LIVE
USD/IDR…· UST10Y…· KURVA 10Y-2Y…· EMAS…· EMAS/gr…· PERAK…· TEMBAGA…· EUR/USD…· USD/JPY…· USD/CNY…· BTC…· ETH…·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

EM Equities Kembali Overweight: AI Scarcity Jadi Kunci

Ada angka yang cukup mencolok di pasar saat ini: 12-month forward EPS growth untuk MSCI Emerging Markets diproyeksikan mencapai 34,2% — hampir dua kali lipat proyeksi MSCI USA yang ada di angka 20,3%. Tapi di sisi lain, EM equities diperdagangkan hanya di 10x forward P/E, sementara U.S. equities sudah di 19,9x. Diskon 50% itu bukan angka kecil — dan secara historis, valuasi EM saat ini berada di bottom 10% dari 20 tahun terakhir.

Bayangkan ada dua toko yang menjual produk serupa. Toko A tumbuh 34% per tahun, toko B tumbuh 20%. Tapi harga toko A cuma separuh dari toko B. Secara logika sederhana, itu adalah setup yang menarik — dan itulah yang sedang terjadi di pasar EM equities sekarang.

Konteks makronya memang tidak ideal. Brent crude sudah menembus $100 per barel untuk pertama kalinya sejak Juli, dipicu oleh eskalasi konflik AS-Iran yang juga membuat Selat Hormuz tertekan. Long-term bond yields global masih bertengger di level tertinggi dalam beberapa dekade. Fed, BoE, dan BoJ semuanya sedang dalam sorotan terkait arah kebijakan suku bunga. Namun yang menarik: di tengah semua tekanan itu, ekuitas global — termasuk EM — tetap mendekati level record high.

Ini bukan kontradiksi. Higher yields yang didorong oleh pertumbuhan investasi dan ekonomi yang kuat — bukan oleh kepanikan fiskal — bisa berjalan beriringan dengan earnings yang solid. Cost of capital naik, tapi earnings power juga ikut naik. Itulah mengapa stance pro-risk masih bisa dipertahankan secara rasional.

Soal kenapa EM kembali masuk ke posisi overweight setelah sempat diturunkan di pertengahan tahun — ada cerita menarik di baliknya. Sebelumnya, kekhawatiran soal leverage, khususnya di Korea, membuat posisi EM diturunkan. Korean equities kemudian memang mengalami koreksi, dan proses deleveraging di musim panas telah membersihkan tekanan itu. Backdrop taktis sekarang jauh lebih bersih.

Yang juga penting dipahami: rally EM bukan monolitik. Ada beberapa thread yang berbeda:

  • Korea dan Taiwan — jantung dari supply chain semikonduktor, memori, dan hardware. Ini adalah ekspresi langsung dari tema AI scarcity.
  • Amerika Latin (termasuk Brazil) — exposure ke komoditas dan infrastruktur fisik yang dibutuhkan untuk membangun ekosistem AI: energi, logam, data center.

Keduanya adalah cara berbeda untuk bermain di tema yang sama: kelangkaan sumber daya yang dibutuhkan oleh boom AI global. Ini juga yang membuat EM overweight secara sengaja overlap dengan U.S. equity overweight — keduanya sama-sama mengincar bottleneck dari AI buildout.

Tapi ada caveat penting. Seiring AI models menjadi lebih murah dan lebih terkommoditisasi, distribusi profit bisa bergeser. Siapa yang menang hari ini belum tentu menang dua tahun ke depan. Oleh karena itu, pendekatan selective dan dynamic lebih masuk akal ketimbang sekadar beli indeks EM dan ditinggal.

Dari sisi fixed income, posisi yang menarik ada di EM local currency debt (overweight) — yield relatif terhadap volatilitasnya cukup kompetitif, dan fundamentalnya membaik. Sebaliknya, long-duration bonds — baik U.S. Treasuries maupun Japanese government bonds — tetap di posisi underweight karena kombinasi inflasi persisten, term premium yang berpotensi naik, dan beban fiskal yang besar.

Dua risiko yang perlu dimonitor: pertama, jika tekanan energi dari Selat Hormuz berlanjut dan mendorong inflasi tetap tinggi, Fed akan dihadapkan pada pilihan sulit — hold di tengah inflasi sticky bisa menggerus kredibilitasnya, dan pasar bisa merespons dengan mendorong long-end yields lebih tinggi. Kedua, dollar AS yang melemah bisa jadi tailwind tambahan untuk EM — tapi tesis ini tidak bergantung pada skenario itu. Kalau dollar melemah, itu bonus. Kalau tidak, fundamental EM tetap cukup kuat untuk berdiri sendiri.