Para pemimpin bisnis Jepang serukan penguatan yen, bahkan yang selama ini diuntungkan kurs lemah. Apa implikasinya bagi pasar dan kebijakan BOJ?
Ada pergeseran menarik yang tengah terjadi di kalangan korporasi Jepang. Para eksekutif puncak — termasuk dari perusahaan yang selama ini diuntungkan oleh yen lemah — kini secara terbuka menyuarakan keinginan agar mata uang Jepang menguat. Ini bukan sekadar pernyataan politis; ada kalkulasi bisnis yang sangat nyata di baliknya.
Ketidakpastian Kurs Lebih Mematikan dari Kurs Lemah Itu Sendiri
Yoshinori Kanehana, Chairman Kawasaki Heavy Industries, menyebut volatilitas yen sebagai "biggest problem" bagi perusahaannya. Ketika kurs berfluktuasi tajam, "we cannot make strategy" — ungkapannya yang sederhana tapi sangat revelatory bagi siapapun yang memahami bagaimana perusahaan manufaktur menyusun capital allocation dan long-term planning.
Kawasaki saat ini memiliki 27 production sites di luar Jepang, termasuk di Amerika Serikat, dan 17 di dalam negeri. Kanehana menegaskan bahwa jika yen kembali ke level 150 per dolar, ia akan mempertimbangkan untuk memindahkan sebagian operasi manufaktur dari AS kembali ke Jepang. Pernyataan ini penting karena mencerminkan bagaimana kurs yang lebih kuat justru bisa mendorong reshoring — tren yang berlawanan dengan narasi umum bahwa yen lemah selalu menguntungkan eksportir.
Logikanya sederhana: biaya produksi di Jepang menjadi relatif lebih kompetitif ketika yen menguat. Ketika yen terlalu lemah dalam jangka panjang, biaya impor bahan baku dan energi membengkak, menggerus margin yang sebelumnya terlihat besar dari sisi konversi valuta.
Bahkan Perusahaan Berbasis Dolar Pun Mulai Risau
Yang lebih menarik adalah posisi Takayuki Ueda, President dan CEO Inpex — perusahaan minyak besar Jepang dengan hampir 90% bisnis di luar negeri dan berbasis transaksi dolar. Secara struktural, Inpex seharusnya menjadi salah satu penerima manfaat terbesar dari yen lemah, karena profit berbasis dolar yang dikonversi ke yen akan terlihat lebih besar.
Faktanya, dalam laporan keuangan semester pertama, Inpex mencatat bahwa depresiasi yen sebesar 6,7% ke level 158,37 per dolar membantu mengimbangi penurunan revenue akibat turunnya volume penjualan minyak mentah. Secara akuntansi, yen lemah memang menguntungkan.
Namun Ueda tetap menyebut level 100 yen per dolar sebagai level yang "appropriate" untuk perekonomian Jepang secara keseluruhan. "If we look at the Japanese economy as a whole, the current exchange rate is perhaps too weak," katanya. Ini adalah perspektif seorang pemimpin bisnis yang berpikir melampaui P&L perusahaannya sendiri — sebuah sinyal bahwa dampak yen lemah terhadap daya beli domestik dan stabilitas ekonomi makro sudah mulai dirasakan secara luas.
Konteks Historis: Yen Masih Jauh dari "Normal"
Meski yen telah menguat cukup signifikan dalam beberapa pekan terakhir, secara historis posisinya masih sangat lemah. Rata-rata 10 tahun yen terhadap dolar berada di kisaran 123 — sementara pada saat artikel ini ditulis, yen masih diperdagangkan di sekitar 156,3 per dolar. Artinya, bahkan setelah rally terbaru, yen masih sekitar 27% lebih lemah dari rata-rata historis satu dekadenya.
Takeshi Hashimoto, Chairman Mitsui O.S.K. Lines — operator tanker terbesar di dunia yang revenue-nya mayoritas berbasis dolar — menyatakan ia merasa "comfortable" dengan yen di kisaran 150–155. Tapi ia juga mengakui adanya kekhawatiran bahwa yen terlalu lemah bisa menciptakan "confused situation in the financial market". Ini adalah bahasa korporat untuk menyebut risiko volatilitas dan ketidakpastian yang pada akhirnya mengganggu perencanaan bisnis jangka menengah.
Implikasi bagi Kebijakan BOJ dan Pasar
Survei sentimen bisnis kuartalan Bank of Japan (BOJ) yang dirilis Juli lalu menunjukkan bahwa rata-rata asumsi kurs yang digunakan perusahaan-perusahaan Jepang untuk semester kedua tahun ini adalah 152,51 yen per dolar. Angka ini menjadi semacam implicit floor — jika yen menguat jauh melampaui level ini, ada risiko earnings revision negatif di banyak emiten besar Jepang.
Di sisi kebijakan moneter, pasar saat ini mempricing BOJ untuk menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin ke level 1,25% dalam pertemuan kebijakan yang sedang berlangsung. Ekspektasi ini bukan tanpa dasar — sinyal dari BOJ sendiri sudah cukup jelas bahwa mereka ingin menormalisasi kebijakan secara gradual. Yang menjadi pertanyaan adalah seberapa hawkish tone yang akan disampaikan, dan apakah BOJ akan secara implisit mengendorse kenaikan suku bunga pada pace kuartalan ke depannya.
Jika BOJ memang memberikan sinyal hawkish yang kuat, yen berpotensi menguat lebih lanjut — yang secara teoritis sejalan dengan apa yang diinginkan para eksekutif korporasi Jepang ini. Namun bagi investor saham Jepang, khususnya yang exposure-nya besar ke sektor eksportir, penguatan yen yang terlalu cepat bisa menjadi headwind jangka pendek terhadap earnings.
Yang menarik dari keseluruhan dinamika ini adalah bahwa tekanan untuk penguatan yen kini datang bukan hanya dari konsumen atau pemerintah, tapi dari internal korporasi Jepang sendiri. Ketika eksekutif perusahaan yang selama ini diuntungkan kurs lemah mulai berbicara tentang perlunya yen yang lebih kuat dan stabil, itu adalah sinyal bahwa distorsi akibat yen ultra-lemah sudah melampaui titik di mana manfaatnya sepadan dengan biayanya — baik untuk bisnis, maupun untuk ekonomi Jepang secara agregat.