Earnings momentum masih kuat, tapi global bond yields menekan. Analisis mendalam soal risiko AI trade, credit spreads, dan strategi ekuitas memasuki September.
Memasuki September, pasar global langsung disambut tekanan yang sudah familiar: global bond yields kembali merangkak ke level-level yang belum pernah terlihat dalam beberapa dekade. Yield obligasi 10 tahun Jepang menyentuh angka tertinggi sejak 1996. Di Inggris, yields bergerak ke level tertinggi sejak 2008. Di Amerika Serikat, year-to-date highs kembali diuji, dengan 10-year Treasury mendekati 4,80% dan 30-year mendekati 5,30%. Ini bukan lagi cerita Amerika semata — Jerman, Prancis, Jepang semuanya bergerak searah.
Yang menarik adalah bagaimana risk assets berhasil menutup Agustus dalam kondisi positif di tengah tekanan yields tersebut. S&P 500 tercatat naik sekitar 12% secara year-to-date. Credit spreads praktis tidak bergerak sepanjang Agustus meskipun supply obligasi korporat mencapai rekor. Ini bukan kebetulan — ada satu faktor yang menjadi perekat seluruh narasi bullish ini: earnings momentum.
Earnings sebagai Buffer Terakhir
Kenaikan valuasi ekuitas sepanjang tahun ini sebenarnya sudah terkoreksi sekitar 12% jika dihitung dari price-to-earnings multiple. Namun S&P 500 tetap naik 12%. Artinya, seluruh kenaikan — bahkan lebih — ditopang murni oleh pertumbuhan earnings. Revisi earnings untuk 2026 dan 2027 terus bergerak naik sepanjang tahun ini. Dalam kondisi seperti ini, kenaikan yield 80 basis points pada 10-year Treasury masih bisa dicerna pasar.
Tapi ada batas toleransinya. Q2 kemungkinan besar merupakan puncak earnings growth — bahkan jika one-time gains dikeluarkan dari kalkulasi, angka pertumbuhan 30% di Q2 tampaknya sulit untuk diulang. Ini adalah dinamika klasik dalam siklus pasar: you don't buy good news, you sell it. Ketika data ISM dan indikator makro lain menunjukkan akselerasi, justru itulah momen di mana market mulai menghitung ulang berapa banyak good news yang sudah ter-price in.
Financial conditions saat ini berada di level paling longgar sejak 2021. Dari sisi probabilitas, ruang untuk semakin melonggar sangat terbatas. Ini berarti salah satu tailwind terbesar bagi ekuitas — easy money — sudah hampir habis kontribusinya.
AI Trade: Dari Self-Funded ke Capital Market-Dependent
Salah satu risiko yang mulai mendapat perhatian lebih serius adalah pergeseran struktural dalam cara hyperscalers membiayai belanja infrastruktur AI mereka. Pada fase awal buildout, perusahaan-perusahaan ini membiayai capex dari free cash flow sendiri — sehingga sangat tidak sensitif terhadap pergerakan suku bunga. Tapi narasi itu sudah berubah.
Proyeksi untuk 2027 menunjukkan bahwa free cash flow generation dari hyperscalers akan semakin negatif seiring eskalasi belanja data center dan infrastruktur komputasi. Ini berarti mereka akan semakin bergantung pada capital markets — baik equity maupun credit — untuk menutup gap tersebut. Off-balance-sheet financing mulai muncul, accounting structures menjadi lebih kompleks. Secara historis, pola seperti ini muncul di fase akhir siklus kredit.
Implikasinya cukup serius: AI trade kini menjadi jauh lebih rate-sensitive dari yang banyak orang asumsikan. Jika financial conditions mengencang — yields naik, equity valuations terkompresi, volatilitas meningkat — maka kemampuan hyperscalers untuk terus mengguyur capex AI bisa terganggu. Spending yang melambat berarti earnings yang lebih lemah untuk seluruh ekosistem AI, dari chip manufacturers hingga cloud providers. Negative feedback loop ini adalah skenario risiko yang paling relevan untuk diperhatikan menjelang 2027.
