LIVE
USD/IDR…· UST10Y…· KURVA 10Y-2Y…· EMAS…· EMAS/gr…· PERAK…· TEMBAGA…· EUR/USD…· USD/JPY…· USD/CNY…· BTC…· ETH…·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

ERAA Anjlok 9% di 2Q26: Jebakan Angka atau Peluang?

Pasar panik melihat laba ERAA turun di 2Q26. Padahal ada ilusi high base effect, lonjakan ASP, dan mesin baru Erablue yang dihargai nyaris nol.


Laba bersih ERAA di kuartal kedua 2026 turun 9,3% YoY menjadi Rp331 miliar, diiringi same-store sales growth (SSSG) yang terkontraksi -15,1%. Reaksi pasar yang reaktif cenderung menganggap daya beli ponsel rontok. Padahal, penurunan ini murni akibat high base effect ekstrem dari siklus peluncuran seri iPhone baru pada periode yang sama tahun lalu yang sempat mengerek SSSG hingga +31,5%.

  • Laba 1H26 tetap solid: Akumulasi laba bersih semester pertama tumbuh 38,0% YoY mencapai Rp784 miliar, ditopang kenaikan average selling price (ASP) ponsel sebesar 10,1% menjadi Rp6,06 juta per unit.
  • Konsolidasi penuh Erablue: Pendapatan Erablue melesat 89% YoY dengan SSSG 15,9% dan mulai terkonsolidasi penuh ke laporan laba rugi per paruh kedua 2026.
  • Valuasi diskon dengan buyback: Saham diperdagangkan di level 6,3x forward P/E, sementara perseroan menyiapkan share buyback hingga Rp500 miliar atau setara 8,8% saham beredar.

Secara operasional, volume ponsel ERAA di paruh pertama masih tumbuh 6,0% YoY menjadi 5,35 juta unit. Isu utamanya ada pada kelangkaan pasokan chip memori global yang membatasi suplai barang, bukan permintaan konsumen yang hilang. Tren normalisasi sudah terlihat dari SSSG Juli yang membaik ke -8,6% dibanding -11,6% di Juni, tepat sebelum siklus produk baru bergulir di 4Q26.

Peluang mispricing terbesar terletak pada cara pasar menilai ERAA: sekadar distributor handset. Erablue kini memiliki 283 gerai dan belum menyentuh pasar Jawa Timur dalam perjalanannya menuju target 500 toko pada 2027. Selain itu, penetrasi lini kendaraan listrik lewat XPENG membukukan penjualan 1.682 unit hingga Juli 2026, melampaui volume bulanan kompetitor utamanya.

Ekspansi gerai ini terbukti efisien berkat operating leverage yang disiplin. Rasio beban operasional terhadap penjualan turun ke 7,8% dari sebelumnya 8,1%, ROIC naik dari 9,64% ke 12,67%, dan gearing terpangkas separuh menjadi 0,44x.

Di valuasi 6,3x P/E, pasar pada dasarnya hanya membayar bisnis ponsel tradisional dan mendapatkan lini Erablue, XPENG, serta ritel gaya hidup secara cuma-cuma. Kunci pembuktian tesis ini ada pada kemampuan konsolidasi Erablue dalam mendongkrak gross profit margin grup melewati batas resistensi 11,2% di paruh kedua.