LIVE
BTC· ETH· BNB· SOL· XRP· ADA· DOGE· USD/IDR· EUR/USD· USD/JPY· USD/SGD·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

ERAA Bangun Mesin Baru, Valuasi Masih Murah?

Erajaya Swasembada (ERAA) bukan lagi sekadar distributor dan retailer smartphone. Perusahaan ini sedang dalam proses transformasi serius — membangun beberapa growth engine baru secara bersamaan, dan hasilnya mulai kelihatan.

Yang paling menarik perhatian adalah Erablue, segmen home appliance dan consumer electronics ERAA. Dalam 7 bulan pertama FY2026, Erablue mencatat SSSG 15,9% — angka yang solid untuk segmen ritel fisik di tengah environment yang tidak mudah. Revenue tumbuh 89% yoy di 1H26, dan jaringan tokonya sudah mencapai 283 gerai per Juli dengan 102 toko baru yang dibuka year-to-date. Ekspansi ini bukan sekadar membuka toko; SSSG yang kuat menunjukkan bahwa store yang sudah ada pun terus tumbuh, bukan hanya diencerkan oleh unit baru.

Di sisi lain, Sinar Eka Selaras (ERAL) — entitas di bawah ekosistem ERAA yang fokus pada lifestyle brands — juga mencatat SSSG 7,7% di 7M26, ditopang oleh Urban Republic, DJI, dan JD Sports. Masuknya Levi's sebagai brand baru memberi ruang ekspansi lebih lanjut ke segmen fashion premium.

Tapi mungkin yang paling mengejutkan adalah traksi XPENG. Dalam kurang dari setahun masuk pasar Indonesia, XPENG sudah membukukan 1.682 unit di 7M26 — dan monthly sales-nya sudah melampaui BYD. Ini bukan angka kecil. Model baru seperti Mona L03 yang menyasar segmen harga lebih rendah berpotensi memperluas addressable market secara signifikan di 2027. Keberhasilan ERAA meng-scale up XPENG dalam waktu singkat adalah bukti bahwa kemampuan distribusi dan retail mereka bisa diaplikasikan ke kategori produk apapun, bukan hanya gadget.

Belum lagi pipeline F&B seperti Oriental Kopi dan I'm Donut — yang memang masih sangat awal, tapi menunjukkan bahwa manajemen terus mencari optionality baru di luar electronics.

Untuk bisnis inti smartphone, kondisinya memang sedang dalam fase normalisasi. SSSG Juli tercatat -8,6% yoy, sedikit membaik dari -11,6% di Juni. Manajemen memproyeksikan Agustus-September masih moderat, namun product cycle di Q4 — terutama dari Apple dan Samsung — diharapkan menjadi katalis. Ada risiko keterbatasan supply iPhone 18 akibat global memory shortage, tapi ini lebih ke timing issue ketimbang demand destruction. Deferred purchases biasanya berbalik cukup cepat begitu supply membaik.

Dari sisi capital allocation, ERAA baru saja menyelesaikan program buyback Rp100 miliar (Jun–Sep 2026, akumulasi 236,3 juta saham) dan langsung meluncurkan program baru senilai hingga Rp500 miliar yang berlaku hingga Desember 2026 — dengan potensi repurchase hingga 797,5 juta saham atau sekitar 5% dari total outstanding. Program ini didanai dari internal cash, yang berarti manajemen cukup confident terhadap posisi likuiditas mereka.

Secara valuasi, ERAA saat ini diperdagangkan di sekitar 6,9x PE 2026F dan 6,0x PE 2027F. Dengan net profit yang diproyeksikan tumbuh ~15% per tahun hingga 2028, dan EV/EBITDA 2027F di 4,5x, saham ini terlihat belum mahal — terutama jika kontribusi dari Erablue, XPENG, dan new concepts mulai masuk ke dalam earnings secara lebih signifikan. Target price Rp800 mengimplikasikan upside sekitar 34% dari harga saat ini, dengan basis valuasi 7,9x PE 2027F yang masih dalam kisaran historis wajar.

Downside risk yang perlu diperhatikan: perlambatan makroekonomi yang lebih dalam dari ekspektasi dan potensi perubahan regulasi — terutama terkait impor dan distribusi produk elektronik atau kendaraan listrik.