Fenomena ini sudah mulai terlihat di pasar kredit. CDS spreads untuk nama-nama besar di ekosistem AI — termasuk beberapa perusahaan yang selama ini dianggap fortress balance sheet — mulai melebar. High yield spreads yang sudah turun ke sekitar 300 basis points menjadi pertanyaan besar: seberapa banyak buffer yang tersisa jika corporate profit growth mulai melambat?
Software: Rotasi yang Didorong Valuasi, Bukan Fundamental
Di tengah tekanan rates, satu sektor yang mencuri perhatian di Agustus adalah software. Microsoft, misalnya, naik sekitar 9% dalam sebulan. Tapi penting untuk memahami apa yang sebenarnya mendorong rally ini sebelum terlalu optimistis.
Earnings revisions untuk software sebenarnya tidak pernah benar-benar rusak sepanjang 2025. Yang rusak adalah valuasi — software sempat diperdagangkan di bawah level Liberation Day lows, bahkan mendekati 2022 lows di beberapa titik. Ketika positioning sudah sangat short dan valuasi sudah sangat murah, bahkan sedikit good news bisa memicu short-covering yang agresif dan repricing yang tajam.
Pertanyaan yang relevan bukan apakah software bisa rally dalam jangka pendek — jawabannya sudah terbukti ya. Pertanyaannya adalah bagaimana trajectory earnings software dalam 5-6 kuartal ke depan jika belanja AI dari hyperscalers mengalami normalisasi. Untuk saat ini, earnings revisions untuk software masih positif dan terus mencetak new highs. Tapi sensitivitas sektor ini terhadap capex AI sangat tinggi.
Geopolitik dan Crude: Variabel yang Tidak Bisa Diabaikan
Tekanan tambahan datang dari sisi geopolitik. Konflik yang melibatkan Iran kembali memanas, dengan serangan terhadap supertankers di Strait of Hormuz mendorong harga minyak naik sekitar 2% dalam satu sesi. Brent crude mendekati $92 per barel. Ini bukan hanya masalah supply disruption — crude yang lebih tinggi berarti inflasi yang lebih sticky, dan inflasi yang lebih sticky berarti Fed memiliki lebih sedikit ruang untuk pivot.
Di sisi lain, ada sinyal dari kedua pihak bahwa jalur diplomasi masih terbuka. Iran menyebut kemungkinan kembali ke meja negosiasi jika tekanan ekonomi dikurangi. Tapi selama ketidakpastian ini belum resolved, crude akan tetap menjadi wildcard yang mempersulit kalkulasi inflasi dan kebijakan moneter.
Strategi: Patience, Bukan Panic
Dari perspektif positioning, ekuitas masih diperdagangkan sekitar 3% di atas rata-rata jangka pendek dan 7% di atas moving average 200 hari. Ini bukan level yang mengundang untuk aggressive buying, tapi juga bukan level yang mengindikasikan kehancuran imminent.
Secara seasonal, paruh kedua September adalah salah satu periode terlemah dalam setahun untuk ekuitas — sementara paruh pertama Oktober historis jauh lebih konstruktif. Volatilitas yang mungkin muncul minggu-minggu ini — dipicu oleh berbagai narasi mulai dari oil prices, CPI print, hingga Fed decision — sebaiknya diperlakukan sebagai buying opportunity, bukan sinyal untuk keluar dari pasar.
Payrolls report akhir pekan ini dan CPI print minggu depan akan menjadi dua data paling kritis sebelum Fed meeting September. Jika keduanya datang lebih dovish dari ekspektasi, ada ruang untuk technical rebound yang meaningful. Yang perlu dijaga ketat adalah jangan sampai earnings momentum — satu-satunya pilar yang masih kokoh menopang valuasi ekuitas saat ini — mulai menunjukkan tanda-tanda crack yang sesungguhnya.