LIVE
BTC· ETH· BNB· SOL· XRP· ADA· DOGE· USD/IDR· EUR/USD· USD/JPY· USD/SGD·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

Emerging Markets Memimpin Pasar Global 2026

EM ETF naik 14% YTD, Korea 40% YTD. Bagaimana rally emerging markets 2026 berdampak ke IHSG dan investor saham Indonesia?


Ada pergeseran besar yang sedang terjadi di pasar modal global tahun 2026 — dan investor Indonesia perlu memahami strukturnya, bukan sekadar headline-nya. Emerging markets secara kolektif sedang outperform pasar saham Amerika Serikat untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir, dan ini bukan sekadar rotasi sektoral biasa. Ini adalah allocation shift yang melibatkan triliunan dolar dana institusional global.

Angka yang Bicara Sendiri

iShares MSCI Emerging Markets ETF — salah satu barometer paling representatif untuk kelas aset ini — mencatat rekor tertinggi baru dengan kenaikan 14% year-to-date (YTD) di 2026. Angka ini secara signifikan melampaui performa S&P 500 maupun Nasdaq 100 dalam periode yang sama. Tapi yang benar-benar mencuri perhatian adalah Korea Selatan.

Indeks benchmark Korea Selatan naik 40% YTD di 2026, setelah sebelumnya sudah melonjak 75% sepanjang 2025. Secara kumulatif, ini adalah salah satu performa pasar saham single-country terbaik dalam sejarah modern — dan bukan tanpa alasan fundamental yang kuat di baliknya.

AI Supply Chain: Katalis Struktural EM Rally

Salah satu narasi terpenting yang sering terlewat dalam analisa saham konvensional adalah bahwa EM bukan hanya tentang komoditas dan manufaktur murah lagi. Di 2025–2026, emerging markets adalah tulang punggung dari infrastruktur AI global.

Beberapa nama besar yang masuk dalam komposisi indeks EM sekaligus menjadi pemain kunci AI supply chain global:

  • TSMC — fabrikasi chip terbesar di dunia, tanpa TSMC tidak ada GPU Nvidia, tidak ada Apple Silicon
  • Samsung Electronics dan SK Hynix — duopoli memory chip (HBM) yang menjadi komponen kritis untuk AI training cluster
  • Hon Hai/Foxconn — manufaktur server AI dan perakitan hardware skala masif
  • Alibaba dan Tencent — cloud computing dan AI infrastructure di ekosistem Asia

Ketika demand AI computing power terus meningkat secara eksponensial, capital mengalir ke perusahaan-perusahaan ini — dan secara otomatis mengangkat bobot EM dalam portofolio global. Korea Selatan menjadi penerima manfaat terbesar karena konsentrasi Samsung dan SK Hynix dalam indeksnya.

Kenapa "Sell America" Kembali Relevan?

Narasi U.S. exceptionalism — keyakinan bahwa pasar saham AS selalu layak premium valuasi karena pertumbuhan superior — mulai retak di 2025 dan semakin tergerus di 2026. Ada beberapa mekanisme yang perlu dipahami:

1. Valuasi AS yang Sudah Sangat Mahal

Konsentrasi ekstrem di Magnificent 7 (Apple, Microsoft, Nvidia, Alphabet, Amazon, Meta, Tesla) membuat S&P 500 memiliki valuasi agregat yang sulit dibenarkan secara historis. Ketika satu atau dua saham dalam kelompok ini mengecewakan, seluruh indeks terdampak — ini adalah risiko konsentrasi yang semakin banyak disadari investor institusional global.

2. Dolar yang Melemah

Pelemahan dolar AS memiliki efek berlipat ganda bagi EM. Pertama, EM sovereign debt yang sebagian besar berdenominasi dolar menjadi lebih murah untuk dilayani — beban bunga dan pokok utang secara riil berkurang. Kedua, return investasi di EM dalam denominasi dolar otomatis meningkat ketika dolar melemah, bahkan tanpa perubahan harga aset lokal. Ini menciptakan insentif ganda bagi investor asing untuk masuk ke EM.

3. Ketidakpastian Kebijakan Fiskal dan Tarif AS

Putusan Supreme Court AS yang menolak tarif Trump menjadi katalis bullish terbaru untuk EM. Namun lebih dari sekadar satu putusan hukum, ketidakpastian kebijakan yang berkepanjangan di bawah administrasi Trump mendorong sebagian investor institusional besar untuk melakukan diversifikasi portofolio mereka keluar dari aset AS. Ini bukan kepanikan — ini adalah strategic reallocation yang terencana.

4. Rate Cut Expectation dan Capital Inflow

Ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed — meski jadwalnya masih diperdebatkan — secara historis menjadi sinyal kuat untuk capital inflow ke EM. Ketika yield obligasi AS turun, investor mencari return lebih tinggi di tempat lain. EM sovereign bonds dan currency ETFs sudah mencatat strong inflows sepanjang tahun ini, mengkonfirmasi bahwa tren ini bukan sekadar spekulasi jangka pendek.

Posisi IHSG dalam Peta EM Global

Pertanyaan yang paling relevan untuk investor dan trader saham Indonesia adalah: di mana posisi IHSG dalam rally EM ini?

Indonesia memiliki profil yang berbeda dari Korea Selatan atau Taiwan dalam konteks AI supply chain. IHSG tidak memiliki eksposur langsung ke semiconductor atau hardware AI. Namun Indonesia memiliki keunggulan komparatif yang tetap relevan dalam siklus global ini:

  • Komoditas — Nikel, batu bara, dan CPO tetap menjadi backbone ekspor Indonesia. Dalam skenario dolar lemah, harga komoditas dalam denominasi dolar cenderung terdukung, yang menguntungkan emiten komoditas di IHSG.
  • Konsumsi domestik — Dengan populasi 280 juta dan kelas menengah yang terus berkembang, sektor konsumer Indonesia menawarkan growth story yang independen dari dinamika AI global.
  • Perbankan — Bank-bank besar Indonesia memiliki valuasi yang masih relatif atraktif dibanding peers regional, dengan ROE yang kompetitif.

Yang menjadi tantangan adalah bahwa dalam siklus EM rally yang didominasi AI supply chain, investor global cenderung mengalokasikan lebih banyak ke Taiwan dan Korea terlebih dahulu. Indonesia mendapat spillover, bukan aliran utama. Data inflow ke pasar modal Indonesia perlu diamati secara cermat untuk melihat apakah momentum EM global benar-benar tertransmisi ke IHSG secara bermakna.

Konteks Geopolitik: Iran dan Batas Risiko

Konflik yang melibatkan Iran masih berlanjut, namun pasar global saat ini sedang pricing in skenario bahwa eskalasi ke perang skala penuh tidak akan terjadi. Selama asumsi ini bertahan, risiko geopolitik tidak cukup kuat untuk membalikkan momentum EM rally. Namun ini adalah variabel yang bisa berubah cepat — dan perubahan asumsi pasar soal skala konflik bisa menjadi sumber volatilitas mendadak, termasuk bagi IHSG melalui kanal harga minyak dan risk appetite global.

Yang menarik dari dinamika 2026 ini adalah bahwa untuk pertama kalinya dalam beberapa siklus terakhir, investasi di luar AS bukan lagi sekadar defensive move — melainkan offensive positioning. Emerging markets, dengan segala kompleksitas dan risikonya, sedang menjadi tempat di mana alpha global dihasilkan. Bagi investor yang memahami strukturnya, ini adalah lanskap yang layak untuk dianalisa lebih dalam dari sekadar melihat pergerakan IHSG harian.