LIVE
USD/IDR· UST10Y· KURVA 10Y-2Y· EMAS· EMAS/gr· PERAK· TEMBAGA· EUR/USD· USD/JPY· USD/CNY· BTC· ETH·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

Emas Geser Euro dan Treasuries di Cadangan Bank Sentral

Emas kini melampaui euro, Treasuries, dan seluruh aset sovereign dalam cadangan devisa bank sentral global. Apa artinya bagi pasar?


Emas baru saja mencapai tonggak yang tidak bisa diabaikan begitu saja: logam mulia ini telah melampaui euro, US Treasuries, dan setiap aset sovereign lainnya dalam komposisi cadangan devisa bank sentral global. Pergeseran ini bukan sekadar rotasi aset biasa — ini adalah sinyal struktural bahwa kepercayaan terhadap sistem moneter berbasis fiat sedang mengalami erosi yang nyata dan terukur.

Fenomena yang kini disebut sebagai de-fiatization ini mencerminkan perubahan mendasar dalam cara bank sentral memandang risiko. Selama beberapa dekade, US Treasuries menjadi instrumen cadangan devisa paling dominan karena dianggap sebagai risk-free asset par excellence. Euro menyusul sebagai alternatif diversifikasi. Namun ketika sanksi finansial terhadap Rusia pada 2022 membekukan cadangan devisa negara tersebut yang tersimpan dalam bentuk aset Barat, banyak bank sentral — terutama di emerging markets — mulai mempertanyakan ulang asumsi dasar itu: apakah aset yang bisa dibekukan benar-benar bebas risiko?

Implikasinya meluas ke berbagai kelas aset. Bagi pasar obligasi, meningkatnya preferensi emas atas Treasuries dalam cadangan resmi berarti permintaan marginal terhadap surat utang AS dari sektor bank sentral berpotensi melemah secara struktural — sebuah tekanan tambahan di tengah kekhawatiran fiskal jangka panjang Amerika Serikat. Bagi dolar AS, de-dollarisasi cadangan devisa berjalan lambat tapi konsisten, dan dominasi emas yang kini melampaui seluruh aset sovereign memperkuat narasi bahwa greenback perlahan kehilangan monopolinya sebagai store of value pilihan institusi. Bagi pasar saham, lingkungan di mana bank sentral secara aktif mengakumulasi emas biasanya berkorelasi dengan preferensi terhadap aset nyata — menguntungkan sektor komoditas, pertambangan emas, dan saham-saham dengan eksposur terhadap hard assets.

Untuk Indonesia dan pasar berkembang lainnya, tren ini membawa dua sisi yang berbeda. Di satu sisi, penguatan posisi emas sebagai cadangan devisa global memberikan dukungan struktural terhadap harga komoditas, yang secara historis menguntungkan eksportir sumber daya alam. Di sisi lain, jika de-fiatization berlanjut dalam konteks risk-off yang lebih luas, aliran modal asing ke emerging market bisa tertekan karena investor institusional global cenderung memilih aset yang dianggap lebih aman dalam periode ketidakpastian tinggi.

Jika tren akumulasi emas oleh bank sentral terus berlanjut dengan momentum yang sama, maka tekanan terhadap Treasuries akan semakin nyata dan bisa mendorong yield lebih tinggi dalam jangka menengah — yang pada gilirannya memperkuat argumen bahwa era financial repression melalui suku bunga rendah sudah berakhir. Sebaliknya, jika ketegangan geopolitik mereda dan kepercayaan terhadap sistem keuangan Barat pulih, sebagian bank sentral mungkin kembali menambah eksposur ke aset sovereign tradisional, yang akan memperlambat — meski tidak membalikkan — pergeseran struktural ini.

Yang perlu dipantau ke depan adalah kecepatan pergeseran komposisi cadangan devisa di bank sentral Asia dan Timur Tengah, arah kebijakan fiskal AS yang akan menentukan daya tarik Treasuries, serta apakah emas mampu mempertahankan posisinya sebagai aset cadangan teratas ketika siklus suku bunga global berubah arah.