Harga emas hampir $3.000 lebih tinggi dari 2022, tapi aktivitas pengeboran global justru di titik terendah historis. Apa artinya bagi supply logam ke depan?
Ada sesuatu yang tidak beres di sektor pertambangan global — dan justru di sinilah peluang terbesar tersembunyi.
Harga emas saat ini hampir $3.000 per ounce lebih tinggi dibandingkan level 2022. Secara logika sederhana, harga komoditas yang melonjak seharusnya memicu gelombang eksplorasi baru. Perusahaan tambang buru-buru mengebor, memperluas cadangan, mempersiapkan produksi berikutnya. Tapi yang terjadi justru sebaliknya.
Aktivitas pengeboran global — diukur dari jumlah proyek yang aktif dieksekusi per kuartal — mencapai puncaknya di kisaran 850–870 proyek pada pertengahan 2022, lalu turun tajam. Pada pertengahan 2024, angkanya menyentuh sekitar 450–500 proyek, mendekati level terendah dibandingkan periode 2019–2020. Hingga awal 2025, pemulihan yang terjadi pun masih terbatas, hanya di kisaran 500–600 proyek.
Divergensi ini bukan anomali kecil. Ini adalah sinyal struktural yang punya implikasi serius terhadap supply logam global dalam beberapa tahun ke depan.
Masalahnya berlapis. Ore grades — kualitas bijih yang ditambang — terus memburuk. Cadangan yang ada semakin terdeplesi. Di atas itu semua, exploration budgets di banyak perusahaan justru masih dalam tren pemotongan. Artinya, pipeline proyek baru yang seharusnya mulai diisi sekarang, nyaris kosong.
Tambang bukan pabrik yang bisa dinyalakan dalam semalam. Dari tahap eksplorasi hingga produksi komersial, siklusnya bisa memakan waktu 7–15 tahun. Jika pengeboran tidak terjadi hari ini, tidak ada supply response yang bisa diandalkan dalam jangka menengah — tidak peduli seberapa tinggi harga emas, tembaga, nikel, atau logam lainnya saat itu.
Dan di sisi demand, tekanan justru semakin besar. Transisi energi, elektrifikasi kendaraan, infrastruktur grid — semuanya membutuhkan logam dalam volume yang terus meningkat. Copper, nickel, PGM, silver — semua masuk dalam daftar komoditas yang permintaan strukturalnya sedang berakselerasi, bukan melambat.
Kombinasi ini — supply yang stagnan karena eksplorasi yang tertekan, berhadapan dengan demand yang terus tumbuh — adalah setup klasik untuk repricing komoditas logam secara signifikan. Bukan dalam hitungan minggu, tapi dalam horizon beberapa tahun ke depan.
Bagi investor, ini bukan sekadar cerita tentang emas. Ini tentang seluruh sektor metals and mining yang secara siklus sedang berada di titik yang menarik — justru karena sentimen dan aktivitas eksplorasi masih lesu, sementara fundamental jangka panjangnya semakin solid.