Saat obligasi AS dan Eropa tertekan, local-currency EM bonds justru naik 3,6%. BlackRock dan bank investasi besar AS sudah ambil posisi. Ini alasannya.
Di tengah sell-off obligasi pemerintah negara maju yang belum mereda, ada satu kelas aset yang justru mencetak return positif: local-currency emerging-market bonds. Sepanjang tahun berjalan, instrumen ini naik 3,6% — sementara US Treasuries dan obligasi Eropa masing-masing turun 0,6%. Bukan selisih yang kecil untuk kelas aset fixed income.
Tekanan di sisi negara maju datang dari dua arah sekaligus: inflasi yang kembali dikhawatirkan — sebagian didorong harga energi — dan kekhawatiran fiskal yang menghidupkan kembali narasi higher for longer. Kombinasi ini membuat yield obligasi pemerintah AS, Eropa, bahkan Jepang, bergerak naik dan harganya tertekan.
Pasar berkembang justru berada di posisi yang berbeda secara struktural. Rata-rata inflasi di EM saat ini ada di 3,8% — sekitar sepertiga dari level pada saat shock 2022. Bank sentral di emerging markets sudah lebih dulu menaikkan suku bunga agresif, sehingga posisi kebijakan moneter mereka sudah restriktif sejak lama. Hasilnya: real interest rates di EM relatif tinggi, dan pembuat kebijakan punya ruang sekitar satu poin persentase lebih untuk menyerap tekanan harga dibanding empat tahun lalu — sebuah cushion yang tidak dimiliki Fed atau ECB dalam kapasitas yang sama.
Di sisi mata uang, momentum juga mendukung. Indeks mata uang MSCI EM mencetak rekor tertinggi baru setelah naik 11 minggu berturut-turut — rally terpanjang sejak 2007. Penguatan mata uang lokal ini langsung memperbesar total return bagi investor asing yang masuk ke EM bonds.
BlackRock dan bank investasi besar AS Asset Management sudah mengambil posisi di sini. Logikanya sederhana: ketika obligasi global jual-jual, spread dan yield EM ikut bergerak — tapi fundamentalnya tidak seburuk yang di-price-in pasar. Ini yang disebut sebagai relative opportunity: bukan karena EM sempurna, tapi karena negara maju sedang punya masalah yang lebih besar.
Yang menarik adalah pergeseran narasi ini. Selama bertahun-tahun, EM bonds selalu diperlakukan sebagai aset yang pertama dibuang saat risk-off. Tapi siklus ini berbeda — justru ketika volatilitas di developed markets meningkat, EM menjadi income diversifier yang lebih menarik karena posisi fiskal dan moneter yang lebih solid di sejumlah negara berkembang.
Tentu ada risiko yang tidak bisa diabaikan: gejolak geopolitik, pergerakan dolar, dan eksposur komoditas tetap menjadi variabel yang bisa membalik tren ini cepat. Tapi untuk saat ini, angka-angkanya bicara sendiri.