMAS/gr…· PERAK…· TEMBAGA…· EUR/USD…· USD/JPY…· USD/CNY…· BTC…· ETH…·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

DSI Ancam Komoditas RI: NCKL Paling Kena, ANTM Aman?

Pemerintah baru saja mengumumkan kebijakan yang berpotensi mengubah lanskap ekspor komoditas Indonesia secara fundamental. Presiden Prabowo menetapkan framework ekspor terpusat di mana seluruh ekspor sumber daya alam strategis akan dikelola melalui satu entitas BUMN — yang kemungkinan besar adalah PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI). Alasan resminya: mencegah under-invoicing. Tapi dampaknya bagi investor komoditas jauh lebih kompleks dari sekadar soal pajak.

Implementasinya dibagi dua fase. Di Phase 1 (Juni–Agustus 2026), DSI berperan sebagai perantara administratif — produsen masih pegang kontrak dan hubungan dengan buyer, tapi ekspor diproses on behalf of DSI. Mulai September 2026 (Phase 2), DSI menjadi satu-satunya eksportir resmi. Artinya, produsen yang tadinya langsung jual ke pembeli luar negeri, kini cuma jadi pemasok domestik ke DSI. Bayangkan seperti warung yang tadinya bisa langsung jual ke pelanggan, tiba-tiba harus jual dulu ke koperasi, baru koperasi yang jual ke luar.

Yang bikin investor gelisah bukan mekanismenya — tapi ketidakjelasan di baliknya. Berapa trading margin yang akan dipotong DSI? Bagaimana nasib kontrak offtake yang sudah berjalan? Apakah BUMN dan swasta diperlakukan berbeda? Apakah mitra dagang luar negeri akan mempermasalahkan skema baru ini? Semua ini belum ada jawabannya, dan detail mekanisme baru dijanjikan dalam 3–6 bulan ke depan. Selama periode abu-abu ini, sektor komoditas secara keseluruhan mendapat regulatory overhang baru yang berat.

Siapa Paling Terdampak?

Eksposur tiap emiten terhadap kebijakan ini sangat berbeda-beda, dan ini penting untuk dipahami sebelum mengambil keputusan.

Coal adalah sektor yang paling terekspos secara langsung. Seluruh emiten batu bara dalam coverage — AADI, PTBA, ITMG — mengandalkan ekspor sebagai sumber revenue utama. Kalau DSI potong margin atau proses pembayaran jadi lebih lambat, dampaknya ke working capital dan cash flow bisa signifikan. Rating sektor dipertahankan di Neutral, tapi PTBA diturunkan ke HOLD dari BUY semata karena valuasi sudah terbatas — upside ke target price hanya sekitar 9%.

Nickel lebih nuanced. Regulasi saat ini menyebut ferro-alloy di bawah kode HS7202, yang mencakup ferronickel (FeNi). Tapi nickel matte berada di kode berbeda (HS7501) dan belum masuk dalam scope. Ini berarti:

  • NCKL paling terdampak di sektor logam — perusahaan ini langsung ekspor FeNi ke offtaker luar negeri, tanpa buffer.
  • INCO relatif terlindungi untuk saat ini karena produknya adalah nickel matte, bukan FeNi. Tapi ada risiko nickel matte ikut dimasukkan ke daftar komoditas strategis ke depannya.
  • MDKA saat ini masih menjual FeNi-nya ke entitas Tsingshan di Indonesia (bukan ekspor langsung), jadi risikonya minimal — tapi tetap ada risiko jika Tsingshan meneruskan margin pressure ke MDKA.
  • ANTM adalah yang paling aman. Segmen FeNi-nya hanya menyumbang 3–4% dari revenue, sementara mayoritas pendapatan berasal dari gold trading dan nickel ore yang dijual domestik.

Plantation eksposurnya lebih terbatas, tapi bukan tanpa risiko. Dari emiten yang di-cover, hanya AALI yang punya direct export exposure signifikan — sekitar 36% dari revenue FY25. Yang lebih menarik adalah risiko tidak langsung: jika refiner besar seperti Sinarmas, Wilmar, atau Apical dipaksa jual ke DSI di bawah harga pasar, mereka berpotensi menekan harga beli CPO dari upstream planter. Efeknya, spread harga CPO Indonesia vs Malaysia bisa melebar lebih jauh — di atas tekanan yang sudah ada dari kenaikan export levy 12,5% dan depresiasi Rupiah.

Posisi Sektor & Saham Pilihan

Dengan semua ketidakpastian ini, rating sektor Metals dan Plantation diturunkan ke Neutral (dari Overweight), sementara Coal tetap Neutral. Target price sejumlah emiten juga dipangkas untuk mencerminkan risk premium yang lebih tinggi.

Untuk positioning saat ini, tiga nama yang masih menarik secara selektif:

  • ANTM — eksposur minimal ke rezim baru, valuasi FY26E P/E 8.7x masih wajar, dan upside ke TP IDR4.500 sekitar 52%. Lebih baik masuk setelah MSCI rebalancing selesai.
  • AADI — valuasi sangat murah di FY26E P/E 4.4x, ditambah potensi special dividend dari divestasi aset Kestrel. Upside ke TP IDR10.500 sekitar 35%.
  • TAPG — dividend yield FY26E sekitar 13% sangat menarik, dengan operasional yang lebih efisien dibanding peers. TP direvisi ke IDR1.900, upside ~27%.

Bottom line-nya: bukan saatnya beli sektor komoditas secara broad. Policy uncertainty-nya terlalu banyak dan terlalu besar untuk diabaikan — terutama selama 3–6 bulan ke depan ketika detail mekanisme DSI masih belum jelas. Selektif adalah kuncinya.